Ayah #2 – Lahirlah Sebagai Ayah Baru – by Elly Risman

Saya sudah mengenal gadis ini sejak dia masih balita. Dibawa konsul oleh ibunya karena wataknya yang keras dan membantah, maunya –  maunya. Sebenarnya anak ini sangat pintar dan “determined” – kokoh pendirian atau yang biasa disebut orang keras kemauannya. Banyak sekalli orang tua tidak menyadari bahwa anak yang pintar melihat suatu masalah dengan sudut pandang yang berbeda.

Karenanya, tidak sengaja ortu acapkali menyalahkan pendapat anak karena pendapat tersebut tidak lazim. Semakin bertambah usia perilakunya menjadi semakin kompleks. Saya sudah menemukan kunci utamanya sejak awal, anak ini perlu kehangatan dan perhatian ayahnya. Dia menginginkan ayahnya mengajak bicara seperti ayah ayah temannya dan bersedia mendiskusikan pilihan pilihannya.

Ia juga rindu ayahnya menyapa perasaannya. Sayang, semua itu tinggal harapan. Saya sudah mengingatkan pasangan ini kekhawatiran saya akan kemungkinan akibatnya nanti kalau sebelum baligh persoalan ini tidak terselesaikan. Ayahnya mengetest pendapat saya dengan mengatakan : ” Bukannya semua remaja memang suka bertingkah seperti anak saya bu? ”

“Ya benar pak, serupa tapi tak sama. Karena ada perbedaan individual, perbedaan peran orang tua dan tingkat keinginan orang tua untuk mau berubah atau tidak”. Seperti halnya kita dulu pak, masa remaja memang banyak masalah yang timbul dan dirasakan. Tapi satu hal yang bapak dan ibu harus ingat benar, zaman telah berganti. Anak anda hidup di era digital. Rumah anda wifi, TV berbayar, HP canggih di tangan dan games tersedia.

Dampak dari semua itu pak sulit dikendalikandan berpotensi merusak otak. Sementara putri bapak dan ibu sudah ‘berbekal masalah’ sejak kecil, ujar saya tenang dan berusaha meyakinkan mereka. Hari berlalu, minggu berganti bulan, bulan menjadi tahun dan tahun … Hidup tenggelam dalam rutinitas yang mekanistik. Suatu hari hanya ibu itu dan gadisnya yang datang. Pastilah keluhannya meningkat : Anak semakin keras, sulit diajak bekerja sama tidak terima nasihat, apalagi batasan atau larangan.

Dia sekarang raja bagi dirinya, termasuk menentukan jam pulang dan bahkan pergi sudah tak pamit atau berkilah : perginya ke A sebenarnya ke B ! Ibu ini dengan berurai air mata mengisahkan berbagai upaya yang sudah dilakukannya, tapi dia bingung kenapa anaknya sedikit sekali berubah. Lalu, saya tanyakan bagaimana ayahnya. Ibu ini menjelaskan ayahnya semakin sibuk saja, semakin tidak punya waktu dengan anak anaknya bahkan juga dengan dia, istrinya.

Saya menjelaskan kembali, betapa pentingnya peran ayah, karena di zaman seperti ini dibutuhkan pengasuhan berdua/ dual atau co-parenting. Bukankah ibu tidak bisa hamil tanpa bapak, bu? Artinya, bukankah kita berdua yang diberi amanah oleh Allah dengan tanggung jawabnya masing masing?

Sebagaimana istri istri lainnya, ibu ini sebenarnya mengerti semua apa yang saya sampaikan dan menerimanya, tetapi seperti halnya ibu ibu lain juga, ibu ini tetap berupaya keras mengajukan pembelaan pembelaan yang terkesan menunjukkan keterpaksaannya menerima situasi “ketidakhadiran” ayah dalam pengasuhan anaknya karena alasan bekerja dan karir yang dia “kalah kata” dalam mengingatkan suaminya.

Pekan lalu, ibu tersebut menghubungi saya dan mengatakan sungguh suatu bencana telah terjadi dengan gadisnya tersebut, yang anda pasti tahu apa yang saya maksudkan. Saya tetap memberinya dukungan dengan rasa keibuan saya, saran dan pilihan pilihan jalan keluar.

Waktu menunjukkan bahwa bila ayah membiarkan dirinya sejak awal “kalah kata” dengan anaknya dan istri “kalah kata” dengan suaminya, maka mereka bersama akan sampai pada suatu waktu dimana mereka menuai bencana. Apabila sudah dititik nadir seperti ini, kalaupun ayah berubah apa gunanya? Semua sudah kadung, orang tua hanya merasa bersalah. Rasanya ingin memutar kembali perjalanan waktu dan bingung memulainya darimana.

Semakin hari semakin banyak kasus seperti ini kami hadapi. Agar hal ini tidak terjadi pada anda, marilah kita mengingat dan mencoba beberapa hal berikut ini :

  1. Ketika benih mulai tumbuh dalam rahim, kitalah ayah dan ibu yang diberi amanah oleh Allah.
  2. Memang sesungguhnya tanggung jawab ayah bukan hanya menjadi pencari nafkah tapi juga mendidik istri dan anaknya. Ini akan dipertanggungjawabkan ayah di hadapan Pemberi Amanah suatu waktu nanti.
  3. Karena itulah sebagai pendidik, ayah harus punya waktu untuk mengenali orang orang yang akan dididiknya : istri dan anak anaknya. Mengenal manusia tidak mudah dan yang lebih tidak mudah lagi adalah bagi ayah untuk mengenali dirinya sendiri.
  4. Parenting is all about wiring” Parenting cenderung di turun temurunkan tidak sengaja. Karena otak akan membentuk kebiasaan dari pengalaman yang diperoleh seorang anak. Apa yang biasa diterima seorang anak, maka itulah yang akan dilakukannya nanti ketika menjadi orang tua. Anak yang biasa dicubit akan menjadi ibu pencubit. Anak yang biasa dipukul akan menjadi ayah penggampar. Yang dulu dibesarkan dengan pukulan sapu lidi atau ikat pinggang akan mengenakan hal yang sama pada anaknya lepas dari tingginya jenjang pendidikan dan pangkat yang diraihnya. Begitu juga ayah yang dingin, diam, berjarak dan jarang menyapa akan minta dan mengharapkan istrinya menjadi kurir penyampai semua pesan. Kecuali mereka yang bersungguh sungguh berjuang mengalahkan dirinya sendiri UNTUK TIDAK MENGULANG SEJARAH ! Lahir sebagai ayah BARU.
  5. Semua kita tanpa kecuali punya sejarah masing masing : ayah ataupun ibu. Sebagian bahkan memanggul beban sampah emosi yang sangat banyak dan berat yang tertimbun dibawah sadarnya. Tapi kita telah memilih menjadi ayah ibu. Pilihan selalu punya konsekuensi. Dan konsekuensi itulah yang harus kita tanggungkan sekarang ini. Tidak ada jalan lain, atas nama Pemberi Amanah : Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, kita harus berani memutus mata rantai sejarah masa lalu kita. Seperti sebagian kecil ayah diatas, lakukanlah berbagai cara dan upaya, lahirlah sebagai AYAH BARU untuk memanggul beban baru : Ayah di Era Digital ! Bila tak mampu melakukannya sendiri datanglah pada ahlinya.
  6. Seandainya anda berani untuk mencoba karena Allah, besok pagi mulailah menyapa pendek anak anda walau terasa janggal karena tidak biasa. Belajarlah sekarang menebak perasaan anak anda dengan MEMBACA BAHASA TUBUHNYA. Rubahlah perkataan biasa : sudah bangun? Sudah siap belum? Apakah kamu sudah shalat? Tugasmu sudah kau kerjakan belum? GANTILAH dengan kosa kata perasaan yang terdiri dari 4-8 kata baru : ” Kelihatannya sama ayah kau segar pagi ini” “Sepertinya ada yang membebani pikiranmu ya?” “Terkesan sama ayah kayaknya kamu agak sedih?” ” Bersemangat sekali kamu pagi ini, ada apa sih?”
  7. Perubahan tentu tidak mudah, perlu proses. Semua akan menggeliat, untuk kemudian akan terbiasa. Siap menjalani dan mengalami berbagai reaksi dari sebuah proses perubahan. Dalam hatinya anak tentu bertanya : ” Hhh … ayahku bukan ya? ” “Apa yang terjadi pada ayahku ” ” Mimpi apa ya dia semalam?” dan berjuta dugaan lainnya. Tapi dia pasti menjawab dengan hati yang mulai merekah.

Rasakan pelan pelan hasilnya. Mari berjuang mengalahkan diri sendiri. Lahirlah sebagai AYAH BARU menghadapi tantangan baru. Selamat berusaha, selamat berjuang ! Kalau orang lain bisa, Kita pasti bisa !!


Postingan ini dituliskan kembali dari tulisan Ibu Elly Risman yang diterbitkan pada 14 Maret 2016 di Group FB Parenting With Elly Risman and Family.

Iklan

One thought on “Ayah #2 – Lahirlah Sebagai Ayah Baru – by Elly Risman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s