2016 · Elly Risman · from group FB Parenting with Elly Risman and family · Parenting

Your Words Shape Your Children’s World ! – by Elly Risman

“Andreeeeiii ….. tobat deh, tuh liat deh naliin sepatu aja dari tadi gak bisa bisa … bener bener deh … lama banget ! ” Teriak bu Anton pada anak laki laki nya yang berusia 6 tahun yang masih berkutat menalikan sepatu nya. Kehilangan kesabarannya, bu Anton menghampiri anaknya dan mengatakan :

” Ngiket tali sepatu aja gak bisa bisa dri, bagaimana coba nanti masa depanmu? ” Andri memiringkan kepalanya dan menatap ibunya dengan pandangan heran tanpa kata kata lalu meneruskan mengikat tali sepatunya.

Mungkin dalam hatinya ia berkata : “Ya Allah mama … ini kan urusan ngikat sepatu doang … masa depan masih jauh banget! ”

Tidak sengaja mungkin, tapi banyak sekali kalimat kalimat negatif terlontar dari mulut orang tua ketika menghadapi kenakalan, keterlambatan atau tingkah laku yang tidak sesuai dengan harapan, baik bernada meremahkan, merendahkan atau menjatuhkan terhadap anaknya.

Padahal banyak orang percaya bahwa kata kata orang tua itu bak sebuah doa. Saya teringat  pengalaman saya berpuluh tahun yang lalu ketika saya dan teman teman pelatih dari Yayasan Kita dan Buah Hati menyelenggarakan pelatihan Bagaimana ngomong dengan anak di daerah kumuh belakang mall Mangga Dua Jakarta Pusat.

Mula mula pelatihan ini hanya diminati beberapa orang saja. Di hari kedua, ruangan kecil sebelah rumah pak RT itu tak sanggup menampung ibu ibu yang berminat untuk ikut serta. Selama pelatihan banyak sekali ibu ibu yang menyesal bahkan menangis dan bertanya bagaimana caranya agar mereka dan anak mereka bisa berubah.

Pasalnya, selama ini karena hidup mereka susah penuh tekanan, ibu ibu ini sering kehilangan kesabarannya dalam menghadapi anak anak mereka. Mereka bukan saja berkata kasar, mencubit, memukul tapi juga mengata ngatai anak mereka menggunakan kata kata yang mereka sebut “kebun binatang”.

Seorang ibu mengadu sambil berurai air mata pada saya : “Emang bener bu, makin lama kelakuan anak saya makin bandel dan keras banget aja bu!” Bagaimana bu, bantuin saya …..

Tak luput pula dari kenangan saya bagaimana ibu saya mengingat seorang ibu yang masih keluarga jauh kami agar menjaga dirinya supaya “mulutnya tidak terlalu tajam” pada anak lelaki nya yang sudah remaja.

Nanti, kata ibu saya ‘ Kalau hidup anakmu seperti kata katamu, kau juga yang akan menderita!” Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun ….. kami semua menyaksikan bagaimana ibu itu menderita karena susahnya penghidupan anaknya itu. Dia datang menemui ibu saya, menangisi nasib anaknya. Ibu saya menganjurkannya untuk minta ampun pada Allah.

Parenting is all about wiring, bagaimana ujung ujung sinaps kita terkoneksi oleh pengalaman pengalaman hidup kita, termasuk kata kata dan sikap serta perilaku yang kita terima. Tak ubah seperti lampu lampu yang banyak dalam sebuah ruangan. Di belakang lampu lampu itu pasti banyak kabel kabel yang menghubungkan satu lampu dengan lampu lainnya.

Ada warna biru, hijau , kuning, merah, putih dan dibalut selotip. Tekan satu tombol, semua lampu menyala. Begitulah kebiasaan kebiasaan yang terbentuk sengaja atau tidak selama pengasuhan baik dari orang tua dan orang sekitar , akan keluar otomatis ketika seseorang itu menjadi orang tua pula nantinya, lepas dari tinggi rendahnya jenjang pendidikan dan kelas sosial.

Sebagai contoh adalah pengalaman yang sama yang saya peroleh dalam ruang praktek saya. Seorang gadis remaja yang cantik dan lembut keliatan sangat bingung, nyaris depresi duduk mematung di depan saya.

Dari pembicaraan yang panjang ternyata dia tidak sanggup menggapai target yang diharapkan ibunya yang baginya terlalu tinggi. Dia lelah melompat dan melompat meraihnya ternyata tak pernah sampai, sehingga jiwanya terengah engah. Harapan ibu itu disampaikan dalam kalimat yang bagus dan nada rendah, tapi menekan dan nyelekitnya bukan main …

Semua upaya anak ini tak pernah berharga. Bak kata orang : ” When the best is not enough! ” Padahal kedua orang tuanya pasca sarjana lulusan negara adidaya. Bahkan ketika suatu saat ibunya sangat kesal, ia sempat mengatakan pada anaknya : “Lihat tuh kamar anak gadis gak ada bedanya sama kandang ba** !”

Entah bagaimanalah dulu nenek anak ini mengasuh ibunya. Tidakkah dalam keseharian kita, kita menemukan hal serupa terjadi di sekeliling kita? Dan kini, anak itu seperti ibu diatas telah menjadi orang tua atau pejabat publik, pemimpin dunia usaha atau lembaga. Tidakkah sesekali atau seringkali pengalaman lamanya otomatis muncrat dalam kesehariannya?

Kata kata kasar bahkan keji dan sikap sikap kurang terpuji? Atau kita menemukan dan mengalami ada di lingkungan keluarga atau masyarakat seseorang yang sangat baik dan rendah hati, santun dan dermawan atau bersikap terpuji bak negarawan? Paling tidak kita mengetahui bagaimana “wiring” mereka.

Kalau anda bawahan orang yang kasar dan anda mau jadi mulia, maka maafkan sajalah. Yang sehat yang ngalah. Mau tak mau kita benarkan jualah pepatah lama : “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya! ” Bagi kita yang penting adalah mewaspadai diri sendiri dalam berkata kata karena kita tentu tak mau menderita di hari tua, ketika menyaksikan anak kita suatu hari nanti memarahi anaknya, cucu kita !

MAKNA KATA KATA BAGI ANAK

Bila kata kata yang keluar dari ayah ibu, kakek nenek, paman bibi, guru dan orang penting lain sekitar anak penuh kasih dan sayang, penerimaan, penghargaan dan pujian, maka jiwa anak menjadi sangat padat, kokoh dan bahagia.

Keadaan ini yang membuat mereka merasa berharga dan percaya diri. Tapi bila sebaliknya, konsep diri tidak terbentuk dengan baik, hampa dan berongga. Darimana anak bisa merasa berharga di depan orang tuanya sendiri? Apalagi PD ! Anak anak seperti ini akan tumbuh jadi pribadi yang sulit diajak kerjasama, melawan dan menyimpan berjuta emosi negatif dari sedih yang dalam, kecewa, bingung, takut, ingin menjauh dari orang tua, benci bahkan sampai dendam !

Bagaimanalah hubungan anak dan orang tua tersebut? Jarak antara keduanya tak bisa dihitung dengan kilometer. Apa yang ditanam itulah yang dipetik di hari tua. Hanya anak dan orang tua itu saja yang paham bagaimana sesungguhnya makna dari hubungan mereka. Karena umumnya hal ini susah diungkapkan dengan kata kata, hanya hati yang merasa.

Perbaiki kata dalam bicara dan lempar anakmu ke masa depan secara emosional …..

Otak kita, seperti juga tubuh kita, berkembang dan berfungsi secara bertahap, pakai proses. Tentu saja perlu waktu. Tapi banyak orang tua lupa akan hal ini dan ingin semuanya berlangsung cepat. Jadi seringkali mereka bicara dengan anaknya seolah anak itu sudah besar dan mengerti apa yang dia katakan dan harapkan.

Saya tak hentinya bersyukur dianugerahi Allah orang tua yang bijak dan menjalankan aturan agama. Berkata dengan baik baik, memanggil dengan panggilan yang baik, penuh kasih dan perhatian. Waktu kecil, saya sangat kurus, kulit sawo matang agak gelap dan asmatis pula, bayangkanlah !

Apa yang diajarkan ayah dan ibu saya selalu bertahap dan dengan ajakan dan harapan tentang masa depan yang saya jangankan bisa membayangkannya, mengerti saja tidak. Suatu hari ibu saya berkata pada saya : “Mau nggak Elly mama ajarkan bagaimana cara memasak dengan cepat? ” Lalu ibu saya bercerita tentang mengapa itu perlu, memberikan contoh dikeluarga kami ada ibu ibu yang sudah punya anak tapi tak mampu melakukan tugas dapur dan tata laksana rumah tangganya dengan baik.

Lalu ibu saya melemparkan saya secara emosional ke depan dengan berkata seperti ini : “Nanti, Insha Allah Elly akan punya suami yang hebat, pejabat pula. Sebagai perempuan kita ini nak, harus bisa “diajak ke tengah” (masuk dalam pergaulan menengah) tapi rumah dan dapur harus selesai !” Saya tak bisa membayangkannya.

Puluhan tahun kemudian, seperti orang lain juga, kami merangkak dari bawah dan sampai pada suatu titik dimana sebagai staf dari pejabat tinggi Negara, kami kebagian tugas untuk menerima tamu yang merupakan pejabat tinggi atau utusan negara lain pada saat ‘open house’ lebaran di rumah beliau.

Saya datang dan  mencium lutut ibu saya, berterima kasih atas kata kata beliau dulu dan doanya. Saya tidak bisa datang di hari pertama lebaran karena saya mendampingi suami saya bertugas. Seperti yang dulu beliau sering ucapkan kepada saya, benar adanya : suami saya “membawa saya ketengah” Ibu saya membelai belai kepala saya dan menciumnya.

Mungkin bagi orang lain ini hal sederhana dan biasa saja, tidak begitu buat seorang Elly yang dulu kurus, hitam dan asmatis pula. Lagipula, kami berasal dari sebuah kampung di ujung Sumatra yang namanya tak akan anda temukan di peta ! Apa yang saya alami buat saya dan keluarga saya sesuatu yang luar biasa, tak terbayangkan sebelumnya.

Di daerah kami itu, ada kebiasaan orang tua bila marah menyebut anaknya : “Bertuah !” yang artinya “sakti, keramat, beruntung atau selamat !” Jadi, kalau anaknya nakal sekali ayah atau ibunya akan berkata atau berteriak : “Ya Allah ini anaaakk, benar benar ‘bertuah’ engkau !”

Seandainyalah kalau kita lagi marah sama anak kita, kita bisa mengucapkan kata yang serupa … Belakangan saya membaca riwayat Imam Abdurrahman Sudais yang mungkin juga anda sudah tahu. Bagaimana  ketika beliau kecil juga suka iseng atau mungkin nakal. Ibu beliau tengah menyiapkan jamuan makan dan sudah mengatur dengan rapih makanan yang akan disantap. Tidak disangka Sudais kecil mengambil pasir dan menaburkannya di atas makanan tersebut.

Tapi mulianya sang ibu yang sangat kecewa itu, beliau ‘menyumpahi’ anaknya dengan kata “Ya Allah, semoga anakku ini menjadi imam Haramain !” (Kedua mesjid Al Haram dan Nabawi)

Di negeri kita ini banyak kisah serupa. Saya menamatkan membaca buku Athirah yang mengisahkan riwayat hidup ibunya bapak wakil presiden Jusuf Kalla, yang sekarang filmnya sedang tayang di bioskop. Alkisah ibu Athirah ini sedang berkendara dengan pak JK dan mereka melewati rumah Gubernur Sulawesi Selatan. Ibu Athirah berkata (kurang lebih) pada anak lelakinya yang sangat setia ini : ” Saya sebenarnya mengharapkan engkau tinggal di rumah itu !” Kenyataannya, pak Kalla dapat jabatan yang lebih tinggi dari Gubernur.

Walaupun sebagai orang tua kita telah berusaha melakukan yang sebaik yang kita bisa untuk anak anak kita, tapi kita tetap manusia yang bersifat silap, salah tidak tahu atau lupa!. Sayapun juga begitu, tak luput dari semua itu. Saya melakukan banyak kesalahan sebagai seorang ibu. Lalu begitu sadar, saya sujud, mohon keampunan Allah.

Marilah kita lihat masa lalu kita lewat kaca spion saja agar tidak lupa, tapi yuk kita fokus ke masa depan. Kita minta ampun pada Allah untuk semua keliru dan salah yang kita lakukan sengaja atau tidak sengaja. Kini dan kedepan mari berikan anak kita pondasi yang kokoh untuk mampu tegar di tengah persaingan yang semakin seram saja.

Percayalah, semua anak akan Allah beri masa depan dan itu bak dinding yang hampa. Biarkanlah anak itu melukisnya sendiri. Marilah kita terus menerus belajar mengendalikan kata kata karena : Your words shape your children’s world !

——————————————————————————————————————

Ditulis ulang dari postingan Ibu Elly Risman di group FB Parenting with Elly Risman and Family yang diposting pada 2 Oktober 2016, pk.23.43

Semua gambar diambil dari Instagram @joyofmom

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s