Karakteristik Anak Gifted

Sama dengan si sulung, si bontot kesayangan juga seorang disleksia. Hanya bedanya, si sulung very superior dengan disleksia diskalkulia, si bontot gifted dengan disleksia. Awalnya saya belum begitu paham. Setelah mengikuti group *silent member tea* plus sehubungan dengan rencana kepindahan kami dari Bandung, membuat saya semakin banyak menggali informasi tentang apa itu disleksia, diskalkulia, very superior dan gifted kid.

Informasi awal tentang GIFTED yang saya dapat dari group FB Sahabat Disleksia berdasarkan hasil copas KulWap DPSG Indonesia bersama dr.Kristiantini Dewi SpA adalah sebagai berikut :

Karakteristik profil gifted adalah sebagai berikut :

IQ sama dengan atau lebih dari 130.

Perfeksionis.

Akurat/presisi.

Pantang kalah/gagal.

Lebih nyaman bergaul dengan sesama gifted atau yanng seminat.

Minat terbatas/sempit tapi biasanya sangat fungsional *bedakan dengan asperger yang minatnya maladaptif*

Cenderung sangat mempertahankan pendapat dan ego nya, apalagi kalau yakin bahwa itu benar.

Sangat mempertanyakan alasan alasan dibalik suatu peraturan.

Jika sudah paham aturan tersebut akan sangat taat sehingga sangat ‘rigid’ dan tidak terima dengan orang lain yang tidak comply.

Sosial judgment yang tinggi (beyond his chornological age) atau …. malah lack of social interaction karena gifted prefer entertain himself rather than ‘susah payah’ berinteraksi sama orang  lain yang gak ‘se frekuensi’. Karenanya sering nampak ‘gak sopan’ karena anak gifted berani mempertahankan kemampuannya sekalipun berhadapan dengan yang lebih dewasa.

Gifted yang disertai dyslexia disebut TWICE EXEPTIONAL, ini yang paling banyak tampil dengan masalah interaksi sosial dan gangguan sosial emosi.

Selain ber komorbid dengan dyslexia, gifted bisa ber komorbid dengan ADHD, Dyspraxia, ODD dan CD.

FAKTA ILMIAH

  • Sekitar 70% anak gifted mengalami gangguan perilaku yang berdampak pada fungsi sosialnya.
  • Jarang sekali gifted murni yang tanpa komorbid.
  • penelitian retrospektif pada individu gifted dewasa menunjukkan sekitar 30% diantaranya mengalami GBE pada usia dininya.

Benar kalau ada gangguan fungsi sosial berarti ada indikasi perlu diintervensi. Karena jika kita mengelola gifted nya saja tanpa mengelola komorbid nya bisa dipastikan performance nya tidak maksimal. Karena pada usia < 3 tahun,baik gifted maupun autism sama sama menunjukkan gangguan interaksi sosial. Tapi jika diteliti dengan seksama akan terlihat perbedaannya.

Gifted, sekalipun lack of social interaction, tapi dia tetap mampu berinteraksi sosial kalau dia sedang mau ….. dan karena dia gifted maka kemampuan kemampuan perkembangan yang menunjukkan kognisinya pasti sudah terllihat jauh di atas usia kronologisnya.

Sedangkan pada autism …… dia memang tidak mampu memulai suatu jalinan interaksi. Juga tidak mampu mempertahankan suatu kondisi interaktif. Jadi gangguan interaksi sosialnya BEDA dengan gifted.

Lagipula, 70% autism kan memang keterbelakangan mental berat. Jadi, kita bisa cermati bahwa kemampuan kemampuan perkembangannya jauuuh di bawah usia kronologisnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s