DyslexiaAwarenessMonth #1 –


Bulan Oktober adalah bulan Disleksia, makanya kepengennya siiihhh bisa posting tentang disleksia, kalo hastag sih 1 day 1 post yaa … kalo gue minimal adalah yaaa gak setiap hari juga, tapi kepengen sih bisa tiap hari.

Nah kali ini gue mau share apa yang gue dapet hari ini, Rabu 5 Oktober 2016 dari group DPSG Indonesia yang diposting oleh dr.Kristiantini Dewi

———————————————————————————————————————————-

Bagaimana disleksia bisa menimbulkan dampak yg berbeda beda pada setiap orang ?
Penyandang disleksia yang sudah mempunyai insight tentang profil ke-disleksia-an nya, akan berupaya mencari strategi untuk bisa mengatasi kesulitan kesulitan yg dihadapinya; dia juga akan bersemangat untuk memperkuat area area keunggulannya yg bisa jadi bersifat non akademis.

Kalau penyandang disleksia nya masih anak2, tentu “nasib” anaknya ini masih sangat dipengaruhi oleh bagaimana penerimaan dan bagaimana orgtua menyikapi amanah disleksia pada anaknya.

Orang tua yg ikhlas akan segera berupaya menambah pemahamannya ttg karakteristik anaknya yg disleksia, akan bersegera memperbaiki sikap dan bentuk dukungan yg dibutuhkan oleh sang anak.

Maka yg tjd insya Allah anak menjadi berani mencoba belajar materi2 yg sebelumnya di”takutinya”, semangat utk segera bangkit berjuang manakala dia blm berhasil menuntaskan sesuatu pekerjaan dg sempurna. Kepercayaan dirinya baik karena orgtua, guru dan lingkungan memberikan penghargaan yg proporsional atas upaya dan proses yg sdh dia tempuh dan lakukan.

Niscaya, anak kelak tumbuh menjadi individu dg kepribadian yg tangguh, pantang menyerah dan siap menjadi generasi penerus dg berbagai keunggulan2 yg dimilikinya.
Sebaliknya….

Para penyandang disleksia yg tdk mempunyai insight ttg kekhasan dirinya, atau orgtua yg tdk ikhlas menerima amanah tsb, atau guru/ortu/lingkungan yg salah melabel anak2 disleksia menjd anak nakal, bodoh dan malas, maka anak disleksia yg sejatinya membutuhkan dukungan dan pertolongan yg serius, malah lbh banyak menerima cercaan dan hukuman atas ke khusus an yg dimilikinya tsb.

(Padahal bukan permintaan dia utk jd seorg anak disleksia kan…)
Akhirnya, anak menjadi kaya akan pengalaman gagal, self-esteem nya menurun dan meyakini bhw dirinya adalah individu yg bodoh dan tdk berguna.
Belum lagi manakala kasus disleksia ini beriringan/ber komorbid dengan neurobehavior disorder lain spt ADHD, Oppositional Defiant Disorder, Conduct Disorder. Not to mention kalau tyt anak ini juga mempunyai kecerdasan yg jauh di atas rata2.

Tentu rasa frustrasi nya atas berbagai kegagalan akademis nya jauh lebih besar lagi. Shg bs muncul hal2 lain spt Anxiety, stress, depresi atau memicu timbulnya komorbid Bipolar Disorder.
Usia remaja dan dewasa muda dengan disleksia berat yg disertai banyak komorbid, rentan thdp depresi dan seringkali mempunyai perasaan ingin mengakhiri hidupnya.
#BulanPeduliDisleksiaIndonesia

#DyslexiaAwarenessMonth

#OneDayOnePos

#Dyslexia

#Disleksia

#AsosiasiDisleksiaIndonesia

#DPSGIndonesia

#Lexipal

#DyslexiaSpeaksUpIndonesia2016Surabaya

#WonderfulLifeTheMovie2016

Iklan

2 thoughts on “DyslexiaAwarenessMonth #1 –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s