2016 · Elly Risman · From Group Elly Risman and Family · from group FB Parenting with Elly Risman and family · Parenting · Sharing

Memahami Mengapa Anak Menggunakan “Bad Words” dan Bagaimana Mengatasinya

” Tuing ! … ” denting hape saya menandakan ada pesan masuk. Saya kerling : nama Firdaus muncul di layar. Firdaus adalah Kepala Divisi Anak dan Remaja (DIAR) di YKBH. Sebagai pimpinan Divisi, Firdaus mempunyai kewajiban untuk melaporkan bukan saja rencana kegiatan DIAR pekan atau bulan ini tapi juga dengan cepat memberitahu saya tentang berbagai temuan lapangan terutama yang genting genting. Biasanya laporan temuan lapangan ini perlu segera ditindak lanjuti.

DIAR adalah bagian dari YKBH yang sangat saya syukuri dan banggakan kehadiran dan kerja kerasnya. Sejak berdirinya 14 tahun yang lalu, membuat YKBH memiliki data mingguan tentang perkembangan pengetahuan dan kelakuan anak anak sehubungan dengan perilaku pubertas mereka dan juga hal hal yang berkaitan dengan pornografi.

Luar biasa perannya dalam advokasi yang kami lakukan untuk membangun awareness tentang kerusakan otak akibat pornografi baik ke lembaga legislatif termasuk ketika berjuang mengesahkan UU Pornografi dan mempertahankannya di Mahkamah Konstitusi, di Kementrian dan  Lembaga, Sekolah, masyarakat luas juga ketika memperkenalkan apa yang sudah kita kerjakan sebagai bangsa dalam sidang PBB di Wina serta saat YKBH menerima penghargaan di Amerika.

Jadi beberapa hari yang lalu, pesan yang dikirim Firdaus adalah tentang keluhan berbagai fihak, kepala sekolah, orang tua, pimpinan lembaga tentang semakin meningkatnya penggunaan “BAD WORDS” di kalangan anak anak. Bila dulu kata kata seperti ini diucapkan dengan mudah oleh anak anak SMA atau SMP, beberapa tahun yang lalu oleh anak anak SD kelas tinggi, kini jadi bahasa harian anak SD kelas rendah : murid kelas 2-3 !

Masalah utamanya adalah fenomena ini bukan hanya terjadi di sekolah di wilayah JABODETABEK saja, tetapi juga di berbagai kota yang belakangan ini dikunjungi oleh tim DIAR karena  kerjasama kami dengan Telkomsel untuk mensosialisasikan program internet baik. Saat tulisan ini saya buat, tim kami baru take of menuju Manokwari.

Kapan BAD WORDS digunakan?

Umumnya ketika anak kesal dengan temannya. Tetapi karena sebagian anak merasa mampu mengeluarkan dan menggunakan kata kata ini kesannya ” Keren “, maka mereka mengucapkannya dalam berbagai situasi, keluar otomatis begitu saja.

Apa saja BAD WORDS yang paling populer?

Saya minta maaf untuk menuliskan ini, tetapi agar ayah bunda tidak merasa aman dan menganggap anaknya tidak tahu kemudian agar ayah bunda mulai mewaspadai anak anaknya. Kata kata yang paling digunakan anak untuk mengekspresikan perasaannya adalah

“WTF” (What The Fu*k) – Fu*k – Anj**g – Mony*t – Ba*i  … dll

Istilah vulgar yang sangat enteng keluar begitu saja dari mulut mereka adalah : Ngen**t  – Kon*** dan berbagai cara orang menyebutkan organ kelamin manusia. Hadeuh !!

Dari mana sumbernya ?

Menarik sekali pengamatan dan pemantauan yang dilakukan oleh guru dari berbagai sekolah yang sudah biasa bekerjasama dengan DIAR. Mereka sudah mulai membangun cara komunikasi yang nyaman dengan murid muridnya untuk mengetahui perasaan mereka dan bekerjasama untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Menurut guru ini anak anak ini mendapatkan semua BAD WORDS tersebut selain dari teman adalah dari beberapa jenis komik tertentu dan umumnya dari vlog youtubers dan social media. Entah bagaimanalah kontrol penggunaan gadget di rumah, sehingga anak anak belia ini telah menjadi followers dari beberapa youtubers dan tokoh sosmed yang biasa bicara kasar dan menunjukkan bahwa mampu melakukan hal seperti itu jadi : “keren”.

Kami telah mengantongi beberapa nama ” tokoh-tokoh” tersebut dari pernyataan anak anak dan laporan guru.

Jadi bagaimana ?

Izinkan saya mengusulkan beberapa langkah yang saya harapkan bisa digunakan baik oleh orangtua maupun guru.

  1. Kita harus menyelesaikan dengan bijak dan baik kebiasaan buruk yang mulai merasuki anak kita, karena pertanggung jawaban kita pada Allah untuk menghasilkan anak yang berbudi dan beradab.
  2. Mulailah dengan tidak berburuk sangka bahwa anak kita telah melakukannya walaupun mungkin sudah.
  3. Tolong sadari dulu bahwa belum tentu anak mengerti apa yang diucapkannya. Mereka melakukannya umumnya karena meniru dan supaya tidak berbeda dengan temannya.
  4. KIta harus berusaha menciptakan situasi yang kelihatannya tidak sengaja untuk membicarakan ini dengan anak, padahal sudah disiapkan dengan rinci.
  5. Gunakanlah bahasa yang mudah dimengerti termasuk untuk menjelaskan istilah dan gunakan kalimat yang pendek pendek serta banyak kalimat bertanya.
  6. Siapkan peralatan berupa 2 buah gelas container yang bening atau baskom kecil, air putih 2 botol atau teko kurang lebih 1000 ml dab cairan kopi kental setengah gelas.
  7. Berlatih untuk menyampaikannya sehingga kelihatannya tidak serius sekali tapi santai bak mendongeng.
  8. Bercakaplah dengan nada yang rendah dan rileks tapi fokus. Matikan hape dan minta bila ada saudaranya ditangani dulu oleh orang lain jadi tidak ada gangguan.

Hal hal yang harus kita ketahui lebih dulu :

  1. Kita harus pandai menyidik, kata kata buruk apa saja yang pernah didengar anak.
  2. Harus dibedakan antara anak laki laki dan anak perempuan.
  3. Darimana mereka mendengar atau mengetahuinya ?
  4. Siapa saja diantara teman temannya sudah biasa menggunakannya, apakah anak juga pernah membalas? Apa yang diucapkannya? Kapan?
  5. Karena teman temannya sudah biasa menggunakannya, apakah anak juga pernah membalas? apa yang diucapkannya? Kapan?
  6. Sudah berapa kali sejak pertama mengucapkannya?
  7. Kata kata apa saja yang sering digunakan anak?
  8. Bahas satu satu apakah anak mengerti atau tidak apa yang dikatakannya. Gunakan kalimat sederhana dan setelah dijelaskan tanyakan apakah panyas kata kata itu kita gunakan? Misalnya kata Mo***t, Ba*i , itukan binatang. Fu*k = orang melakukan hubungan suami istri. Pantas tidak kita ucapkan? Melanggar ketentuan Allah tidak? Jadi hukumnya apa?
  9. Perlu sekali menggunakan banyak kalimat bertanya karena untuk menjawab anak harus berpikir dan harus menengok ke dalam dirinya sehingga inilah yang penting : Menimbulkan kesadaran diri.
  10. Cari tahu dititik mana anak tidak bisa mengontrol dirinya sehingga dia terpaksa mengatakannya. Ini kita sebut sebagai : ” Keterampilan yang hilang “.
  11. Bagaimanakan perasaan anak ketika dia mengucapkan kata kata itu?

Anda bisa menambahkan beberapa hal yang ingin anda ketahui. Apa selanjutnya ? Pengumpulan informasi diatas bisa saja dilakukan oleh ibu. Tetapi sebaiknya untuk membahasnya dilakukan oleh kedua orang tua. Kehadiran ayah dalam hal ini amat sangat penting karena ayah selain penentu kebijakan dan aturan dalam keluarga, ayah bisa bicara tegas dan meyakinkan dengan menggunakan kalimat yang lebih pendek, terencana sehingga lebih mudah difahami anak.

  1. Mulailah dengan menyampaikan kondisi keluarga kita. Kita keluarga baik baik dan harus bicara baik baik seperti yang diperintahkan Allah : Wa kuulu linnasi husna ! : Bicaralah baik baik dengan sesama manusia. Gunakan kalimat bertanya : Kalau Allah sudah memerintahkan kita seperti itu, apakah kita boleh menggunakan BAD WORDS? Buat kesimpulan, bahwa dalam keluarga kita (minimal) kita harus bicara baik baik dan berusaha di luar keluarga kita, kita tetap memelihara diri untuk bicara dengan baik baik. Menggunakan kata kata seperti yang diperintahkan Allah : Qaulan Kariman : Bicara dengan kata yang baik, mulia – Kaulan Maisuran : Berkata yang mudah dimengerti – Qaulan Layyinan : berkata dengan lemah lembu, dll sambil merujuk ke Al Qur’an : surah dan ayatnya. Biasakan jadikan al Qur’an sebagai rujukan dan bila perlu ikut mencari dari indeks dan membaca ayatnya dan artinya langsung. Bila anda berbeda agama, gunakan cara yang sama dengan kitab suci anda.
  2. Role Play : bagaimana kalau temanmu menggunakan BAD WORDS ? Tunggu jawaban. Karena anak harus tahu bagaimana bersikap dalam situasi yang tidak menyenangkan dan dia harus menggunakan keterampilan dan pengetahuan yang ada dalam dirinya, bukan yang kita ingatkan dalam nasihat. Minta anak untuk memikirkan beberapa alternative untuk menjawab dan menyikapi temannya. Misalnya dengan mengatakan : ” Maaf ya, aku gak mau ikut ikutan kamu berkata jorok”. “Kalau kamu mau kamu aja, aku gak ikut ikutan!” dan lain lain. Biarkan alternative itu keluar dari anak dan hargai, bahkan kalau perlu puji : Keren, Hebat, Tuh kan anak ayah bisa! CATATAN : Role play sangat penting, karena 2 hal : (a). Anak berfikir konkrit, jadi harus dengan contoh. (b). Anak perlu memiliki modal yang sudah dibangun, diproduksi dalam dirinya, tinggal digunakan. Apalagi semua telah disetujui dan diakui kedua orang tuanya.
  3. Kini gunakan lah alat peraga, sambil menjelaskan bagaimana terjadinya “wiring” dalam otak anak karena kebiasaan. Setiap kali apa yang kita dengar dan kita lakukan otak membuat sambungan. Kalau dilakukan berulang ulang maka sambungannya akan menjadi sangat tebal karena otomatis. Maukah sampai dewasa berkata kotor dan kasar seperti di you tube dan med sos? Bagaimana kalau jadi orang tua, pemimpin perusahaan dan pemimpin orang banyak?
  4. Berikutnya ambilah gelas dan isilah 1/2 dengan air. Lalu ambil cairan kopi dan masukkan setetes. Tanya kepada anak mengapa warna air berubah? bagaimana kalau dimasukkan setetes lagi dan lagi dan lagi apa yang terjadi? Buat kesamaan dengan otak yang bersih dimasukkan air yang keruh/kopi dengan otak yang bersih kemasukkan kata kata kotor.
  5. Seumpama air yang semakin keruh itu tadi apakah menurut anak bisa diubah?
  6. Nah sekarang ambillah air yang kotor itu, letakkan di atas kontainer yang kosong. Lalu terus menerus diisi dengan air bersih yang 1000ml tadi sedikit demi sedikit sehingga air yang kotor tumpah ke bawah ke dalam kontainer dan air di dalam gelas menjadi semakin bersih.
  7. Jelaskan bahwa otak yang kotor bisa dibersihkan bila mau yaitu dengan terus menerus mengisinya dan menggantikan kata kata yang kotor dengan kata yang baik : tolong, terima kasih, maaf dan berbagai kata baik atau pujian lainnya.
  8. Tanyakan pada anak : mau otak bersih apa kotor? Mau berusaha atau tidak?

Motivasi, dukung dan dampingi !

Berpikirlah positif dan jadilah tauladan karena contoh dan teladan bekerja ribuan kali lebih baik daripada kata kata saja. Selamat berjuang, yuk kita berusaha melestarikan budaya bangsa kita seperti yang selama ini kita kenal : Bangsa yang berbudi luhur dan beradab tinggi. Jangan sampai terkikis oleh zaman dan teknologi.

Kuala lumpur, dini hari 21 November 2016* #mengasuh generasi digital

Elly Risman


Ditulis kembali dari tulisan Ibu Elly Risman yang diposting pada Group FB Parenting with Elly Risman and Family yang diterbitkan pada 21 November 2016, pk.12.08 AM.

2016 · Ayah · Elly Risman · From Group Elly Risman and Family · Parenting · Self Reminder

Ayah # 4 – VALIDASI – By Elly Risman

Anak lelaki tambun berseragam putih merah itu tersandar di sofa di depan saya dengan raut wajah yang berat dan sendu. ” Kamu tuh ganteng banget sebenernya, nenek sayang sekali sama kamu. Kalau kamu cucu nenek pasti sudah nenek peluk peluk ” Ujar saya. Sesungguhnyalah hiba benar hati saya melihatnya.

Dia memaksa menujukkan senyum pada saya dengan hanya menarik kedua sudut bibirnya. Saya bergeser ke sebelahnya dan membelai kepalanya, usianya sama dengan cucu kami yang sulung. Perlahan saya berkata padanya ” Kalau ada yang kamu mau bilang sama nenek, kamu bilang saja, nenek dengerin”.

Dia memandang ke mata saya seolah mencari kepastian. Saya tersenyum tanpa berkata. “Nek, kenapa ya nek aku dilahirkan?” ujarnya sendu dengan bibir menahan tangis ..

“Gleggaar .. !” begitu bunyi yang terdengar di hati saya dengan pertanyaan itu. Saya speechless .. kehilangan kata untuk sementara … Seringkali saya menghadapi kalimat kalimat pendek yang bermakna sangat dalam seperti yang diucapkan anak kelas lima SD ini. Saya menemukan, bahwa anak anak atau remaja remaja ini sudah lama benar menyimpan rasa, kemudian lamaaa juga mengolahnya, sehingga ketika dikeluarkan terasa sangat menghujam sekaligus sangat indah dan mencengangkan.

Kesempatan yang lain, seorang gadis remaja yang manis juga berwajah “berat”, bicara dengan saya dalam bahasa Inggris. Ibunya sudah wanti wanti dan saya faham bahwa anaknya akan bicara dalam bahasa Inggris. Banyak orang tua yang menyekolahkan anak ke sekolah internasional, tapi lupa atau tak sempat meningkatkan kemampuan dirinya. Begitu anaknya remaja, anaknya tidak percaya untuk curhat dengan orangtuanya, karena mereka yakin ortunya tidak mengerti apa yang mereka maksudkan … Remaja ini salah satunya.

“Jadi … kata saya dalam bahasa Inggris. Apa yang berat sekali kamu rasakan sekarang ini? ”

“Hmm, i feel covered/terselimuti” jawabnya pendek.

“Oh jadi kamu merasa tidak bisa bernafas, maksudmu?” Tanya saya selanjutnya.

“Not only my nose, but my soul can’t  breath” sergahnya. Jiwanya tidak bisa bernafas? Huih ……. indahnya dan pedihnya.

Ini hanya sebagian pengalaman saya menghadapi anak dan remaja yang hidup dalam sepi dari tegur, sapa, perhatian dan cinta ayahnya. Apa yang lama saya pelajari dari teori, dihantarkan Allah pada saya dalam bentuk konkrit melalui kata kata yang diungkapkan anak dan remaja dalam kata kata terolah indah.

Anak anak ini tahu dan yakin orang tua nya sayang pada mereka, tapi mereka membutuhkan lebih dalam bentuk yang lebih nyata, terutama dari ayah. Seorang ahli (maaf nih nenek nenek lagi lupa namanya)mengatakan bahwa anak membutuhkan khusus dari ayahnya : VALIDASI, Pengesahan bahwa mereka benar benar memperhatikan, mencintai dan peduli akan anaknya. Validasi ini menurut ahli tersebut bisa ditunjukkan dalam 3 bentuk sederhana yang saya rumuskan dalam 3P !

Penerimaan

Penghargaan

Pujian

PENERIMAAN

Adalah keikhlasan untuk menerima anak apanya. Bahwa ia unik, tidak sama dengan siapa siapa dan dia mempunyai kelebihan dan kekurangannya sendiri, persis ortu nya. Banyak tokoh tokoh psikologi perkembangan yang membahas tentang dampak dari berbedanya harapan dan impian yang dibangun dan diciptakan oleh orang tua sebelum atau selama anak dalam kandungan dengan kenyataan setelah anak tersebut lahir. Baik menyangkut jenis kelamin, bentuk wajah, warna kulit, rambut keriting atau lurus.

Setelah mereka besar, banyak masalah muncul menyangkut kapasitas kecerdasan : kakak kalah pintar dari adiknya. Adiknya itu gak belajar saja bisa rangking terus ! Kemampuan dalam bidang tertentu : kakaknya sudahlah lebih cantik, pintar pula dan pandai bergaul. Sementara adik lelet, pendiam dan temannya itu itu aja … dan banyak sekali hal lainnya yang ternyata tidak sesuai bahkan jauh dari harapan orang tua nya.

Kalau kenyataan ini berlangsung setahun dua mungkin tak begitu berakibat, tapi kalau bertahun tahun .. anak merasa mereka tidak diterima oleh ortunya. Banyak orang tua lupa, bahwa anak bukanlah pilihan tapi mereka adalah TAKDIR ! Apa salahnya kalau sesekali menunjukkan penerimaan dengan mengenali dan menyapa keunikan anaknya.

“Lila, ayah tahu Lila gak suka matematik, tapi qiraah Lila menyejukkan hati ayah”, Kau anak ayah yang berhati lembut!”

“Daud, jangan kecil hati nak gak menang lomba Tennis Meja itu ya, ayah tetap bangga sama kamu karena kamu sportif, anak lelaki ayah yang berani dan benar” …

PENGHARGAAN

Penghargaan sederhana saja sebenarnya sudah sangat bermakna bagi anak. Tidak perlu piala atau benda yang mahal. Ayah kami sangat suka makan mie rebus. Di tahun 60an belum ada mie instan, adanya mie telor dan mie kiloan di pasar. Setiap hari minggu ibu kami mengolah jadi mie rebus yang nikmat sekali dengan bawang goreng segar bukan bungkusan/kemasan seperti yang mudah kita dapatkan sekarang ini.

Sepekan setelah saya memperingati ultah ke 13, ayah saya mengatakan : “Hm Elly sudah 13 tahun, minggu depan ini ayah mau merasakan mie rebus masakan Elly ya? Pasti enak!” yakin beliau. Hah … saya berdebar dan mulai merengek pada ibu saya, agar beliau saja yang masak. Ibu saya meyakinkan saya bahwa saya bisa dan nanti beliau tidak akan membiarkan saya dan membantu saya.

Dengan yakinnya, saya mulailah belajar menyiapkan mie rebus dengan tegang dan serius. Ketika semua saudara saya sudah duduk di meja dan dihadapannya mereka telah tersedia mie rebus panas berasap, ayah saya mengajak semua berdoa dan mulai mencicipi mie rebus buatan saya.

Dihirupnya sesendok kuah, lalu dia tersenyum memandang saya : “Hm … tuh kan apa ayah bilang, Elly bisa jualan mie, mie nya enak .. ” wuah … hati saya berbunga bunga … Walaupun beliau melanjutkannya begini : ‘akan lebih enak lagi kalau ditambah sedikit garam’.

Sering sekali ayah saya memberi saya pujian sederhana untuk hal hal yang sebenarnya saya tidak hebat amat. Ayah saya menunjukkan kegembiraan yang besar, padahal saya cuma juara tiga Musabaqah tingkat kelurahan …

PUJIAN

Sering saya menghadapi ortu yang menyatakan pada saya tanpa sepengetahuan anaknya bahwa mereka sebenarnya bangga, bahagia dan kagum dengan kelebihan kelebihan anaknya. Tapi sayang sekali, mereka menyimpannya dalam hati dan tidak pernah memperdengarkan perasaannya itu pada anaknya. Disisi lain anaknya sangat lapar akan pujian dari ayahnya.

Ada ortu dan ayah yang takut bahwa pujian akan membuat anaknya sombong dan membengkakkan harga diri. Ayah lupa, bahwa pujian pada tempatnya dengan porsi yang pas sangat membantu anak merasakan cinta dan penghargaan ayahnya. Apa salahnya ayah mengatakan pada anak gadisnya : “Sini deh ayah bilang, ayah gak sangka kau tumbuh jadi anak gadis ayah yang cantik dan baik hati. Jangan bilang sama mama kamu ya. Kamu jauh lebih cantik dari mama ketika ayah melamarnya!”

Marilah belajar menerima anak kita apa adanya, menghargai upaya upaya kecil yang bisa mereka tunjukkan dan sesekali memujinya untuk merekatkan jiwa dan mendekatkan hati. Validasilah anak anak kita, wahai ayah …

Pondok Gede, 27 Maret 2016

Di hari Pak Risman genap berusia 65 tahun.

Alhamdulillah – Barakallah.


Ditulis ulang dari postingan Elly Risman di Group FB Elly Risman and Family yang diterbitkan pada 27 Maret 2016.

2016 · Ayah · Elly Risman · From Group Elly Risman and Family · Parenting · Self Reminder · Sharing

Ayah #3 by Elly Risman

Beberapa ibu yang bertemu saya dikesempatan yang berbeda mengajukan pertanyaan yang sama pada saya ” Bu, kenapa ibu membahas terus tentang ayah akhir akhir ini?” Pertanyaan yang sudah saya duga dan akan banyak lagi ke depan, mungkin juga dari anda.

Ceritanya panjaaaaang. Diawal awal tahun pertama YKBH kami hanya bekerja sama dengan para ibu. Ibu ibu yang dulu anak mereka masih di TK atau SD, sekarang sudah kuliah bahkan sudah menjadi ibu dan ayah pula. Begitulah panjangnya waktu terentang, yang tidak sanggup menceritakan betapa sulitnya melibatkan ayah pada pengasuhan.

Tidak pernah ada ayah dalam pelatihan. Bila ada 5-10 orang ayah tampak oleh saya duduk dalam seminar saya, maka saya akan meminta ratusan ibu yang menjadi peserta untuk bertepuk tangan untuk menghargai kehadiran mereka. Saya memanggil ayah tersebut sebagai “ayah hebat”, lepas mereka datang dengan ikhlas ataukah “dipaksa atau diseret istrinya”.

Ayah ayah selalu ada dalam hati dan pikiran saya, bahkan dalam doa doa saya. Saya bermunajat agar Allah membuat hati ayah ayah Indonesia menjadi lembut dan fikirannya terbuka untuk menyadari peran dan tanggung jawabnya sebagai ayah, manusia pertama yang dianugerahi Allah amanah untuk melanjutkan kemanusiaan di muka bumi ini. Saya sangat bersungguh sungguh dan berjanji pada diri saya sendiri, suatu waktu sebelum saya menutup mata untuk selamanya saya sudah melihat tanda tanda keterlibatan ayah akan meningkat dalam mengasuh dan membesarkan anak anak mereka dengan cinta dan ketakutan pada Allah.

Kami lakukan berbagai riset, langsung ataupun berupa studi kepustakaan yang menghasilkan pengertian dan pemahaman kami tentang pentingnya peran ayah dari segi agama, psikologi, budaya bahkan dari sudut neuroscience. Kajian ini telah membantu kami untuk merumuskan berbagai cara dan taktik yang kami sosialisasikan pada ibu ibu pecinta parenting, bagaimana mereka harus berjuang untuk melibatkan ayah dalam pengasuhan.

Seiring dengan itu, berbagai upaya dilakukan oleh antara lain Bapak Haryadi Takariawan, Ayah Edi, Abah Ihsan dan kemudian bermunculan tokoh muda ke “ayah” an seperti ayah Irwan, Ustad Bendri dan berbagai nama lain yang tidak disebutkan satu persatu disini.

Bukan karena saya, tapi kini ada kajian ayah yang diselenggarakan oleh yang terhormat Ustadz Bakhtiar Nasir setiap bulan khusus hanya untuk dan calon ayah di AQL center yang beliau dirikan. Ada Father Forum yang digagas ayah ayah muda dari ITB Bandung, ayah Pendidik dan terakhir yang sangat menyentuh hati adalah kelompok Daddy – cation yang dimotori suami suami dari kelompok ibu ibu muda pecinta parenting : “Supermom” . Alhamdulillah !

Jadi, untuk ibu ibu yang sudah  mengajukan pertanyaan dan juga mungkin masih menyimpannya dalam hati, sekarang mengerti mengapa untuk beberapa bulan ke depan, kita masih akan membahas  seputar keayahan di FB ini, walaupun ini hanya merupakan kerikil dalam bangunan keterampilan menjadi ayah di negeri ini.

Pembahasan ini bukan berarti “menidakkan” banyaknya ayah ayah baik dan hebat di luar sana, tetapi kajian kami menunjukkan adanya pengikisan yang terjadi dari perjalanan waktu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap peran dan kemampuan seseorang untuk menjadi orang tua khususnya menjadi ayah.

Bagi saya dan adik adik saya, ayah dan ibu kami adalah model yang sangat kuat bukan saja dalam membentuk saya sebagai manusia, kakak, istri, ibu dan nenek tapi juga sumber ilham mengapa kegiatan parenting ini saya pilih untuk ditekuni di akhir usia saya. Seperti hal nya orang lain juga, bagi saya mengingatknya kedua orang tua saya saja telah membuat air mata saya berderai derai.

Ayah, sebagaimana dicontohkan dalam Al Qur’an telah memerankan hal yang luar biasa bagi saya, antara lain dalam mereparasi harga diri saya. Di luar apa yang anda lihat sekarang ini, saya yang kecil dulu adalah anak yang penyedih dan rendah dan tidak percaya diri karena saya hitam, kurus dan asmatis (menderita asma) pula. Ayah sayalah yang menghujamkan keyakinan pada Allah, membangkitkan kepercayaan diri yang runtuh, membangun semangat juang dan menciptakan saya sebagai pekerja keras yang tidak menjadikan “lelah” sebagai penghambat untuk mencapai tujuan.

Izinkanlah saya berbagi sedikit dengan anda mengapa saya dulu seperti itu. Setiap orang punya kisahnya sendiri, begitu juga saya. Banyak hal yang terjadi dalam hidup saya, tapi yang menghancurkan  kepercayaan diri saya adalah karena saya “dibully” oleh sepupu saya sendiri yang jauh lebih dewasa dan besar tubuhnya yang diajak oleh orang tua saya tinggal bersama kami. Setiap hari, diluar sepengetahuan orang tua saya, saya selalu diyakinkannya bahwa orang berkulit hitam seperti saya tidak pantas pake baju warna “terang”.

Orang yang berwajah tirus seperti saya, tidak akan punya masa depan yang cerah. Orang orang yang berhasil adalah yang berwajah bulat, seperti dia. Karena ini dilakukan terus menerus dan bahkan seringkali dalam bentuk ancaman, membuat pelan pelan saya membangun kepercayaan diri seperti yang ditanamkannya pada saya setiap hari. Apa yang dilakukan ayah saya? Persis seperti anda membawa kendaraan anda, apakah itu sepeda, sepeda motor atau mobil ke bengkel. Apa yang dilakukan oleh “orang bengkel” terhadap kendaraan anda?

Dia mengamati dan memeriksanya dengan seksama untuk mengetahui masalah kendaraan anda bukan? Itulah yang dilakukan ayah saya. Ayah dan ibu kami mempunyai kebiasaan mengumpulkan anak anaknya untuk bercerita, mengajarkan agama dan bermusyawarah  hal hal yang kecil kecil yang akan atau yang sudah terjadi dalam keluarga, mulai dari mau ganti cat dinding, kulit sofa sampai memilih warna mobil baru yang akan dibeli.

Beliau yang biasanya duduk berdampingan dengan ibu kami akan menanyakan pendapat satu satu dari kami. Kali ini, beliau hanya memanggil saya dan berkata ” Ayah lihat lihatlah ya akhir akhir ini kayaknya baju Elly itu itu saja. Jadi sudah waktunya ya Elly beli baju yang agak bagus bagus dan warnanya cerah ya”. Saya membantah pendapat ayah saya dan mengatakan bahwa saya punya baju yang cukup banyak dan memadai.

Ayah saya meningkahi dan menyodorkan kepada saya sejumlah uang yang lumayan banyaknya sehingga saya terkejut dan mengatakan ” Nah ini ayah kasih Elly uang untuk beli baju dan pergilah ke Pasar Baru sendiri (kami tinggal di sekitar Pasar baru – Jakarta Pusat) ” Saya menanyakan, mengapa sendiri, bolehkan saya mengajak teman atau sepupu saya  yang satu lagi yang tinggal juga bersama kami. ” Tidak ! ” jawab ayah saya tegas. Ayah sama mama ingin Elly pergi sendiri dan pilih baju yang Elly suka, yang bagus dan berwarna cerah, ujarnya.

Pergilah saya sendirian. Saya menggunakan waktu yang lama sekali untuk membeli bahan baju itu. Dulu bisnis garment belum berkembang seperti sekarang, jadi orang biasa membeli bahan baju bukan baju jadi. Pulanglah saya dengan lima potong bahan baju dan menghadap ayah dan ibu saya untuk menunjukkan pada beliau apa yang saya beli. Ketika saya membeberkan belanjaan di atas mejanya, Ayah saya terdiam dan memandang saya dengan mata yang berkaca kaca.

Beliau bertanya pada saya dengan suara yang parau menahan tangis : ” Mengapa Elly beli baju ini nak? ” Saya, tidak mengerti apa yang beliau maksudkan dan kembali bertanya : “Apa yang salah dengan pilihan Elly, yah? ” Beliau menanyakan saya : Mengapa saya membeli semua warna lembut : kuning muda, pink, biru dan hijau muda? Kemudian mengapa bahannya juga bahan murah : Poplin dan Bercolin (Nama sejenis katun waktu itu).

Saya terdiam sejenak untuk berfikir karena tidak menemukan jawaban bagi pertanyaan ayah saya tersebut dengan segera. Setelah terdiam agak lama sambil memandang beliau, saya mengatakan alasannya, karena menurut kakak sepupu saya itu, orang berkulit hitam seperti saya tidak pantas pakai warna cerah!

Ayah saya langsung bangun dari duduknya dan  menghampiri saya, memeluk badan saya dari samping, mengelus kepala saya sambil sedikit membungkukkan badannya beliau berkata : Ini uang masih tersisa banyak nak, makan dulu dan balik ke Pasar Baru, beli baju yang bagus, mahal dan berwarna cerah !

Saya berjalan kembali ke Pasar Baru sambil menangis. Saya sangat terharu, betapa ayah saya memperhatikan saya. Dalam hati saya pastilah beliau sudah lama mengamati saya, berunding dengan ibu saya, mencari cara untuk membuktikan apa yang sebenarnya terjadi pada saya dan kemudian menemukan cara yang sekarang beliau minta untuk saya lakukan. Saya terus menangis, menangisi penderitaan saya dalam diam dan sunyi di kamar saya setiap hari.

Menangisi halusnya rasa dan pertimbangan serta cinta yang ditunjukkan ayah saya pada saya … Saya tidak peduli orang di dalam angkot memperhatikan saya. Saya sangat sangat mencintai ayah saya. Saya pulang dengan baju yang lebih banyak, mahal, berwarna cerah dan membeberkannya lagi di hadapan ayah dan ibu saya. Barulah ayah saya tersenyum lebar sehingga nampak semua giginya mendekati dan memeluk saya sambil berkata : ” Ini baru anak ayah. Anak ayah yang cantik dan manis dan yang pantas memakai baju mahal berwarna cerah! ”

Alhamdulillah, kami sekarang dikaruniai Allah 6 orang cucu. Saya masih mengingat bagaimana ayah saya mengamati, memeriksa dan kemudian MEREPARASI HARGA DIRI SAYA. Luar biasa dampaknya bagi sisa hidup saya, sehingga anda mengenal saya seperti sekarang ini. Kalau ayah saya saja yang hanya lulus SD, veteran perang bisa mereparasi harga diri saya, mengapa tidak anda?

Saya mengingat dan menuliskan ini untuk anda dengan air mata, sambil dihati saya berdoa : Ya Allah, Engkau terimalah ayah ibuku. Lapangkan kuburnya dan jauhkanlah beliau ya Allah dari azab kubur dan api neraka. Engkau kasihanilah beliau ya Allah, sebagaimana beliau menyayangiku sepenuh hatinya sejak aku kecil hingga dewasa. Anugerahilah ayah dan ibuku ya Allah dengan syurgaMU yang Tinggi ! Semoga doa yang sama dipanjatkan tiada henti oleh anak anak anda kini dan suatu waktu nanti.

Dengan penuh cinta untuk semua ayah,

Bekasi, 20 Maret 2016


Ditulis kembali dari tulisan Ibu Elly Risman di Group FB Parenting With Elly Risman and family yang diposting pada 24 Maret 2016

 

 

2016 · Ayah · Elly Risman · From Group Elly Risman and Family · Parenting · Self Reminder

Ayah #2 – Lahirlah Sebagai Ayah Baru – by Elly Risman

Saya sudah mengenal gadis ini sejak dia masih balita. Dibawa konsul oleh ibunya karena wataknya yang keras dan membantah, maunya –  maunya. Sebenarnya anak ini sangat pintar dan “determined” – kokoh pendirian atau yang biasa disebut orang keras kemauannya. Banyak sekalli orang tua tidak menyadari bahwa anak yang pintar melihat suatu masalah dengan sudut pandang yang berbeda.

Karenanya, tidak sengaja ortu acapkali menyalahkan pendapat anak karena pendapat tersebut tidak lazim. Semakin bertambah usia perilakunya menjadi semakin kompleks. Saya sudah menemukan kunci utamanya sejak awal, anak ini perlu kehangatan dan perhatian ayahnya. Dia menginginkan ayahnya mengajak bicara seperti ayah ayah temannya dan bersedia mendiskusikan pilihan pilihannya.

Ia juga rindu ayahnya menyapa perasaannya. Sayang, semua itu tinggal harapan. Saya sudah mengingatkan pasangan ini kekhawatiran saya akan kemungkinan akibatnya nanti kalau sebelum baligh persoalan ini tidak terselesaikan. Ayahnya mengetest pendapat saya dengan mengatakan : ” Bukannya semua remaja memang suka bertingkah seperti anak saya bu? ”

“Ya benar pak, serupa tapi tak sama. Karena ada perbedaan individual, perbedaan peran orang tua dan tingkat keinginan orang tua untuk mau berubah atau tidak”. Seperti halnya kita dulu pak, masa remaja memang banyak masalah yang timbul dan dirasakan. Tapi satu hal yang bapak dan ibu harus ingat benar, zaman telah berganti. Anak anda hidup di era digital. Rumah anda wifi, TV berbayar, HP canggih di tangan dan games tersedia.

Dampak dari semua itu pak sulit dikendalikandan berpotensi merusak otak. Sementara putri bapak dan ibu sudah ‘berbekal masalah’ sejak kecil, ujar saya tenang dan berusaha meyakinkan mereka. Hari berlalu, minggu berganti bulan, bulan menjadi tahun dan tahun … Hidup tenggelam dalam rutinitas yang mekanistik. Suatu hari hanya ibu itu dan gadisnya yang datang. Pastilah keluhannya meningkat : Anak semakin keras, sulit diajak bekerja sama tidak terima nasihat, apalagi batasan atau larangan.

Dia sekarang raja bagi dirinya, termasuk menentukan jam pulang dan bahkan pergi sudah tak pamit atau berkilah : perginya ke A sebenarnya ke B ! Ibu ini dengan berurai air mata mengisahkan berbagai upaya yang sudah dilakukannya, tapi dia bingung kenapa anaknya sedikit sekali berubah. Lalu, saya tanyakan bagaimana ayahnya. Ibu ini menjelaskan ayahnya semakin sibuk saja, semakin tidak punya waktu dengan anak anaknya bahkan juga dengan dia, istrinya.

Saya menjelaskan kembali, betapa pentingnya peran ayah, karena di zaman seperti ini dibutuhkan pengasuhan berdua/ dual atau co-parenting. Bukankah ibu tidak bisa hamil tanpa bapak, bu? Artinya, bukankah kita berdua yang diberi amanah oleh Allah dengan tanggung jawabnya masing masing?

Sebagaimana istri istri lainnya, ibu ini sebenarnya mengerti semua apa yang saya sampaikan dan menerimanya, tetapi seperti halnya ibu ibu lain juga, ibu ini tetap berupaya keras mengajukan pembelaan pembelaan yang terkesan menunjukkan keterpaksaannya menerima situasi “ketidakhadiran” ayah dalam pengasuhan anaknya karena alasan bekerja dan karir yang dia “kalah kata” dalam mengingatkan suaminya.

Pekan lalu, ibu tersebut menghubungi saya dan mengatakan sungguh suatu bencana telah terjadi dengan gadisnya tersebut, yang anda pasti tahu apa yang saya maksudkan. Saya tetap memberinya dukungan dengan rasa keibuan saya, saran dan pilihan pilihan jalan keluar.

Waktu menunjukkan bahwa bila ayah membiarkan dirinya sejak awal “kalah kata” dengan anaknya dan istri “kalah kata” dengan suaminya, maka mereka bersama akan sampai pada suatu waktu dimana mereka menuai bencana. Apabila sudah dititik nadir seperti ini, kalaupun ayah berubah apa gunanya? Semua sudah kadung, orang tua hanya merasa bersalah. Rasanya ingin memutar kembali perjalanan waktu dan bingung memulainya darimana.

Semakin hari semakin banyak kasus seperti ini kami hadapi. Agar hal ini tidak terjadi pada anda, marilah kita mengingat dan mencoba beberapa hal berikut ini :

  1. Ketika benih mulai tumbuh dalam rahim, kitalah ayah dan ibu yang diberi amanah oleh Allah.
  2. Memang sesungguhnya tanggung jawab ayah bukan hanya menjadi pencari nafkah tapi juga mendidik istri dan anaknya. Ini akan dipertanggungjawabkan ayah di hadapan Pemberi Amanah suatu waktu nanti.
  3. Karena itulah sebagai pendidik, ayah harus punya waktu untuk mengenali orang orang yang akan dididiknya : istri dan anak anaknya. Mengenal manusia tidak mudah dan yang lebih tidak mudah lagi adalah bagi ayah untuk mengenali dirinya sendiri.
  4. Parenting is all about wiring” Parenting cenderung di turun temurunkan tidak sengaja. Karena otak akan membentuk kebiasaan dari pengalaman yang diperoleh seorang anak. Apa yang biasa diterima seorang anak, maka itulah yang akan dilakukannya nanti ketika menjadi orang tua. Anak yang biasa dicubit akan menjadi ibu pencubit. Anak yang biasa dipukul akan menjadi ayah penggampar. Yang dulu dibesarkan dengan pukulan sapu lidi atau ikat pinggang akan mengenakan hal yang sama pada anaknya lepas dari tingginya jenjang pendidikan dan pangkat yang diraihnya. Begitu juga ayah yang dingin, diam, berjarak dan jarang menyapa akan minta dan mengharapkan istrinya menjadi kurir penyampai semua pesan. Kecuali mereka yang bersungguh sungguh berjuang mengalahkan dirinya sendiri UNTUK TIDAK MENGULANG SEJARAH ! Lahir sebagai ayah BARU.
  5. Semua kita tanpa kecuali punya sejarah masing masing : ayah ataupun ibu. Sebagian bahkan memanggul beban sampah emosi yang sangat banyak dan berat yang tertimbun dibawah sadarnya. Tapi kita telah memilih menjadi ayah ibu. Pilihan selalu punya konsekuensi. Dan konsekuensi itulah yang harus kita tanggungkan sekarang ini. Tidak ada jalan lain, atas nama Pemberi Amanah : Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, kita harus berani memutus mata rantai sejarah masa lalu kita. Seperti sebagian kecil ayah diatas, lakukanlah berbagai cara dan upaya, lahirlah sebagai AYAH BARU untuk memanggul beban baru : Ayah di Era Digital ! Bila tak mampu melakukannya sendiri datanglah pada ahlinya.
  6. Seandainya anda berani untuk mencoba karena Allah, besok pagi mulailah menyapa pendek anak anda walau terasa janggal karena tidak biasa. Belajarlah sekarang menebak perasaan anak anda dengan MEMBACA BAHASA TUBUHNYA. Rubahlah perkataan biasa : sudah bangun? Sudah siap belum? Apakah kamu sudah shalat? Tugasmu sudah kau kerjakan belum? GANTILAH dengan kosa kata perasaan yang terdiri dari 4-8 kata baru : ” Kelihatannya sama ayah kau segar pagi ini” “Sepertinya ada yang membebani pikiranmu ya?” “Terkesan sama ayah kayaknya kamu agak sedih?” ” Bersemangat sekali kamu pagi ini, ada apa sih?”
  7. Perubahan tentu tidak mudah, perlu proses. Semua akan menggeliat, untuk kemudian akan terbiasa. Siap menjalani dan mengalami berbagai reaksi dari sebuah proses perubahan. Dalam hatinya anak tentu bertanya : ” Hhh … ayahku bukan ya? ” “Apa yang terjadi pada ayahku ” ” Mimpi apa ya dia semalam?” dan berjuta dugaan lainnya. Tapi dia pasti menjawab dengan hati yang mulai merekah.

Rasakan pelan pelan hasilnya. Mari berjuang mengalahkan diri sendiri. Lahirlah sebagai AYAH BARU menghadapi tantangan baru. Selamat berusaha, selamat berjuang ! Kalau orang lain bisa, Kita pasti bisa !!


Postingan ini dituliskan kembali dari tulisan Ibu Elly Risman yang diterbitkan pada 14 Maret 2016 di Group FB Parenting With Elly Risman and Family.

2016 · From Group Elly Risman and Family · Parenting · Sarra Risman

Izinkan anak anda menjadi manusia by Sarra Risman

Jangan terlalu banyak peraturan. Izinkan anak anda menjadi manusia. Kalau semuanya tidak boleh, ya susah juga. Susah tumbuh, susah berkembang, susah semuanya. Aturan itu wajib, batasan itu perlu. Tapi kalo kata orang bule, pilih pilih ‘pertempuran’ mu. Kalau anak tidak habis makannya, tidak mengapa. Dia boleh makan sisanya ketika waktu makan berikutnya tiba. Kalau dia belum baligh, malas dan telat sedikit untuk shalat, tidak mengapa. Memangnya kita yang dewasa dengar adzan sudah langsung bermukena?

Kalau dia malas sekolah sesekali, izinkan libur sehari saja. Bukannya kita yang bekerja dapat waktu untuk cuti juga? Kalau dia lagi ngantuk jadi tidak mau merapikan mainannya, ya sudahlah. Tinggal bikin perjanjian saja bahwa dia akan merapikannya setelah bangun dari tidurnya. Kalau lagi sakit dan minta disuapin, lakukanlah. Sudah syukur dia masih mau makan walaupun cuma beberapa suap saja.

Kalau nilainya tidak setinggi yang kita harapkan dia bisa, biarkanlah. Kesuksesan seseorang tidak selalu berdasarkan rangking yang ada dalam buku raport nya. Kalau ada tugas rumah yang lupa dia kerjakan, maklumilah. Bukannya memang manusia itu tempatnya salah dan lupa?

Kalau habis makan, dia menunda mencuci piring, tak apalah. Kita bukannya juga tidak kalah sering menunda pekerjaan kita. Kalau disuruh tidur siang tidak mau juga, biar sajalah. Toh nanti juga malam InsyaAllah tidur nya lebih awal dari biasa. Kalau sebulan sekali kambuh malas ngaji nya, maafkanlah. Acapkali kita juga kalah ketika jendral nya syaithan menggoda.

Kalau disuatu pagi anak keukeuh sumekeuh tidak mau mandi, ya sudahlah. Toh sekali tidak mandi, tidak langsung kurap badannya. Kalau sehabis mandi dia pilih baju yang tidak matching, tutup mata. Apalagi kalau bukan untuk pergi ke tempat penting. Toh yang pake dia.

Kalau sesekali gak mau sikat gigi, biar sajalah. Kan sekali absen gak lantas giginya langsung kuning, bolong atau copot semua. Kalau sudah dibujuk rayu begitu rupa, dimasakin makanan beragam rasa dan tetap tidak mau makan juga, tak apalah. Lagipula kenapa juga dia harus makan ketika ibunya mengira dia merasa lapar? Yang punya perut siapa??

Kalau makannya lagi cuma mau 3-4 suap .. ya sudahlah. Tahukan anda bahwa perutnya hanya segenggaman tangannya saja? 3-4 suap sudah cukup memenuhinya. Izinkan anak anda menjadi manusia, karena orang tuanya bukan malaikat juga. Kadang manusia ada malasnya, lupanya, marahnya, sedihnya, ngambeknya. Tak apa. Jadi ada peraturan ‘wajib’, ada peraturan ‘sunnah’.

Tidak boleh berbohong, mencuri, menyakiti orang lain dan melawan orang tua. Peraturan peraturan yang wajib seperti itu. di masing masing rumah tangga, harus tetap slalu ada. Tapi yang sunnah, seperti memilih pakaian, lagi malas makan, ngambek gak mau bicara, maklumi saja.

Anak anak tidak bisa menyerap terlalu banyak peraturan. Kalau tidak perlu berdebat, tak usah lah. Lagipula bukannya untuk orang yang menghindari perdebatan, dijanjikan syurga? Banyakin hal yang boleh daripada yang tidak, agar ketika bertemu hal hal yang haram, lebih nyata beda nya.

Kalau semua gak boleh, jadi .. yang boleh apa? Kalau semuanya harus perfect adanya, ya nggak mungkin kan ya, lha wong kita yang dewasa saja susah. Sering sekali kita berharap mereka berperilaku seperti kita, bahkan lebih baik, ketika otak mereka saja bahkan belum bersambungan sempurna. Maka kita berkaca sebelum memberlakukan peraturan peraturan di rumah.

Betul, anak harus lebih baik dari orang tua nya. Tapi ekspektasinya harus masuk akal juga. Apa waktu kita seumur dia sudah bisa semua yang sekaran dia bisa? Kan tidak juga. Jadi jangan terlalu cepat marah, sedih dan kecewa, ketika anak tidak berperilaku seperti yang kita minta.

Banyak sekali peraturan agama yang bahkan kita yang dewasa juga belum melakukannya. Apakah lantas Allah langsung memberlakukan hukumannya saat itu juga? Harapan harus berimbang dengan limpahan kasih. Tidak bisa peraturan diberlakukan secara tegas, disiplin dan tanpa toleransi. Harus ada celah untuk malas, capek, marah dan salah. Karena anak anda hanya manusia, seperti anda 🙂

———————————————————————————————————————–

Ditulis ulang dari postingan Sarra Risman yang ditulis di FB Parenting Elly Risman and Family yang diterbitkan, 13 April 2016.

 

2016 · Ayah · Elly Risman · From Group Elly Risman and Family · Parenting

Ayah #1 – Ikut Campurlah Memilih Jodoh Anakmu by Elly Risman

Perempuan muda cantik dan menarik itu duduk di depan saya dengan ekspresi wajah yang hampa. Dia datang untuk berkonsultasi persoalan anaknya yang terpapar pornografi. Tetapi ternyata bukan anaknya saja yang bermasalah, perkawinannya sejuta kali lebih bermasalah.

Sudah tak terhitung berapa banyak saya menghadapi klien yang datang dengan berbagai macam masalah terutama mereka yang sekarang ini menghadapi kerumitan hidup karena anak anak mereka kecanduan games, pornografi, masturbasi dan berbagai bentuk kegiatan yang bisa digolongkan sebagai seks suka sama suka. Ternyata sebagian besar punya masalah dalam perkawinannya.

Bayangkanlah, bagaimana kita akan menolong anaknya, kalau orang tua nya juga bermasalah! Umumnya tak perlu pembicaraan yang panjang, untuk saya menemukan bahwa salah satu akar permasalahannya adalah : ” Keliru Memilih Jodoh !

Jadi, apakah ayahmu tahu latar belakang calon suamimu seperti ini?

Nggak bu atau mereka menggelengkan kepala sambil berurai air mata.

Beliau tidak bertanya apapun? Tanya saya selanjutnya.

Nanya sih bu, cuma bilangnya begini : Kamu sungguh sudah serius? Sudah dipikirin masak masak?

Atau ada juga orang tua atau ayah yang memanggil calon menantu dan hanya menanyakan keseriusannya terhadap anak gadisnya, lalu pekerjaan : sudah bekerja belum, rencana kedepan bagaimana?

Tidak sedikit kasus yang ayahnya tidak bertanya apa apa, tapi langsung menindaklanjuti saja dengan pertemuan keluarga, melamar, pernikahan dan resepsinya – selesai.

Tentu, hal ini terjadi bukan saja pada anak perempuan tetapi juga pada anak laki laki. Tapi mengapa dialog dengan anak perempuan yang saya singgung di atas? Karena secara agama dan budaya, anak perempuan harus dilindungi bukan saja oleh ayahnya tapi juga oleh paman nya dan saudara lelakinya.

Karena sikap orang tua demikian, maka diluar sepengetahuan mereka, anak anak ini baik lelaki maupun perempuan sudah mengalami banyak sekali masalah dalam hubungan mereka jauh sebelum pernikahan berlangsung.

Banyak sekali ayah yang tidak sadar bahwa tidak terlibatnya mereka dalam menentukan pilihan jodoh anak anaknya berakibat sampai ke cucu, seperti kasus kasus di atas. Mendampingi anak memilih jodohnya tentunya tidak bisa dilakukan hanya pada saat kita menanyakan kapan mereka mau menikah atau ketika anak mengajukan calon nya, tapi harus jauh sebelum itu.

Sebagai contoh teringat saya tentang kisah salah seorang staf saya, laki laki lulusan PT negeri jurusan IT 20 tahun yang lalu, ketika saya dan kawan kawan masih menjalankan bisnis riset pasar. Dia bercerita dan minta saran saya bagaimana dia harus bersikap terhadap permintaan ayahnya pagi itu. Saya bertanya apa yang diminta ayahnya? Lalu dia menceritakan dialog dia dengan ayahnya, kurang lebih seperti berikut : “Kau ini apalagi Tommy, sekolah sudah selesai, pekerjaan sudah dapat. Kumis bukan saja sudah tumbuh bahkan sudah lebat, sudah waktunya bapak pikir kamu cari istri !”

Mencari istri dan suami dimulai kapan?

Jawabannya : Dari anak masuk SD bahkan lebih muda !

Hahh ??! tentu anda terkejut karena memilih jodoh sepatutnya diawali dengan belajar memilih teman karena ini adalah bagian dari proses mengasuh seksualitas anak.

Langkahnya adalah sebagai berikut :

  1. Anak harus mendapatkan kelengketan yang cukup dengan kedua orang tuanya sehingga mereka dapat tumbuh sebagai pribadi yang utuh, kokoh dan bahagia.
  2. Komunikasi yang hangat dan menyenangkan sudah harus dibangun orang tua sejak usia sangat dini. Pembicaraan ringan tentang perkawinan sudah dimulai sejak usia diatas 7 tahun ketika kita menjelaskan pada anak mengapa kita harus terlibat, membantu dan hadir ke undangan pernikahan tante, paman, kerabat, teman atau tetangga. Teringat saya suatu waktu 25 tahun yang lalu, ketika adik bungsu saya yang ikut tinggal bersama kami di Amerika mengadukan tentang ketiga anak saya yang sedang duduk di meja makan dan merundingkan siapa nama anak mereka nanti. ” Ya Allah, anak anak sekarang ya kak, masih TK dan SMP saja sudah membahas nama anaknya, siapa suami aja belum jelas !” ujar nya. Saya jelaskan, apa salahnya? Mereka kan sedang menghayalkan masa depan. Terbukti sekarang, saat mereka sudah punya anak, tidak seorangpun dari anak anak saya teringat nama nama yang mereka bahas di meja makan itu dulu. Dalam komunikasi inilah seiring dengan perjalanan waktu, ayah dan ibu bisa bercerita, mencontohkan tentang karakter lelaki dan perempuan yang baik dan bila perlu menanyakan pada anaknya, perempuan dan lelaki yang bagaimana nanti yang mereka harapkan untuk jadi pendampingnya. Proses yang dipentingkan dalam komunikasi ini adalah membangun kemampuan anak untuk berfikir, memilih dan mengambil keputusan untuk dan atas nama dirinya sendiri. Kalau kita tidak bahas, bukankah mereka juga sudah membicarakan hal ini : soal naksir naksiran di kelas 3-4 SD ? Bagaimana kalau ayah tidak pernah membicarakan semua ini, menggantikan kehadirannya dengan gagdet? Anak punya modal dari mana?
  3. Ketika konsepsi terjadi, kedua orang tualah yang menerima amanah Allah, maka kedua orang tua pula lah yang berkewajiban memperkenalkan Allah, Rasul nya dan semua aturan dalam agama serta penerapannya dalam kehidupan sehari hari.
  4. Orang tua juga terlibat sepenuhnya dalam mempersiapkan anaknya menghadapi pubertasnya. Apa itu pubertas, apa yang terjadi, bagaimana menghadapi dan mengatasi isyu seputar pubertas khususnya : naksir naksiran, nembak, “jatuh cinta”, jalan, pacaran dari sudut pandang agama, biologi bahkan neurosains. Disinilah gentingnya bagi orang tua untuk menegaskan sikap, menentukan aturan, memahamkan anak akan berbagai macam akibat pergaulan yang jauh dari nilai agama. Hal yang tidak bisa dilupakan adalah bagaimana mengajarkan anak untuk membangun kemampuan membuat kriteria memilih teman. Mereka harus mampu merumuskan, mendiskusikan dan dipantau pelaksanaannya. Tentu tidak semua orang tua bisa. Tapi siapa yang mau akan ketemu jalannya bukan? Abainya kebanyakan orang tua dalam hal inilah yang menjadi dasar dari perilaku “liar” anak dan remaja sekarang. Mereka bukan saja tidak punya keterampilan menyeleksi tapi tidak berbekal ilmu yang memadai. Sebagai contohnya, anak anak yang mengalami kecanduan masturbasi tidak tahu tata cara mandi wajib.
  5. Begitu anak baligh, kita harus sudah menjelaskan bahwa apa yang terjadi pada mereka sebenarnya adalah bagian dari proses persiapan untuk menikah, berkeluarga dan memiliki keturunan nantinya. Tanggung jawab dia sebagai seorang yang berdasarkan hukum agama sudah dianggap dewasa harus ketat dikawal pengetrapannya karena anak sudah secara seksual aktif/ ” Sexually active”.
  6. Setelah tahapan ini anak secara perlahan tapi pasti sudah disiapkan untuk menjadi istri, suami, ayah & ibu. Orang tua terutama ayah sudah menggariskan harapan yang realistis bagi masa depan anaknya. Kalau dulu membantu anak membangun kriteria memilih teman, sekarang biarkan mereka dengan arahan ayahnya bereskperimen membangun kriteria memilih calon pasangan hidupnya.
  7. Anak perempuan akan mengalami kerisauan atau kegalauan tentang masa depannya pada usia 20-22. Ortu hendaknya mendampingi anaknya melewati masa krisis tersebut. Otak anak perempuan seperti otak ibunya, lebih kuat sebelah kanan. Mereka mudah berkhayal dan cenderung melihat masa depan secara lebih emosional. Disinilah ayah dengan otak kiri yang lebih dominan untuk mengarahkan anaknya lebih realistis dalam menentukan pilihan. Ketidakhadiran ayah dalam hal inilah yang memungkinkan anak melakukan kesalahan dalam pengambilan keputusan. Bayangkan bila ke 6 hal yang diuraikan diatas, selama ini hampa.
  8. Ayah, bukan saja harus membantu anak perempuannya untuk menemukan fakta tentang masa depan calon menantu, tapi juga sepatutnya menyidik masa lalu nya. Bibit-bebet dan bobotnya. Bukan hanya menanyakan tentang pendidikan formal, tapi bagaimana dia diasuh. Bagaimana hubungannya dengan ayahnya, siapa yang keras dalam pengasuhannya dan apa dampaknya semua itu bagi diri calon menantunya sekarang ini, karena ayah akan “mengikatkan anak gadisnya di tiang rumah keluarga suaminya”.
  9. Terakhir, karena calon menantu ini adalah generasi Y, ayah perlu tahu secara langsung atau melalui gadisnya, sejarah keterlibatan sang calon dengan alkohol, narkoba dan pornografi.

Sahabat baik saya seorang dokter spesialis kulit dan kelamin terkemuka menyarankan sekarang ini hendaknya ayah juga harus meminta kesediaan calon menantunya untuk melakukan pemeriksaan darah dan anus. Anda tentu nya faham dengan semua berita kegawatan yang meresahkan kita sekarang ini. Saran sahabat saya tersebut sangat relevan.

Seandainyalah semua ayah berusaha menjalankan fungsinya seperti diatas, pastilah anak anaknya akan mampu berfikir, memilih dan mengambil keputusan yang tepat dalam memilih calon pasangan hidupnya. Insha Allah tidak akan kita temukan istri istri seperti yang saya gambarkan diatas. Akan selamat dan bahagialah bukan saja anak anaknya tapi Insha Allah juga cucu dan cicitnya. Ayah dan ibu akan jadi kakek dan nenek yang bahagia Insha Allah dunia akhirat.

————————————————————————————————————————–

Ditulis ulang dari posting di Group FB Parenting bersama Elly Risman and Family yang diterbitkan pada 7 Maret 2016.