2016 · Ayah · Elly Risman · From Group Elly Risman and Family · Parenting · Self Reminder

Ayah # 4 – VALIDASI – By Elly Risman

Anak lelaki tambun berseragam putih merah itu tersandar di sofa di depan saya dengan raut wajah yang berat dan sendu. ” Kamu tuh ganteng banget sebenernya, nenek sayang sekali sama kamu. Kalau kamu cucu nenek pasti sudah nenek peluk peluk ” Ujar saya. Sesungguhnyalah hiba benar hati saya melihatnya.

Dia memaksa menujukkan senyum pada saya dengan hanya menarik kedua sudut bibirnya. Saya bergeser ke sebelahnya dan membelai kepalanya, usianya sama dengan cucu kami yang sulung. Perlahan saya berkata padanya ” Kalau ada yang kamu mau bilang sama nenek, kamu bilang saja, nenek dengerin”.

Dia memandang ke mata saya seolah mencari kepastian. Saya tersenyum tanpa berkata. “Nek, kenapa ya nek aku dilahirkan?” ujarnya sendu dengan bibir menahan tangis ..

“Gleggaar .. !” begitu bunyi yang terdengar di hati saya dengan pertanyaan itu. Saya speechless .. kehilangan kata untuk sementara … Seringkali saya menghadapi kalimat kalimat pendek yang bermakna sangat dalam seperti yang diucapkan anak kelas lima SD ini. Saya menemukan, bahwa anak anak atau remaja remaja ini sudah lama benar menyimpan rasa, kemudian lamaaa juga mengolahnya, sehingga ketika dikeluarkan terasa sangat menghujam sekaligus sangat indah dan mencengangkan.

Kesempatan yang lain, seorang gadis remaja yang manis juga berwajah “berat”, bicara dengan saya dalam bahasa Inggris. Ibunya sudah wanti wanti dan saya faham bahwa anaknya akan bicara dalam bahasa Inggris. Banyak orang tua yang menyekolahkan anak ke sekolah internasional, tapi lupa atau tak sempat meningkatkan kemampuan dirinya. Begitu anaknya remaja, anaknya tidak percaya untuk curhat dengan orangtuanya, karena mereka yakin ortunya tidak mengerti apa yang mereka maksudkan … Remaja ini salah satunya.

“Jadi … kata saya dalam bahasa Inggris. Apa yang berat sekali kamu rasakan sekarang ini? ”

“Hmm, i feel covered/terselimuti” jawabnya pendek.

“Oh jadi kamu merasa tidak bisa bernafas, maksudmu?” Tanya saya selanjutnya.

“Not only my nose, but my soul can’t  breath” sergahnya. Jiwanya tidak bisa bernafas? Huih ……. indahnya dan pedihnya.

Ini hanya sebagian pengalaman saya menghadapi anak dan remaja yang hidup dalam sepi dari tegur, sapa, perhatian dan cinta ayahnya. Apa yang lama saya pelajari dari teori, dihantarkan Allah pada saya dalam bentuk konkrit melalui kata kata yang diungkapkan anak dan remaja dalam kata kata terolah indah.

Anak anak ini tahu dan yakin orang tua nya sayang pada mereka, tapi mereka membutuhkan lebih dalam bentuk yang lebih nyata, terutama dari ayah. Seorang ahli (maaf nih nenek nenek lagi lupa namanya)mengatakan bahwa anak membutuhkan khusus dari ayahnya : VALIDASI, Pengesahan bahwa mereka benar benar memperhatikan, mencintai dan peduli akan anaknya. Validasi ini menurut ahli tersebut bisa ditunjukkan dalam 3 bentuk sederhana yang saya rumuskan dalam 3P !

Penerimaan

Penghargaan

Pujian

PENERIMAAN

Adalah keikhlasan untuk menerima anak apanya. Bahwa ia unik, tidak sama dengan siapa siapa dan dia mempunyai kelebihan dan kekurangannya sendiri, persis ortu nya. Banyak tokoh tokoh psikologi perkembangan yang membahas tentang dampak dari berbedanya harapan dan impian yang dibangun dan diciptakan oleh orang tua sebelum atau selama anak dalam kandungan dengan kenyataan setelah anak tersebut lahir. Baik menyangkut jenis kelamin, bentuk wajah, warna kulit, rambut keriting atau lurus.

Setelah mereka besar, banyak masalah muncul menyangkut kapasitas kecerdasan : kakak kalah pintar dari adiknya. Adiknya itu gak belajar saja bisa rangking terus ! Kemampuan dalam bidang tertentu : kakaknya sudahlah lebih cantik, pintar pula dan pandai bergaul. Sementara adik lelet, pendiam dan temannya itu itu aja … dan banyak sekali hal lainnya yang ternyata tidak sesuai bahkan jauh dari harapan orang tua nya.

Kalau kenyataan ini berlangsung setahun dua mungkin tak begitu berakibat, tapi kalau bertahun tahun .. anak merasa mereka tidak diterima oleh ortunya. Banyak orang tua lupa, bahwa anak bukanlah pilihan tapi mereka adalah TAKDIR ! Apa salahnya kalau sesekali menunjukkan penerimaan dengan mengenali dan menyapa keunikan anaknya.

“Lila, ayah tahu Lila gak suka matematik, tapi qiraah Lila menyejukkan hati ayah”, Kau anak ayah yang berhati lembut!”

“Daud, jangan kecil hati nak gak menang lomba Tennis Meja itu ya, ayah tetap bangga sama kamu karena kamu sportif, anak lelaki ayah yang berani dan benar” …

PENGHARGAAN

Penghargaan sederhana saja sebenarnya sudah sangat bermakna bagi anak. Tidak perlu piala atau benda yang mahal. Ayah kami sangat suka makan mie rebus. Di tahun 60an belum ada mie instan, adanya mie telor dan mie kiloan di pasar. Setiap hari minggu ibu kami mengolah jadi mie rebus yang nikmat sekali dengan bawang goreng segar bukan bungkusan/kemasan seperti yang mudah kita dapatkan sekarang ini.

Sepekan setelah saya memperingati ultah ke 13, ayah saya mengatakan : “Hm Elly sudah 13 tahun, minggu depan ini ayah mau merasakan mie rebus masakan Elly ya? Pasti enak!” yakin beliau. Hah … saya berdebar dan mulai merengek pada ibu saya, agar beliau saja yang masak. Ibu saya meyakinkan saya bahwa saya bisa dan nanti beliau tidak akan membiarkan saya dan membantu saya.

Dengan yakinnya, saya mulailah belajar menyiapkan mie rebus dengan tegang dan serius. Ketika semua saudara saya sudah duduk di meja dan dihadapannya mereka telah tersedia mie rebus panas berasap, ayah saya mengajak semua berdoa dan mulai mencicipi mie rebus buatan saya.

Dihirupnya sesendok kuah, lalu dia tersenyum memandang saya : “Hm … tuh kan apa ayah bilang, Elly bisa jualan mie, mie nya enak .. ” wuah … hati saya berbunga bunga … Walaupun beliau melanjutkannya begini : ‘akan lebih enak lagi kalau ditambah sedikit garam’.

Sering sekali ayah saya memberi saya pujian sederhana untuk hal hal yang sebenarnya saya tidak hebat amat. Ayah saya menunjukkan kegembiraan yang besar, padahal saya cuma juara tiga Musabaqah tingkat kelurahan …

PUJIAN

Sering saya menghadapi ortu yang menyatakan pada saya tanpa sepengetahuan anaknya bahwa mereka sebenarnya bangga, bahagia dan kagum dengan kelebihan kelebihan anaknya. Tapi sayang sekali, mereka menyimpannya dalam hati dan tidak pernah memperdengarkan perasaannya itu pada anaknya. Disisi lain anaknya sangat lapar akan pujian dari ayahnya.

Ada ortu dan ayah yang takut bahwa pujian akan membuat anaknya sombong dan membengkakkan harga diri. Ayah lupa, bahwa pujian pada tempatnya dengan porsi yang pas sangat membantu anak merasakan cinta dan penghargaan ayahnya. Apa salahnya ayah mengatakan pada anak gadisnya : “Sini deh ayah bilang, ayah gak sangka kau tumbuh jadi anak gadis ayah yang cantik dan baik hati. Jangan bilang sama mama kamu ya. Kamu jauh lebih cantik dari mama ketika ayah melamarnya!”

Marilah belajar menerima anak kita apa adanya, menghargai upaya upaya kecil yang bisa mereka tunjukkan dan sesekali memujinya untuk merekatkan jiwa dan mendekatkan hati. Validasilah anak anak kita, wahai ayah …

Pondok Gede, 27 Maret 2016

Di hari Pak Risman genap berusia 65 tahun.

Alhamdulillah – Barakallah.


Ditulis ulang dari postingan Elly Risman di Group FB Elly Risman and Family yang diterbitkan pada 27 Maret 2016.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s