Ayah #3 by Elly Risman

Beberapa ibu yang bertemu saya dikesempatan yang berbeda mengajukan pertanyaan yang sama pada saya ” Bu, kenapa ibu membahas terus tentang ayah akhir akhir ini?” Pertanyaan yang sudah saya duga dan akan banyak lagi ke depan, mungkin juga dari anda.

Ceritanya panjaaaaang. Diawal awal tahun pertama YKBH kami hanya bekerja sama dengan para ibu. Ibu ibu yang dulu anak mereka masih di TK atau SD, sekarang sudah kuliah bahkan sudah menjadi ibu dan ayah pula. Begitulah panjangnya waktu terentang, yang tidak sanggup menceritakan betapa sulitnya melibatkan ayah pada pengasuhan.

Tidak pernah ada ayah dalam pelatihan. Bila ada 5-10 orang ayah tampak oleh saya duduk dalam seminar saya, maka saya akan meminta ratusan ibu yang menjadi peserta untuk bertepuk tangan untuk menghargai kehadiran mereka. Saya memanggil ayah tersebut sebagai “ayah hebat”, lepas mereka datang dengan ikhlas ataukah “dipaksa atau diseret istrinya”.

Ayah ayah selalu ada dalam hati dan pikiran saya, bahkan dalam doa doa saya. Saya bermunajat agar Allah membuat hati ayah ayah Indonesia menjadi lembut dan fikirannya terbuka untuk menyadari peran dan tanggung jawabnya sebagai ayah, manusia pertama yang dianugerahi Allah amanah untuk melanjutkan kemanusiaan di muka bumi ini. Saya sangat bersungguh sungguh dan berjanji pada diri saya sendiri, suatu waktu sebelum saya menutup mata untuk selamanya saya sudah melihat tanda tanda keterlibatan ayah akan meningkat dalam mengasuh dan membesarkan anak anak mereka dengan cinta dan ketakutan pada Allah.

Kami lakukan berbagai riset, langsung ataupun berupa studi kepustakaan yang menghasilkan pengertian dan pemahaman kami tentang pentingnya peran ayah dari segi agama, psikologi, budaya bahkan dari sudut neuroscience. Kajian ini telah membantu kami untuk merumuskan berbagai cara dan taktik yang kami sosialisasikan pada ibu ibu pecinta parenting, bagaimana mereka harus berjuang untuk melibatkan ayah dalam pengasuhan.

Seiring dengan itu, berbagai upaya dilakukan oleh antara lain Bapak Haryadi Takariawan, Ayah Edi, Abah Ihsan dan kemudian bermunculan tokoh muda ke “ayah” an seperti ayah Irwan, Ustad Bendri dan berbagai nama lain yang tidak disebutkan satu persatu disini.

Bukan karena saya, tapi kini ada kajian ayah yang diselenggarakan oleh yang terhormat Ustadz Bakhtiar Nasir setiap bulan khusus hanya untuk dan calon ayah di AQL center yang beliau dirikan. Ada Father Forum yang digagas ayah ayah muda dari ITB Bandung, ayah Pendidik dan terakhir yang sangat menyentuh hati adalah kelompok Daddy – cation yang dimotori suami suami dari kelompok ibu ibu muda pecinta parenting : “Supermom” . Alhamdulillah !

Jadi, untuk ibu ibu yang sudah  mengajukan pertanyaan dan juga mungkin masih menyimpannya dalam hati, sekarang mengerti mengapa untuk beberapa bulan ke depan, kita masih akan membahas  seputar keayahan di FB ini, walaupun ini hanya merupakan kerikil dalam bangunan keterampilan menjadi ayah di negeri ini.

Pembahasan ini bukan berarti “menidakkan” banyaknya ayah ayah baik dan hebat di luar sana, tetapi kajian kami menunjukkan adanya pengikisan yang terjadi dari perjalanan waktu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap peran dan kemampuan seseorang untuk menjadi orang tua khususnya menjadi ayah.

Bagi saya dan adik adik saya, ayah dan ibu kami adalah model yang sangat kuat bukan saja dalam membentuk saya sebagai manusia, kakak, istri, ibu dan nenek tapi juga sumber ilham mengapa kegiatan parenting ini saya pilih untuk ditekuni di akhir usia saya. Seperti hal nya orang lain juga, bagi saya mengingatknya kedua orang tua saya saja telah membuat air mata saya berderai derai.

Ayah, sebagaimana dicontohkan dalam Al Qur’an telah memerankan hal yang luar biasa bagi saya, antara lain dalam mereparasi harga diri saya. Di luar apa yang anda lihat sekarang ini, saya yang kecil dulu adalah anak yang penyedih dan rendah dan tidak percaya diri karena saya hitam, kurus dan asmatis (menderita asma) pula. Ayah sayalah yang menghujamkan keyakinan pada Allah, membangkitkan kepercayaan diri yang runtuh, membangun semangat juang dan menciptakan saya sebagai pekerja keras yang tidak menjadikan “lelah” sebagai penghambat untuk mencapai tujuan.

Izinkanlah saya berbagi sedikit dengan anda mengapa saya dulu seperti itu. Setiap orang punya kisahnya sendiri, begitu juga saya. Banyak hal yang terjadi dalam hidup saya, tapi yang menghancurkan  kepercayaan diri saya adalah karena saya “dibully” oleh sepupu saya sendiri yang jauh lebih dewasa dan besar tubuhnya yang diajak oleh orang tua saya tinggal bersama kami. Setiap hari, diluar sepengetahuan orang tua saya, saya selalu diyakinkannya bahwa orang berkulit hitam seperti saya tidak pantas pake baju warna “terang”.

Orang yang berwajah tirus seperti saya, tidak akan punya masa depan yang cerah. Orang orang yang berhasil adalah yang berwajah bulat, seperti dia. Karena ini dilakukan terus menerus dan bahkan seringkali dalam bentuk ancaman, membuat pelan pelan saya membangun kepercayaan diri seperti yang ditanamkannya pada saya setiap hari. Apa yang dilakukan ayah saya? Persis seperti anda membawa kendaraan anda, apakah itu sepeda, sepeda motor atau mobil ke bengkel. Apa yang dilakukan oleh “orang bengkel” terhadap kendaraan anda?

Dia mengamati dan memeriksanya dengan seksama untuk mengetahui masalah kendaraan anda bukan? Itulah yang dilakukan ayah saya. Ayah dan ibu kami mempunyai kebiasaan mengumpulkan anak anaknya untuk bercerita, mengajarkan agama dan bermusyawarah  hal hal yang kecil kecil yang akan atau yang sudah terjadi dalam keluarga, mulai dari mau ganti cat dinding, kulit sofa sampai memilih warna mobil baru yang akan dibeli.

Beliau yang biasanya duduk berdampingan dengan ibu kami akan menanyakan pendapat satu satu dari kami. Kali ini, beliau hanya memanggil saya dan berkata ” Ayah lihat lihatlah ya akhir akhir ini kayaknya baju Elly itu itu saja. Jadi sudah waktunya ya Elly beli baju yang agak bagus bagus dan warnanya cerah ya”. Saya membantah pendapat ayah saya dan mengatakan bahwa saya punya baju yang cukup banyak dan memadai.

Ayah saya meningkahi dan menyodorkan kepada saya sejumlah uang yang lumayan banyaknya sehingga saya terkejut dan mengatakan ” Nah ini ayah kasih Elly uang untuk beli baju dan pergilah ke Pasar Baru sendiri (kami tinggal di sekitar Pasar baru – Jakarta Pusat) ” Saya menanyakan, mengapa sendiri, bolehkan saya mengajak teman atau sepupu saya  yang satu lagi yang tinggal juga bersama kami. ” Tidak ! ” jawab ayah saya tegas. Ayah sama mama ingin Elly pergi sendiri dan pilih baju yang Elly suka, yang bagus dan berwarna cerah, ujarnya.

Pergilah saya sendirian. Saya menggunakan waktu yang lama sekali untuk membeli bahan baju itu. Dulu bisnis garment belum berkembang seperti sekarang, jadi orang biasa membeli bahan baju bukan baju jadi. Pulanglah saya dengan lima potong bahan baju dan menghadap ayah dan ibu saya untuk menunjukkan pada beliau apa yang saya beli. Ketika saya membeberkan belanjaan di atas mejanya, Ayah saya terdiam dan memandang saya dengan mata yang berkaca kaca.

Beliau bertanya pada saya dengan suara yang parau menahan tangis : ” Mengapa Elly beli baju ini nak? ” Saya, tidak mengerti apa yang beliau maksudkan dan kembali bertanya : “Apa yang salah dengan pilihan Elly, yah? ” Beliau menanyakan saya : Mengapa saya membeli semua warna lembut : kuning muda, pink, biru dan hijau muda? Kemudian mengapa bahannya juga bahan murah : Poplin dan Bercolin (Nama sejenis katun waktu itu).

Saya terdiam sejenak untuk berfikir karena tidak menemukan jawaban bagi pertanyaan ayah saya tersebut dengan segera. Setelah terdiam agak lama sambil memandang beliau, saya mengatakan alasannya, karena menurut kakak sepupu saya itu, orang berkulit hitam seperti saya tidak pantas pakai warna cerah!

Ayah saya langsung bangun dari duduknya dan  menghampiri saya, memeluk badan saya dari samping, mengelus kepala saya sambil sedikit membungkukkan badannya beliau berkata : Ini uang masih tersisa banyak nak, makan dulu dan balik ke Pasar Baru, beli baju yang bagus, mahal dan berwarna cerah !

Saya berjalan kembali ke Pasar Baru sambil menangis. Saya sangat terharu, betapa ayah saya memperhatikan saya. Dalam hati saya pastilah beliau sudah lama mengamati saya, berunding dengan ibu saya, mencari cara untuk membuktikan apa yang sebenarnya terjadi pada saya dan kemudian menemukan cara yang sekarang beliau minta untuk saya lakukan. Saya terus menangis, menangisi penderitaan saya dalam diam dan sunyi di kamar saya setiap hari.

Menangisi halusnya rasa dan pertimbangan serta cinta yang ditunjukkan ayah saya pada saya … Saya tidak peduli orang di dalam angkot memperhatikan saya. Saya sangat sangat mencintai ayah saya. Saya pulang dengan baju yang lebih banyak, mahal, berwarna cerah dan membeberkannya lagi di hadapan ayah dan ibu saya. Barulah ayah saya tersenyum lebar sehingga nampak semua giginya mendekati dan memeluk saya sambil berkata : ” Ini baru anak ayah. Anak ayah yang cantik dan manis dan yang pantas memakai baju mahal berwarna cerah! ”

Alhamdulillah, kami sekarang dikaruniai Allah 6 orang cucu. Saya masih mengingat bagaimana ayah saya mengamati, memeriksa dan kemudian MEREPARASI HARGA DIRI SAYA. Luar biasa dampaknya bagi sisa hidup saya, sehingga anda mengenal saya seperti sekarang ini. Kalau ayah saya saja yang hanya lulus SD, veteran perang bisa mereparasi harga diri saya, mengapa tidak anda?

Saya mengingat dan menuliskan ini untuk anda dengan air mata, sambil dihati saya berdoa : Ya Allah, Engkau terimalah ayah ibuku. Lapangkan kuburnya dan jauhkanlah beliau ya Allah dari azab kubur dan api neraka. Engkau kasihanilah beliau ya Allah, sebagaimana beliau menyayangiku sepenuh hatinya sejak aku kecil hingga dewasa. Anugerahilah ayah dan ibuku ya Allah dengan syurgaMU yang Tinggi ! Semoga doa yang sama dipanjatkan tiada henti oleh anak anak anda kini dan suatu waktu nanti.

Dengan penuh cinta untuk semua ayah,

Bekasi, 20 Maret 2016


Ditulis kembali dari tulisan Ibu Elly Risman di Group FB Parenting With Elly Risman and family yang diposting pada 24 Maret 2016

 

 

Iklan

6 thoughts on “Ayah #3 by Elly Risman

  1. iya rata rata emang bapak bapak begitu … HN juga, paling bilangnya, udah km yang ikut nanti transfer ilmu ke aku … jadi makin pinter kan?! hehe …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s