2016 · Ayah · Elly Risman · From Group Elly Risman and Family · Parenting

Ayah #1 – Ikut Campurlah Memilih Jodoh Anakmu by Elly Risman

Perempuan muda cantik dan menarik itu duduk di depan saya dengan ekspresi wajah yang hampa. Dia datang untuk berkonsultasi persoalan anaknya yang terpapar pornografi. Tetapi ternyata bukan anaknya saja yang bermasalah, perkawinannya sejuta kali lebih bermasalah.

Sudah tak terhitung berapa banyak saya menghadapi klien yang datang dengan berbagai macam masalah terutama mereka yang sekarang ini menghadapi kerumitan hidup karena anak anak mereka kecanduan games, pornografi, masturbasi dan berbagai bentuk kegiatan yang bisa digolongkan sebagai seks suka sama suka. Ternyata sebagian besar punya masalah dalam perkawinannya.

Bayangkanlah, bagaimana kita akan menolong anaknya, kalau orang tua nya juga bermasalah! Umumnya tak perlu pembicaraan yang panjang, untuk saya menemukan bahwa salah satu akar permasalahannya adalah : ” Keliru Memilih Jodoh !

Jadi, apakah ayahmu tahu latar belakang calon suamimu seperti ini?

Nggak bu atau mereka menggelengkan kepala sambil berurai air mata.

Beliau tidak bertanya apapun? Tanya saya selanjutnya.

Nanya sih bu, cuma bilangnya begini : Kamu sungguh sudah serius? Sudah dipikirin masak masak?

Atau ada juga orang tua atau ayah yang memanggil calon menantu dan hanya menanyakan keseriusannya terhadap anak gadisnya, lalu pekerjaan : sudah bekerja belum, rencana kedepan bagaimana?

Tidak sedikit kasus yang ayahnya tidak bertanya apa apa, tapi langsung menindaklanjuti saja dengan pertemuan keluarga, melamar, pernikahan dan resepsinya – selesai.

Tentu, hal ini terjadi bukan saja pada anak perempuan tetapi juga pada anak laki laki. Tapi mengapa dialog dengan anak perempuan yang saya singgung di atas? Karena secara agama dan budaya, anak perempuan harus dilindungi bukan saja oleh ayahnya tapi juga oleh paman nya dan saudara lelakinya.

Karena sikap orang tua demikian, maka diluar sepengetahuan mereka, anak anak ini baik lelaki maupun perempuan sudah mengalami banyak sekali masalah dalam hubungan mereka jauh sebelum pernikahan berlangsung.

Banyak sekali ayah yang tidak sadar bahwa tidak terlibatnya mereka dalam menentukan pilihan jodoh anak anaknya berakibat sampai ke cucu, seperti kasus kasus di atas. Mendampingi anak memilih jodohnya tentunya tidak bisa dilakukan hanya pada saat kita menanyakan kapan mereka mau menikah atau ketika anak mengajukan calon nya, tapi harus jauh sebelum itu.

Sebagai contoh teringat saya tentang kisah salah seorang staf saya, laki laki lulusan PT negeri jurusan IT 20 tahun yang lalu, ketika saya dan kawan kawan masih menjalankan bisnis riset pasar. Dia bercerita dan minta saran saya bagaimana dia harus bersikap terhadap permintaan ayahnya pagi itu. Saya bertanya apa yang diminta ayahnya? Lalu dia menceritakan dialog dia dengan ayahnya, kurang lebih seperti berikut : “Kau ini apalagi Tommy, sekolah sudah selesai, pekerjaan sudah dapat. Kumis bukan saja sudah tumbuh bahkan sudah lebat, sudah waktunya bapak pikir kamu cari istri !”

Mencari istri dan suami dimulai kapan?

Jawabannya : Dari anak masuk SD bahkan lebih muda !

Hahh ??! tentu anda terkejut karena memilih jodoh sepatutnya diawali dengan belajar memilih teman karena ini adalah bagian dari proses mengasuh seksualitas anak.

Langkahnya adalah sebagai berikut :

  1. Anak harus mendapatkan kelengketan yang cukup dengan kedua orang tuanya sehingga mereka dapat tumbuh sebagai pribadi yang utuh, kokoh dan bahagia.
  2. Komunikasi yang hangat dan menyenangkan sudah harus dibangun orang tua sejak usia sangat dini. Pembicaraan ringan tentang perkawinan sudah dimulai sejak usia diatas 7 tahun ketika kita menjelaskan pada anak mengapa kita harus terlibat, membantu dan hadir ke undangan pernikahan tante, paman, kerabat, teman atau tetangga. Teringat saya suatu waktu 25 tahun yang lalu, ketika adik bungsu saya yang ikut tinggal bersama kami di Amerika mengadukan tentang ketiga anak saya yang sedang duduk di meja makan dan merundingkan siapa nama anak mereka nanti. ” Ya Allah, anak anak sekarang ya kak, masih TK dan SMP saja sudah membahas nama anaknya, siapa suami aja belum jelas !” ujar nya. Saya jelaskan, apa salahnya? Mereka kan sedang menghayalkan masa depan. Terbukti sekarang, saat mereka sudah punya anak, tidak seorangpun dari anak anak saya teringat nama nama yang mereka bahas di meja makan itu dulu. Dalam komunikasi inilah seiring dengan perjalanan waktu, ayah dan ibu bisa bercerita, mencontohkan tentang karakter lelaki dan perempuan yang baik dan bila perlu menanyakan pada anaknya, perempuan dan lelaki yang bagaimana nanti yang mereka harapkan untuk jadi pendampingnya. Proses yang dipentingkan dalam komunikasi ini adalah membangun kemampuan anak untuk berfikir, memilih dan mengambil keputusan untuk dan atas nama dirinya sendiri. Kalau kita tidak bahas, bukankah mereka juga sudah membicarakan hal ini : soal naksir naksiran di kelas 3-4 SD ? Bagaimana kalau ayah tidak pernah membicarakan semua ini, menggantikan kehadirannya dengan gagdet? Anak punya modal dari mana?
  3. Ketika konsepsi terjadi, kedua orang tualah yang menerima amanah Allah, maka kedua orang tua pula lah yang berkewajiban memperkenalkan Allah, Rasul nya dan semua aturan dalam agama serta penerapannya dalam kehidupan sehari hari.
  4. Orang tua juga terlibat sepenuhnya dalam mempersiapkan anaknya menghadapi pubertasnya. Apa itu pubertas, apa yang terjadi, bagaimana menghadapi dan mengatasi isyu seputar pubertas khususnya : naksir naksiran, nembak, “jatuh cinta”, jalan, pacaran dari sudut pandang agama, biologi bahkan neurosains. Disinilah gentingnya bagi orang tua untuk menegaskan sikap, menentukan aturan, memahamkan anak akan berbagai macam akibat pergaulan yang jauh dari nilai agama. Hal yang tidak bisa dilupakan adalah bagaimana mengajarkan anak untuk membangun kemampuan membuat kriteria memilih teman. Mereka harus mampu merumuskan, mendiskusikan dan dipantau pelaksanaannya. Tentu tidak semua orang tua bisa. Tapi siapa yang mau akan ketemu jalannya bukan? Abainya kebanyakan orang tua dalam hal inilah yang menjadi dasar dari perilaku “liar” anak dan remaja sekarang. Mereka bukan saja tidak punya keterampilan menyeleksi tapi tidak berbekal ilmu yang memadai. Sebagai contohnya, anak anak yang mengalami kecanduan masturbasi tidak tahu tata cara mandi wajib.
  5. Begitu anak baligh, kita harus sudah menjelaskan bahwa apa yang terjadi pada mereka sebenarnya adalah bagian dari proses persiapan untuk menikah, berkeluarga dan memiliki keturunan nantinya. Tanggung jawab dia sebagai seorang yang berdasarkan hukum agama sudah dianggap dewasa harus ketat dikawal pengetrapannya karena anak sudah secara seksual aktif/ ” Sexually active”.
  6. Setelah tahapan ini anak secara perlahan tapi pasti sudah disiapkan untuk menjadi istri, suami, ayah & ibu. Orang tua terutama ayah sudah menggariskan harapan yang realistis bagi masa depan anaknya. Kalau dulu membantu anak membangun kriteria memilih teman, sekarang biarkan mereka dengan arahan ayahnya bereskperimen membangun kriteria memilih calon pasangan hidupnya.
  7. Anak perempuan akan mengalami kerisauan atau kegalauan tentang masa depannya pada usia 20-22. Ortu hendaknya mendampingi anaknya melewati masa krisis tersebut. Otak anak perempuan seperti otak ibunya, lebih kuat sebelah kanan. Mereka mudah berkhayal dan cenderung melihat masa depan secara lebih emosional. Disinilah ayah dengan otak kiri yang lebih dominan untuk mengarahkan anaknya lebih realistis dalam menentukan pilihan. Ketidakhadiran ayah dalam hal inilah yang memungkinkan anak melakukan kesalahan dalam pengambilan keputusan. Bayangkan bila ke 6 hal yang diuraikan diatas, selama ini hampa.
  8. Ayah, bukan saja harus membantu anak perempuannya untuk menemukan fakta tentang masa depan calon menantu, tapi juga sepatutnya menyidik masa lalu nya. Bibit-bebet dan bobotnya. Bukan hanya menanyakan tentang pendidikan formal, tapi bagaimana dia diasuh. Bagaimana hubungannya dengan ayahnya, siapa yang keras dalam pengasuhannya dan apa dampaknya semua itu bagi diri calon menantunya sekarang ini, karena ayah akan “mengikatkan anak gadisnya di tiang rumah keluarga suaminya”.
  9. Terakhir, karena calon menantu ini adalah generasi Y, ayah perlu tahu secara langsung atau melalui gadisnya, sejarah keterlibatan sang calon dengan alkohol, narkoba dan pornografi.

Sahabat baik saya seorang dokter spesialis kulit dan kelamin terkemuka menyarankan sekarang ini hendaknya ayah juga harus meminta kesediaan calon menantunya untuk melakukan pemeriksaan darah dan anus. Anda tentu nya faham dengan semua berita kegawatan yang meresahkan kita sekarang ini. Saran sahabat saya tersebut sangat relevan.

Seandainyalah semua ayah berusaha menjalankan fungsinya seperti diatas, pastilah anak anaknya akan mampu berfikir, memilih dan mengambil keputusan yang tepat dalam memilih calon pasangan hidupnya. Insha Allah tidak akan kita temukan istri istri seperti yang saya gambarkan diatas. Akan selamat dan bahagialah bukan saja anak anaknya tapi Insha Allah juga cucu dan cicitnya. Ayah dan ibu akan jadi kakek dan nenek yang bahagia Insha Allah dunia akhirat.

————————————————————————————————————————–

Ditulis ulang dari posting di Group FB Parenting bersama Elly Risman and Family yang diterbitkan pada 7 Maret 2016.

Iklan

6 tanggapan untuk “Ayah #1 – Ikut Campurlah Memilih Jodoh Anakmu by Elly Risman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s