2016 · Elly Risman · From Group Elly Risman and Family · from group FB Parenting with Elly Risman and family · Parenting · Sharing

Memahami Mengapa Anak Menggunakan “Bad Words” dan Bagaimana Mengatasinya

” Tuing ! … ” denting hape saya menandakan ada pesan masuk. Saya kerling : nama Firdaus muncul di layar. Firdaus adalah Kepala Divisi Anak dan Remaja (DIAR) di YKBH. Sebagai pimpinan Divisi, Firdaus mempunyai kewajiban untuk melaporkan bukan saja rencana kegiatan DIAR pekan atau bulan ini tapi juga dengan cepat memberitahu saya tentang berbagai temuan lapangan terutama yang genting genting. Biasanya laporan temuan lapangan ini perlu segera ditindak lanjuti.

DIAR adalah bagian dari YKBH yang sangat saya syukuri dan banggakan kehadiran dan kerja kerasnya. Sejak berdirinya 14 tahun yang lalu, membuat YKBH memiliki data mingguan tentang perkembangan pengetahuan dan kelakuan anak anak sehubungan dengan perilaku pubertas mereka dan juga hal hal yang berkaitan dengan pornografi.

Luar biasa perannya dalam advokasi yang kami lakukan untuk membangun awareness tentang kerusakan otak akibat pornografi baik ke lembaga legislatif termasuk ketika berjuang mengesahkan UU Pornografi dan mempertahankannya di Mahkamah Konstitusi, di Kementrian dan  Lembaga, Sekolah, masyarakat luas juga ketika memperkenalkan apa yang sudah kita kerjakan sebagai bangsa dalam sidang PBB di Wina serta saat YKBH menerima penghargaan di Amerika.

Jadi beberapa hari yang lalu, pesan yang dikirim Firdaus adalah tentang keluhan berbagai fihak, kepala sekolah, orang tua, pimpinan lembaga tentang semakin meningkatnya penggunaan “BAD WORDS” di kalangan anak anak. Bila dulu kata kata seperti ini diucapkan dengan mudah oleh anak anak SMA atau SMP, beberapa tahun yang lalu oleh anak anak SD kelas tinggi, kini jadi bahasa harian anak SD kelas rendah : murid kelas 2-3 !

Masalah utamanya adalah fenomena ini bukan hanya terjadi di sekolah di wilayah JABODETABEK saja, tetapi juga di berbagai kota yang belakangan ini dikunjungi oleh tim DIAR karena  kerjasama kami dengan Telkomsel untuk mensosialisasikan program internet baik. Saat tulisan ini saya buat, tim kami baru take of menuju Manokwari.

Kapan BAD WORDS digunakan?

Umumnya ketika anak kesal dengan temannya. Tetapi karena sebagian anak merasa mampu mengeluarkan dan menggunakan kata kata ini kesannya ” Keren “, maka mereka mengucapkannya dalam berbagai situasi, keluar otomatis begitu saja.

Apa saja BAD WORDS yang paling populer?

Saya minta maaf untuk menuliskan ini, tetapi agar ayah bunda tidak merasa aman dan menganggap anaknya tidak tahu kemudian agar ayah bunda mulai mewaspadai anak anaknya. Kata kata yang paling digunakan anak untuk mengekspresikan perasaannya adalah

“WTF” (What The Fu*k) – Fu*k – Anj**g – Mony*t – Ba*i  … dll

Istilah vulgar yang sangat enteng keluar begitu saja dari mulut mereka adalah : Ngen**t  – Kon*** dan berbagai cara orang menyebutkan organ kelamin manusia. Hadeuh !!

Dari mana sumbernya ?

Menarik sekali pengamatan dan pemantauan yang dilakukan oleh guru dari berbagai sekolah yang sudah biasa bekerjasama dengan DIAR. Mereka sudah mulai membangun cara komunikasi yang nyaman dengan murid muridnya untuk mengetahui perasaan mereka dan bekerjasama untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Menurut guru ini anak anak ini mendapatkan semua BAD WORDS tersebut selain dari teman adalah dari beberapa jenis komik tertentu dan umumnya dari vlog youtubers dan social media. Entah bagaimanalah kontrol penggunaan gadget di rumah, sehingga anak anak belia ini telah menjadi followers dari beberapa youtubers dan tokoh sosmed yang biasa bicara kasar dan menunjukkan bahwa mampu melakukan hal seperti itu jadi : “keren”.

Kami telah mengantongi beberapa nama ” tokoh-tokoh” tersebut dari pernyataan anak anak dan laporan guru.

Jadi bagaimana ?

Izinkan saya mengusulkan beberapa langkah yang saya harapkan bisa digunakan baik oleh orangtua maupun guru.

  1. Kita harus menyelesaikan dengan bijak dan baik kebiasaan buruk yang mulai merasuki anak kita, karena pertanggung jawaban kita pada Allah untuk menghasilkan anak yang berbudi dan beradab.
  2. Mulailah dengan tidak berburuk sangka bahwa anak kita telah melakukannya walaupun mungkin sudah.
  3. Tolong sadari dulu bahwa belum tentu anak mengerti apa yang diucapkannya. Mereka melakukannya umumnya karena meniru dan supaya tidak berbeda dengan temannya.
  4. KIta harus berusaha menciptakan situasi yang kelihatannya tidak sengaja untuk membicarakan ini dengan anak, padahal sudah disiapkan dengan rinci.
  5. Gunakanlah bahasa yang mudah dimengerti termasuk untuk menjelaskan istilah dan gunakan kalimat yang pendek pendek serta banyak kalimat bertanya.
  6. Siapkan peralatan berupa 2 buah gelas container yang bening atau baskom kecil, air putih 2 botol atau teko kurang lebih 1000 ml dab cairan kopi kental setengah gelas.
  7. Berlatih untuk menyampaikannya sehingga kelihatannya tidak serius sekali tapi santai bak mendongeng.
  8. Bercakaplah dengan nada yang rendah dan rileks tapi fokus. Matikan hape dan minta bila ada saudaranya ditangani dulu oleh orang lain jadi tidak ada gangguan.

Hal hal yang harus kita ketahui lebih dulu :

  1. Kita harus pandai menyidik, kata kata buruk apa saja yang pernah didengar anak.
  2. Harus dibedakan antara anak laki laki dan anak perempuan.
  3. Darimana mereka mendengar atau mengetahuinya ?
  4. Siapa saja diantara teman temannya sudah biasa menggunakannya, apakah anak juga pernah membalas? Apa yang diucapkannya? Kapan?
  5. Karena teman temannya sudah biasa menggunakannya, apakah anak juga pernah membalas? apa yang diucapkannya? Kapan?
  6. Sudah berapa kali sejak pertama mengucapkannya?
  7. Kata kata apa saja yang sering digunakan anak?
  8. Bahas satu satu apakah anak mengerti atau tidak apa yang dikatakannya. Gunakan kalimat sederhana dan setelah dijelaskan tanyakan apakah panyas kata kata itu kita gunakan? Misalnya kata Mo***t, Ba*i , itukan binatang. Fu*k = orang melakukan hubungan suami istri. Pantas tidak kita ucapkan? Melanggar ketentuan Allah tidak? Jadi hukumnya apa?
  9. Perlu sekali menggunakan banyak kalimat bertanya karena untuk menjawab anak harus berpikir dan harus menengok ke dalam dirinya sehingga inilah yang penting : Menimbulkan kesadaran diri.
  10. Cari tahu dititik mana anak tidak bisa mengontrol dirinya sehingga dia terpaksa mengatakannya. Ini kita sebut sebagai : ” Keterampilan yang hilang “.
  11. Bagaimanakan perasaan anak ketika dia mengucapkan kata kata itu?

Anda bisa menambahkan beberapa hal yang ingin anda ketahui. Apa selanjutnya ? Pengumpulan informasi diatas bisa saja dilakukan oleh ibu. Tetapi sebaiknya untuk membahasnya dilakukan oleh kedua orang tua. Kehadiran ayah dalam hal ini amat sangat penting karena ayah selain penentu kebijakan dan aturan dalam keluarga, ayah bisa bicara tegas dan meyakinkan dengan menggunakan kalimat yang lebih pendek, terencana sehingga lebih mudah difahami anak.

  1. Mulailah dengan menyampaikan kondisi keluarga kita. Kita keluarga baik baik dan harus bicara baik baik seperti yang diperintahkan Allah : Wa kuulu linnasi husna ! : Bicaralah baik baik dengan sesama manusia. Gunakan kalimat bertanya : Kalau Allah sudah memerintahkan kita seperti itu, apakah kita boleh menggunakan BAD WORDS? Buat kesimpulan, bahwa dalam keluarga kita (minimal) kita harus bicara baik baik dan berusaha di luar keluarga kita, kita tetap memelihara diri untuk bicara dengan baik baik. Menggunakan kata kata seperti yang diperintahkan Allah : Qaulan Kariman : Bicara dengan kata yang baik, mulia – Kaulan Maisuran : Berkata yang mudah dimengerti – Qaulan Layyinan : berkata dengan lemah lembu, dll sambil merujuk ke Al Qur’an : surah dan ayatnya. Biasakan jadikan al Qur’an sebagai rujukan dan bila perlu ikut mencari dari indeks dan membaca ayatnya dan artinya langsung. Bila anda berbeda agama, gunakan cara yang sama dengan kitab suci anda.
  2. Role Play : bagaimana kalau temanmu menggunakan BAD WORDS ? Tunggu jawaban. Karena anak harus tahu bagaimana bersikap dalam situasi yang tidak menyenangkan dan dia harus menggunakan keterampilan dan pengetahuan yang ada dalam dirinya, bukan yang kita ingatkan dalam nasihat. Minta anak untuk memikirkan beberapa alternative untuk menjawab dan menyikapi temannya. Misalnya dengan mengatakan : ” Maaf ya, aku gak mau ikut ikutan kamu berkata jorok”. “Kalau kamu mau kamu aja, aku gak ikut ikutan!” dan lain lain. Biarkan alternative itu keluar dari anak dan hargai, bahkan kalau perlu puji : Keren, Hebat, Tuh kan anak ayah bisa! CATATAN : Role play sangat penting, karena 2 hal : (a). Anak berfikir konkrit, jadi harus dengan contoh. (b). Anak perlu memiliki modal yang sudah dibangun, diproduksi dalam dirinya, tinggal digunakan. Apalagi semua telah disetujui dan diakui kedua orang tuanya.
  3. Kini gunakan lah alat peraga, sambil menjelaskan bagaimana terjadinya “wiring” dalam otak anak karena kebiasaan. Setiap kali apa yang kita dengar dan kita lakukan otak membuat sambungan. Kalau dilakukan berulang ulang maka sambungannya akan menjadi sangat tebal karena otomatis. Maukah sampai dewasa berkata kotor dan kasar seperti di you tube dan med sos? Bagaimana kalau jadi orang tua, pemimpin perusahaan dan pemimpin orang banyak?
  4. Berikutnya ambilah gelas dan isilah 1/2 dengan air. Lalu ambil cairan kopi dan masukkan setetes. Tanya kepada anak mengapa warna air berubah? bagaimana kalau dimasukkan setetes lagi dan lagi dan lagi apa yang terjadi? Buat kesamaan dengan otak yang bersih dimasukkan air yang keruh/kopi dengan otak yang bersih kemasukkan kata kata kotor.
  5. Seumpama air yang semakin keruh itu tadi apakah menurut anak bisa diubah?
  6. Nah sekarang ambillah air yang kotor itu, letakkan di atas kontainer yang kosong. Lalu terus menerus diisi dengan air bersih yang 1000ml tadi sedikit demi sedikit sehingga air yang kotor tumpah ke bawah ke dalam kontainer dan air di dalam gelas menjadi semakin bersih.
  7. Jelaskan bahwa otak yang kotor bisa dibersihkan bila mau yaitu dengan terus menerus mengisinya dan menggantikan kata kata yang kotor dengan kata yang baik : tolong, terima kasih, maaf dan berbagai kata baik atau pujian lainnya.
  8. Tanyakan pada anak : mau otak bersih apa kotor? Mau berusaha atau tidak?

Motivasi, dukung dan dampingi !

Berpikirlah positif dan jadilah tauladan karena contoh dan teladan bekerja ribuan kali lebih baik daripada kata kata saja. Selamat berjuang, yuk kita berusaha melestarikan budaya bangsa kita seperti yang selama ini kita kenal : Bangsa yang berbudi luhur dan beradab tinggi. Jangan sampai terkikis oleh zaman dan teknologi.

Kuala lumpur, dini hari 21 November 2016* #mengasuh generasi digital

Elly Risman


Ditulis kembali dari tulisan Ibu Elly Risman yang diposting pada Group FB Parenting with Elly Risman and Family yang diterbitkan pada 21 November 2016, pk.12.08 AM.

2016 · Elly Risman · from group FB Parenting with Elly Risman and family · Parenting

Your Words Shape Your Children’s World ! – by Elly Risman

“Andreeeeiii ….. tobat deh, tuh liat deh naliin sepatu aja dari tadi gak bisa bisa … bener bener deh … lama banget ! ” Teriak bu Anton pada anak laki laki nya yang berusia 6 tahun yang masih berkutat menalikan sepatu nya. Kehilangan kesabarannya, bu Anton menghampiri anaknya dan mengatakan :

” Ngiket tali sepatu aja gak bisa bisa dri, bagaimana coba nanti masa depanmu? ” Andri memiringkan kepalanya dan menatap ibunya dengan pandangan heran tanpa kata kata lalu meneruskan mengikat tali sepatunya.

Mungkin dalam hatinya ia berkata : “Ya Allah mama … ini kan urusan ngikat sepatu doang … masa depan masih jauh banget! ”

Tidak sengaja mungkin, tapi banyak sekali kalimat kalimat negatif terlontar dari mulut orang tua ketika menghadapi kenakalan, keterlambatan atau tingkah laku yang tidak sesuai dengan harapan, baik bernada meremahkan, merendahkan atau menjatuhkan terhadap anaknya.

Padahal banyak orang percaya bahwa kata kata orang tua itu bak sebuah doa. Saya teringat  pengalaman saya berpuluh tahun yang lalu ketika saya dan teman teman pelatih dari Yayasan Kita dan Buah Hati menyelenggarakan pelatihan Bagaimana ngomong dengan anak di daerah kumuh belakang mall Mangga Dua Jakarta Pusat.

Mula mula pelatihan ini hanya diminati beberapa orang saja. Di hari kedua, ruangan kecil sebelah rumah pak RT itu tak sanggup menampung ibu ibu yang berminat untuk ikut serta. Selama pelatihan banyak sekali ibu ibu yang menyesal bahkan menangis dan bertanya bagaimana caranya agar mereka dan anak mereka bisa berubah.

Pasalnya, selama ini karena hidup mereka susah penuh tekanan, ibu ibu ini sering kehilangan kesabarannya dalam menghadapi anak anak mereka. Mereka bukan saja berkata kasar, mencubit, memukul tapi juga mengata ngatai anak mereka menggunakan kata kata yang mereka sebut “kebun binatang”.

Seorang ibu mengadu sambil berurai air mata pada saya : “Emang bener bu, makin lama kelakuan anak saya makin bandel dan keras banget aja bu!” Bagaimana bu, bantuin saya …..

Tak luput pula dari kenangan saya bagaimana ibu saya mengingat seorang ibu yang masih keluarga jauh kami agar menjaga dirinya supaya “mulutnya tidak terlalu tajam” pada anak lelaki nya yang sudah remaja.

Nanti, kata ibu saya ‘ Kalau hidup anakmu seperti kata katamu, kau juga yang akan menderita!” Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun ….. kami semua menyaksikan bagaimana ibu itu menderita karena susahnya penghidupan anaknya itu. Dia datang menemui ibu saya, menangisi nasib anaknya. Ibu saya menganjurkannya untuk minta ampun pada Allah.

Parenting is all about wiring, bagaimana ujung ujung sinaps kita terkoneksi oleh pengalaman pengalaman hidup kita, termasuk kata kata dan sikap serta perilaku yang kita terima. Tak ubah seperti lampu lampu yang banyak dalam sebuah ruangan. Di belakang lampu lampu itu pasti banyak kabel kabel yang menghubungkan satu lampu dengan lampu lainnya.

Ada warna biru, hijau , kuning, merah, putih dan dibalut selotip. Tekan satu tombol, semua lampu menyala. Begitulah kebiasaan kebiasaan yang terbentuk sengaja atau tidak selama pengasuhan baik dari orang tua dan orang sekitar , akan keluar otomatis ketika seseorang itu menjadi orang tua pula nantinya, lepas dari tinggi rendahnya jenjang pendidikan dan kelas sosial.

Sebagai contoh adalah pengalaman yang sama yang saya peroleh dalam ruang praktek saya. Seorang gadis remaja yang cantik dan lembut keliatan sangat bingung, nyaris depresi duduk mematung di depan saya.

Dari pembicaraan yang panjang ternyata dia tidak sanggup menggapai target yang diharapkan ibunya yang baginya terlalu tinggi. Dia lelah melompat dan melompat meraihnya ternyata tak pernah sampai, sehingga jiwanya terengah engah. Harapan ibu itu disampaikan dalam kalimat yang bagus dan nada rendah, tapi menekan dan nyelekitnya bukan main …

Semua upaya anak ini tak pernah berharga. Bak kata orang : ” When the best is not enough! ” Padahal kedua orang tuanya pasca sarjana lulusan negara adidaya. Bahkan ketika suatu saat ibunya sangat kesal, ia sempat mengatakan pada anaknya : “Lihat tuh kamar anak gadis gak ada bedanya sama kandang ba** !”

Entah bagaimanalah dulu nenek anak ini mengasuh ibunya. Tidakkah dalam keseharian kita, kita menemukan hal serupa terjadi di sekeliling kita? Dan kini, anak itu seperti ibu diatas telah menjadi orang tua atau pejabat publik, pemimpin dunia usaha atau lembaga. Tidakkah sesekali atau seringkali pengalaman lamanya otomatis muncrat dalam kesehariannya?

Kata kata kasar bahkan keji dan sikap sikap kurang terpuji? Atau kita menemukan dan mengalami ada di lingkungan keluarga atau masyarakat seseorang yang sangat baik dan rendah hati, santun dan dermawan atau bersikap terpuji bak negarawan? Paling tidak kita mengetahui bagaimana “wiring” mereka.

Kalau anda bawahan orang yang kasar dan anda mau jadi mulia, maka maafkan sajalah. Yang sehat yang ngalah. Mau tak mau kita benarkan jualah pepatah lama : “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya! ” Bagi kita yang penting adalah mewaspadai diri sendiri dalam berkata kata karena kita tentu tak mau menderita di hari tua, ketika menyaksikan anak kita suatu hari nanti memarahi anaknya, cucu kita !

MAKNA KATA KATA BAGI ANAK

Bila kata kata yang keluar dari ayah ibu, kakek nenek, paman bibi, guru dan orang penting lain sekitar anak penuh kasih dan sayang, penerimaan, penghargaan dan pujian, maka jiwa anak menjadi sangat padat, kokoh dan bahagia.

Keadaan ini yang membuat mereka merasa berharga dan percaya diri. Tapi bila sebaliknya, konsep diri tidak terbentuk dengan baik, hampa dan berongga. Darimana anak bisa merasa berharga di depan orang tuanya sendiri? Apalagi PD ! Anak anak seperti ini akan tumbuh jadi pribadi yang sulit diajak kerjasama, melawan dan menyimpan berjuta emosi negatif dari sedih yang dalam, kecewa, bingung, takut, ingin menjauh dari orang tua, benci bahkan sampai dendam !

Bagaimanalah hubungan anak dan orang tua tersebut? Jarak antara keduanya tak bisa dihitung dengan kilometer. Apa yang ditanam itulah yang dipetik di hari tua. Hanya anak dan orang tua itu saja yang paham bagaimana sesungguhnya makna dari hubungan mereka. Karena umumnya hal ini susah diungkapkan dengan kata kata, hanya hati yang merasa.

Perbaiki kata dalam bicara dan lempar anakmu ke masa depan secara emosional …..

Otak kita, seperti juga tubuh kita, berkembang dan berfungsi secara bertahap, pakai proses. Tentu saja perlu waktu. Tapi banyak orang tua lupa akan hal ini dan ingin semuanya berlangsung cepat. Jadi seringkali mereka bicara dengan anaknya seolah anak itu sudah besar dan mengerti apa yang dia katakan dan harapkan.

Saya tak hentinya bersyukur dianugerahi Allah orang tua yang bijak dan menjalankan aturan agama. Berkata dengan baik baik, memanggil dengan panggilan yang baik, penuh kasih dan perhatian. Waktu kecil, saya sangat kurus, kulit sawo matang agak gelap dan asmatis pula, bayangkanlah !

Apa yang diajarkan ayah dan ibu saya selalu bertahap dan dengan ajakan dan harapan tentang masa depan yang saya jangankan bisa membayangkannya, mengerti saja tidak. Suatu hari ibu saya berkata pada saya : “Mau nggak Elly mama ajarkan bagaimana cara memasak dengan cepat? ” Lalu ibu saya bercerita tentang mengapa itu perlu, memberikan contoh dikeluarga kami ada ibu ibu yang sudah punya anak tapi tak mampu melakukan tugas dapur dan tata laksana rumah tangganya dengan baik.

Lalu ibu saya melemparkan saya secara emosional ke depan dengan berkata seperti ini : “Nanti, Insha Allah Elly akan punya suami yang hebat, pejabat pula. Sebagai perempuan kita ini nak, harus bisa “diajak ke tengah” (masuk dalam pergaulan menengah) tapi rumah dan dapur harus selesai !” Saya tak bisa membayangkannya.

Puluhan tahun kemudian, seperti orang lain juga, kami merangkak dari bawah dan sampai pada suatu titik dimana sebagai staf dari pejabat tinggi Negara, kami kebagian tugas untuk menerima tamu yang merupakan pejabat tinggi atau utusan negara lain pada saat ‘open house’ lebaran di rumah beliau.

Saya datang dan  mencium lutut ibu saya, berterima kasih atas kata kata beliau dulu dan doanya. Saya tidak bisa datang di hari pertama lebaran karena saya mendampingi suami saya bertugas. Seperti yang dulu beliau sering ucapkan kepada saya, benar adanya : suami saya “membawa saya ketengah” Ibu saya membelai belai kepala saya dan menciumnya.

Mungkin bagi orang lain ini hal sederhana dan biasa saja, tidak begitu buat seorang Elly yang dulu kurus, hitam dan asmatis pula. Lagipula, kami berasal dari sebuah kampung di ujung Sumatra yang namanya tak akan anda temukan di peta ! Apa yang saya alami buat saya dan keluarga saya sesuatu yang luar biasa, tak terbayangkan sebelumnya.

Di daerah kami itu, ada kebiasaan orang tua bila marah menyebut anaknya : “Bertuah !” yang artinya “sakti, keramat, beruntung atau selamat !” Jadi, kalau anaknya nakal sekali ayah atau ibunya akan berkata atau berteriak : “Ya Allah ini anaaakk, benar benar ‘bertuah’ engkau !”

Seandainyalah kalau kita lagi marah sama anak kita, kita bisa mengucapkan kata yang serupa … Belakangan saya membaca riwayat Imam Abdurrahman Sudais yang mungkin juga anda sudah tahu. Bagaimana  ketika beliau kecil juga suka iseng atau mungkin nakal. Ibu beliau tengah menyiapkan jamuan makan dan sudah mengatur dengan rapih makanan yang akan disantap. Tidak disangka Sudais kecil mengambil pasir dan menaburkannya di atas makanan tersebut.

Tapi mulianya sang ibu yang sangat kecewa itu, beliau ‘menyumpahi’ anaknya dengan kata “Ya Allah, semoga anakku ini menjadi imam Haramain !” (Kedua mesjid Al Haram dan Nabawi)

Di negeri kita ini banyak kisah serupa. Saya menamatkan membaca buku Athirah yang mengisahkan riwayat hidup ibunya bapak wakil presiden Jusuf Kalla, yang sekarang filmnya sedang tayang di bioskop. Alkisah ibu Athirah ini sedang berkendara dengan pak JK dan mereka melewati rumah Gubernur Sulawesi Selatan. Ibu Athirah berkata (kurang lebih) pada anak lelakinya yang sangat setia ini : ” Saya sebenarnya mengharapkan engkau tinggal di rumah itu !” Kenyataannya, pak Kalla dapat jabatan yang lebih tinggi dari Gubernur.

Walaupun sebagai orang tua kita telah berusaha melakukan yang sebaik yang kita bisa untuk anak anak kita, tapi kita tetap manusia yang bersifat silap, salah tidak tahu atau lupa!. Sayapun juga begitu, tak luput dari semua itu. Saya melakukan banyak kesalahan sebagai seorang ibu. Lalu begitu sadar, saya sujud, mohon keampunan Allah.

Marilah kita lihat masa lalu kita lewat kaca spion saja agar tidak lupa, tapi yuk kita fokus ke masa depan. Kita minta ampun pada Allah untuk semua keliru dan salah yang kita lakukan sengaja atau tidak sengaja. Kini dan kedepan mari berikan anak kita pondasi yang kokoh untuk mampu tegar di tengah persaingan yang semakin seram saja.

Percayalah, semua anak akan Allah beri masa depan dan itu bak dinding yang hampa. Biarkanlah anak itu melukisnya sendiri. Marilah kita terus menerus belajar mengendalikan kata kata karena : Your words shape your children’s world !

——————————————————————————————————————

Ditulis ulang dari postingan Ibu Elly Risman di group FB Parenting with Elly Risman and Family yang diposting pada 2 Oktober 2016, pk.23.43

Semua gambar diambil dari Instagram @joyofmom

 

 

2016 · from group FB Parenting with Elly Risman and family · Me & Him · Menjaga Cinta · Sarra Risman · Suami Istri

Jangan Enggan Berkencan by Sarra Risman

Berbicara tentang parenting, kita sering sekali lupa pada akar katanya, yaitu : parents. Sepasang laki laki dan perempuan yang memutuskan untuk bersama dan memiliki keturunan. Sering sekali waktu ‘bersama’ itu terlupakan semenjak tangisan anak pertama … apalagi setelah anak kedua, wah … hampir tidak pernah.

Padahal, proses yang bermula dengan 2 orang ini … walau terseling oleh 1 .. bahkan 17 anak sekalipun akan kembali berdua lagi. Bila waktu ‘berdua’ tidak sering dipupuk dan disirami, ketika waktunya untuk kembali berdua saja, akan terasa seperti 2 orang asing yang tidak saling nyaman antara satu dengan yang lainnya.

Kesibukkan kita sehari hari, ya mengurus anak, ya kerja di kantor, ya pekerjaan rumah tangga, mengkonsumsi sebagian besar tenaga dan waktu kita sampai sampai hampir tidak ada waktu lagi untuk pasangan kita. Dari hari berganti bulan, bulan berganti tahun.

Kita sibuk jadi karyawan, jadi ibu, jadi ayah … sampai lupa untuk menjadi kekasih dari pasangan kita. Ketika di awal pernikahan, banyak puisi, pegangan tangan dan rangkaian bunga, sekarang sudah rasanya dicinta. Kita cuma sempat menjadi kekasih beberapa menit saja dibalik pintu terkunci, sekali seminggu, sudah bagus.

Padahal setelah semuanya berakhir (pekerjaan pensiun, kawan pergi, orangtua meninggal dan anak menikah dan menjadi mandiri), pasangan kitalah yang InsyaAllah setia menemani sampai waktunya tiba untuk kembali. Jadi … sisihkanlah waktu anda untuk memainkan peran ‘kekasih’ ini, karena peran ini lebih penting dari yang kita sadari.

Pergi jalan jalan berdua saja, nonton di bioskop kek, jogging bareng pagi pagi kek atau go the extra mile dan have a candle light dinner. Gunakan ‘tanggal pernikahan’ sebagai patokan berkencan dengan istri. Titipkan anak anak sekali kali ke nenek dan kakek tidak membuat anda berdosa dan nenek kakek pun InsyaAllah tidak keberatan asal jangan terlalu lama.

Kalau tidak punya saudara yang tinggal dekat dan bisa dititipi (biasanya mereka yang diluar negeri yang sering mengeluhkan ini) janjian sama kawan karib dan bikin playdate antar anak anaknya, jadi kedua pasangan bisa saling bergantian untuk spend time berdua saja. Kalo itu gak bisa juga, ya setelah anak anak tidur jangan langsung tidur juga atau sibuk dengan masing masing handphone dan gadgetnya. Nonton bareng dengan supermi hangat 2 porsi, makan sepiring berdua. Gak perlu sering sering, cukup sebulan sekali saja. Kalau setiap hari, yang ada malah jumlah anak yang bertambah.

Intinya, cari caralah. Anak muda yang otaknya belum bersambungan aja bisa cari cara pacaran diam diam di belakang ortu mereka, masa kita yang sudah tua, sudah dewasa, sudah halal, kalah?

Hal ini terkesan sederhana dan sering sekali jadi prioritas ke dua puluh lima dari kesibukan yang ada, padahal efeknya jauh dan lama. Ketika pasangan kita happy, mereka akan bisa menjadi manusia, karyawan, anak, hamda dan ORANGTUA yang lebih happy juga. Kalau orangtuanya happy … anak anakpun akan merasakannya.

Jadi ambil kalender dan hubungi pasangan anda. Katakan bahwa anda merindukannya dan tentukan tanggal kencan bersama sekarang juga. Kemesraan pernikahan anda akan menjadi contoh bagi anak anak anda dalam pernikahan mereka kelak. Jadi … jangan enggan berkencan 🙂


Ditulis ulang dari postingan Sarra Risman yang diposting di Group FB Parenting With Elly Risman and Family yang diterbitkan pada 9 Maret 2016, pk.20.56.

2016 · from group FB Parenting with Elly Risman and family · Parenting · reminder · wina risman

Ibu HARUS Pintar

Terkadang saya suka bingung harus menulis apa ketika giliran saya posting. Berhubung group ini adalah group parenting, pastinyalah anggota member mengharapkan postingan yang sedikit banyaknya berkenaan dengan anak dan atau pengasuhannya. Sementara di satu sisi, saya masih sangat berjuang untuk menjadi hamba yang baik, yang amanah pada titipanNYA.

Disisi lain : sampaikanlah walau satu ayat.

Di pengajian yang saya hadiri beberapa waktu yang lalu, saya sempat bertanya pada ustadzah yang juga sudah seperti tante sendiri .. Tentang kegalauan saya.

Tentang pesan ibu saya mengenai neraka, dimana di dalamnya ada orang orang yang menyampaikan pesan baik, namun gagal mengaplikasikannya kepada keluarganya sendiri. Naudzubillah. Saya bertanya tentang masalah diatas yang disandingkan dengan ‘sampaikanlah walau satu ayat.’ Alhamdulillah jawaban beliau sangat komprehensif dan mengenyangkan alam berfikir saya yang masih sempit ini.

Menurut beliau, Barakallahufiiki, sebaiknya disampaikan. Karena, jika disampaikan, maka akan menjadi cambuk buat diri sendiri juga. Jika disampaikan, maka mungkin yang kita belum mampu tetapi orang lain bisa. Maka Insha Allah menjadi amal jariyah buat kita.

Jika ibu ustadzah dan teman teman yang paham agama membaca ini dan merasa ada kejanggalan, mohon saya diingatkan. Walau tetap terpatri dalam benak saya kata kata ibu saya, karena saya percaya itu juga betul dan baik adanya. Bahwa, usahakanlah apa yang kamu sampaikan pada orang, kamu lakukan dulu sendiri dan sampaikan juga pada sanak saudara, kerabat disekitarmu.

Jadi, walau terasa masih dhaif dan jauh dari perfect, Bismillah saya berbagi (mohon maaf jika prolog nya panjaaaanggg sekaliiii).

Bukan sekali dua, saya ditanya, diberi wajah aneh, membuat orang bingung dan juga disayangkan, karena pendidikan tinggi yang saya tempuh dengan biaya yang tidak sedikit, keringat dan susah payah, “hanya” dipakai di rumah saja menemani kain pel, sapu, kain lap dan susu yang tumpah. Tentu saja hal ini menjadi sangat umum dan lumrah. Mungkin saja, jika saya berfikiran seperti si penanya, saya juga akan berpikir hal yang sama … sayang amaaattt.

Bahkan dosen S2 saya pun, ketika berjumpa dengan saya beberapa waktu yang lalu, juga tidak bisa menyembunyikan kegalauannya melihat saya, muridnya “hanya” tinggal di rumah saja. Sampai sampai saking prihatinnya, ia bertanya dengan nada agak khawatir kalau saya baik baik saja (mungkin beliau mengira saya mengidap penyakit parah dan atau masalah rumah tangga yang berat), sehingga saya hanya bisa ‘nongkrong’ di rumah saja.

Naudzubillah

🙂

Saya cuma mau mengajak sahabat semua, sedikit masuk ke dalam keseharian saya, yang saya yakin masing masing dari full time mom juga punya hari yang tidak kalah serunya …

Menjadi ibu itu harus pintar !!!

Apakah itu full time mom ataupun working mom. Terutama untuk yang full time, karena merekalah yang menghadapi buah hatinya in-and-out 24 jam ! Karena, dalam sehari, tidak kurang dari 50 pertanyaan yang harus dijawab oleh seorang ibu. Mulai dari : “ada ngak orang yang joget-joget sambil mijitin mamanya?” sampe “muka Allah itu bagaimana?”. “Allah akan pake bahasa apa nanti ngomong sama kita di syurga?” sampai dengan “kalau poligami itu sunnah, kenapa kita tidak melakukannya?”

Masih bertanya kenapa S2 tinggal di rumah? Untuk menjawab semua diatas dan ribuan pertanyaan Masha Allah Tabarakallah lainnya. Jika pertanyaan itu dijawab secara baik dan memuaskan, maka mereka lalu akan naik ke level berpikir berikutnya dan mengajukan pertanyaan yang lebih susah.

Tapi, bukankah itu berarti sebuah tanda keberhasilan? Bahwa kemampuan mereka berpikir terus meningkat? walau tentu saja itu akan berbanding lurus dengan peningkatan level senewen juga , pastinya.

Ibu harus cerdas, karena seperti postingan adik saya barusan, ibu harus bisa menjelaskan kepada anak laki lakinya tentang menstruasi. Ibu harus bisa menjelaskan kepada anak perempuannya untuk menutup aurat dan dampaknya pada pelecehan seksual.

Ayah juga harus pintar. Terutama pintar agama. Karena dengan kata kata pendeknya itulah ia harus mengunci penjelasan panjang lebar dari sang ibu dengan agama.

Tapi yang jelas saya fokuskan disini, ibu … Ibu harus Pintar. Kalau bisa ibu yang di rumah itu harus S3. Bukan karena ilmu yang dituntutnya akan berguna di rumah, kemahiran berpikir yang diasah melalui pendidikan formalnya yang lebih bermanfaat.

Ibu harus pintar. Maka banyaklah belajar dan membaca, ibu. Perbanyaklah hadiri kajian, ayah. Perdalam terus ilmu agamamu, semakin mendekatkan diri pada Rabb-mu. Bimbinglah kami, doakan kami, izinkan kami sekolah lagi.

Insha Allah kita akan menjadi sakinah, mawaddah, rahmah wa amanah nantinya.

Ibu harus pintar, namun jika ibu belum berkesempatan menuntut ilmu lagi, jika ibu masih terlalu sibuk mengurusi si kecil, makanan bergizi, rumah yang berantakan tiada henti, tidak apa apa. Yang penting ibu punya niat. Hadirnya ibu dalam suatu rumah saja sudah luar biasa dampaknya. Karena tauladan dari ibu, jawaban atas pertanyaan walau yang paling sederhana sekalipun, tidak ada jawaban yang lebih baik dari jawaban seorang ibu, walau hanya lulus sekolah dasar sekalipun.

Orang lain mungkin dengan malasnya akan menjawab “Nggak tau!” atau “aaahh, tanya mulu”. Tapi, jika seorang ibu yang ditanya, sedikit banyaknya ia akan merasa : jawabannya diperlukan oleh sang anak, untuk menyempurnakan kemampuan berpikirnya, walau sedang melakukan 1001 hal lainnya.

Semoga sedikit yang saya bagi ini bisa bermanfaat. Silahkan dishare dengan mencantumkan sumber nya. Wallahu a’lam bis shawab …

Gombak, 10 May 2016

Wina Risman

#winathethinkingcoach


Ditulis ulang dari postingan Wina Risman yang diterbitkan pada 10 Mei 2016 pk.20.39 di Group FB Parenting with Elly Risman and family.