2016 · familytime · Indonesia · jalan jalan · museum · Sharing · wisata museum

Berkunjung ke Museum Nasional

Sabtu, 3 September 2016 akhirnya berhasil untuk melakukan ‘family time’ dengan mengunjungi museum. Awalnya kita akan mengunjungi museum Satria Mandala, tapi karena berangkat sudah terlanjur siang, akhirnya diputuskan untuk mengunjungi Museum Nasional saja karena jam buka museum Nasional lebih panjang daripada museum Satria Mandala. Jam buka museum Satria Mandala setiap hari dari 08.30 sampai dengan jam 14.30 sedangkan museum Nasional sampai 17.00. Untuk hari libur keduanya sama yaitu hari Senin

Museum Nasional ini terkenal juga dengan nama Museum Gajah. Lokasi nya ada di jalan Medan Merdeka Barat. Kalo kita pake Trans Jakarta, kita tinggal turun di halte TJ Monas, posisi halte tepat di depan Museum Nasional ini. Kebeneran kemaren kita ke sini pake TJ, enak banget jadinya, pas turun langsung pintu masuk nya museum ini.

Museum Nasional ini banyak memamerkan koleksi benda benda kuno dari seluruh Nusantara. Museum Nasional juga sebagai sebuah lembaga studi warisan budaya dan pusat informasi edukatif kultural dan rekreatif. Konon lagi, seluruh koleksi yang ada hingga saat ini melebihi 140.000 buah tetapi tidak semuanya diperlihatkan untuk umum.

Dari 140 ribuan itu, koleksinya terdiri dari prasejarah, arkeologi, keramik, numismatik-heraldik, sejarah, etnografi dan geografi. Nah kalo nama Museum Gajah terkenal, menurut beberapa catatan yang gue baca salah satunya karena adanya patung Gajah yang tegak berdiri di depan pintu masuk sebelah kiri. Ada 2 landmark terkenal di museum ini sepanjang yang saya baca dan lihat, yaitu patung Gajah ini dan Karya Nyoman Nuarta yang tampak seperti pusaran air dengan orang orang yang terperangkap di dalamnya. Judul dari karya seni adalah ku yakin sampai disana. Patung Gajah yang terkenal itu, konon adalah hadiah dari Raja Chulalangkom dari Thailand pada tahun 1871, terbuat dari Perunggu.

Untuk harga tiket masuknya juga asik, yaa pada umumnya museum ya … wisata pendidikan murah meriah. Untuk orang dewasa Rp.5.000,- untuk anak anak Rp.2.000,- Begitu masuk, kita berada di semacam hall yang isinya arca dan patung patung. Salah satu yang terbesar dan tertinggi di hall ini adalah arca Adityawarman sebagai Bhairawa, arca ini merupakan salah satu kekayaan koleksi masa Hindu – Budha. Ini merupakan patung tertinggi, menurut yang gue baca disini tingginya mencapai 414 cm dengan berat kurang lebih 4 ton yang merupakan perwujudan Boddhisatwa (pancaran Budha) di bumi.

Setiap arca dan patung yang ada disana memiliki catatan di bawahnya. Gak semua kita baca, menurut catatan yang ada di dekat arca  tertinggi ini tokoh Bhairawa Budha merupakan salah satu perwujudan seorang bangsawan kerajaan Majapahit keturunan Melayu yang kemudian menjadi raja di daerah Sumatera. Karena patung ini cukup menarik perhatian beberapa pengunjung yang ada termasuk gue, akhirnya gue browsing browsing mengenai patung ini. Setelah browsing sana sini, gue nemu cerita dibalik patung ini di sini dan sini

Jadi ceritanya begini … Konon patung ini ditemukan di areal persawahan di tepi sungai Padang Roco, Kabupaten Sawah Lunto, Sumatera Barat. Pada saat ditemukan arca ini tidak dalam kondisi utuh terutama sandarannya. Terpahat dari batu tunggal, sebagian badan arca masih terpendam di dalam tanah. Semula masyarakat tidak menyadari jika benda itu merupakan peninggalan arkeologis. Mereka memanfaatkannya sebagai batu asah dan untuk menumbuk padi.

Dipercaya, arca ini merupakan perwujudan Raja Adityawarman, pendiri Kerajaan Pagaruyung di Sumatera Barat pada 1347. Nama Adityawarman sendiri berasal dari kata Sansekerta, yang artinya kurang lebih “Yang berperisai matahari” (adhitya: matahari, varman: perisai). Adityawarman adalah seorang panglima Kerajaan Majapahit yang berdarah Melayu.

Upacara memuja Bhairawa dilakukan oleh para penganut aliran Tantrayana, baik umat Hindu maupun Buddha, untuk dapat bersatu dengan dewa pada saat mereka masih hidup. Untuk itu mereka melakukan upacara jalan pintas yang disebut Pancamakarapuja.

Arca Bhairawa Budha ini menggambarkan ritual aliran Tantrayana yang mengorbankan manusia untuk mengusir sifat sifat jahat. Konon mangkuk yang dipegang itu berisi darah manusia untuk upacara ritual meminum darah. Trus gambaran manusia kecil dan kepala tengkorak yang diinjak adalah simbol simbol pengorbanan dalam ritual tersebut.

Konon lagi menurut informasi cerita masyarakat di sekitar daerah penemuan arca di kawasan daerah Padang Roso itu percaya bahwa daerah tersebut merupakan pintu gerbang pusat pemerintahan kerajaan Melayu. Keberadaan arca Bhairawa Budha pada waktu itu berdiri menghadap sungai Batanghari yang mengarah ke arah timur dan berfungsi sebagai markah tanah pada jaman itu.

Di depan arca Bhairawa ini terbentang taman yang menjadi salah satu spot foto favorit juga di Museum ini. Gak heran sih, memang indah penampakan taman ini. Di dominasi rumput hijau yang tertata rapi dan dibingkai pilar pilar kokoh berwarna putih di sepanjang kiri kanannya. Keren banget !

Dibalik pilar pilar itu tertata juga dengan rapi patung patung di sepanjang koridor itu. Foto atas ini gue ambil dari arah berlawanan dengan ruangan patung arca Bhairawa itu. Tempat gue mengambil foto ini semacam teras, ada beberapa bangku disana untuk duduk duduk santai. Enaknya di Museum ini gak terlalu berasa panas, entah ya apa karena banyak angin di semilir yang bisa masuk kah?

Selesai melewati berbagai arca dan patung kita masuk ruangan yang ada di sebelah kiri. Ruangan itu tempat menyimpan semua benda antik yang berbau Cina. Diantaranya guci guci, piring, gelas, mangkuk … Pokoknya barang pecah belah deh.  Semua kuno dan cantik cantik. Cuma gue aja yang gak tenang ada di ruangan ini. Karena apa? Karena para lelalki kecilku kan gak mau diem ya, takut aja gitu kalo lama lama disini.

Oya, disini tempatnya juga adem. Iya siihh emang pake AC, tapi karena lampunya juga temaram ditambah langit langit ruangan yang cukup tinggi, mungkin itu yang bikin ruangan nya adem. Oya perasaan was was dag dig dug juga yang bikin gue kelupaan dong mau poto poto koleksi cantik itu. Ahh sudahlah ya tak apa. Beres dari ruangan ini kita masuk ke ruangan yang berada di tengah.

Posisi masuknya tepat besebrangan dengan ruangan tempat arca Bhairawa itu. Ruangan ini tempat terpajanganya rumah rumah dalam bentuk miniatur dari seluruh Nusantara. Anak anak suka sekali di ruangan ini. Mereka baca satu persatu, jika ada yang seru menurut mereka langsung dibahas.


 

Salah satu rumah yang paling mereka minati dan senang untuk dibahas adalah rumah panjang dari suku dayak. Ini mungkin karena ‘rasa rasa’ horor dari cerita yang ada disitu ya. Jadi dijelaskan dalam penjelasannya bahwa di tiang tiang yang ada di beranda rumah itu biasa digantungkan juga kepala yang baru habis dipenggal.

Di bagian depan rumahnya juga ada patung yang dipercayai dapat mengusir roh roh jahat yang akan masuk ke rumah. Konon dalam rumah ini tinggal beberapa keluarga. Gue dan HN banyak foto foto miniatur rumah adat ini. Karena kami pikir siapa tau ntar ntar bisa bermanfaat. Kan suka ada tugas tugas yang berkaitan dengan rumah adat gitu.

Keluar dari ruangan yang penuh dengan miniatur rumah adat, kita masuk ke ruangan yang dipenuhi dengan barang barang khas Nusantara juga. Ada yang perahu suka asmat. Ini juga anak anak pada heboh, setelah mereka baca keterangan kalo perahu ini konon dipakai untuk mengantarkan arwah leluhur. Ah kenapa yang horor horor selalu menarik buat mereka sih?!

Koleksi khas nusantara yang terbagi menjadi beberapa ruangan. 2 Ruangan sebelum terakhir adalah yang memamerkan koleksi dari daerah Jawa. Pas masuk sejujurnya gue agak merinding merinding gimana gitu hehe. Apa mungkin karena anak anak seneng nya baca yang berhubungan ama mistis mistis ya, jadi kebawa merinding? Hehe

Ruangan paling ujung dari ruangan pameran koleksi khas Nusantara ini adalah peta Indonesia yang besar sekali. Hampir seluas dinding nya. Ada 3 Peta disana, 1 yang paling besar lalu ada 2 lagi yang lebih kecil kecil yang mengapitnya. Disekeliling peta dipajang gambar pahlawan Nasional.

Dari peta raksasa ini sebelah kanannya adalah pintu keluar yang mana juga pintu masuk Museum. Kami masuk ke sebelah kiri. Begitu masuk kita langsung masuk ke ruangan yang penuh dengan kaca. Kita bisa lihat karya Nyoman Nuarta dari sini. Lalu ada cafe di ujung ruangan, gue pernah baca testimoni temen gue di Path waktu dia berkunjung ke Museum ini, katanya kopi nya enak 😀 Wilayah ini disebut sebagai gedung baru.

Udah niat banget kepengen ngopi, tapi karena anak anak udah kebelet pengen masuk ruangan yang ada di sebelah kiri dan dipenuhi tentang segala hal tentang Purbakala, akhirnya niat itu gue tunda. Tapiii ternyata ini cafe bukanya gak sampe sore, belum jam 4 waktu kita keluar dari Gedung Baru itu, cafe nya dah tutup aja. Si bubu kuciwa deh …

Di Gedung baru ini terbagi menjadi 4 lantai. Lantai paling atas itu koleksi emas, tapi kita gak sampe atas karena dibuka nya ada jam jam khusus. Konon itu yang dipamerin emas asli. Lantai pertama tentang purbakala. Ada patung manusia purba sekeluarga, ayah ibu dan anak 🙂

Naik ke lantai 2, batu batu prasati gitu plus ada miniatur Borobudur juga, oya ada sedikit maket rumah adat disini. Karena udah mulai sore, mulai lelah kita yaa … gue gak terlalu antusias lagi hihiii jangan dicontoh yak. Lantai 3 tentang alat transportasi dan senjata. Anak anak tertarik dengan meriam yang panjang banget di lantai ini.

Beres dari lantai 3 itu kita langsung turun. Asalnya kepengen naik bus wisata yang tingkat itu, karena ternyata ‘pool’ nya depan Museum Nasional ini. Tapi gak jadi karena … penuh mulu hehe. Lain waktu ahh kepengen.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s