2016 · daily · reminder · Self Reminder

Kasih Ibu Sepanjang Masa …

Hari ini, karena HN sedang tugas, saya berangkat ke kantor sendirian. Kalo dulu biasanya saya pake TJ, kali ini udah diniatin mau pake feeder aja atau bis AC arah blok M. Dapetlah bis AC arah Blok M pagi ini. Saya dapet duduk di paling belakang, saat naik saya gak perhatiin orang orang di depan saya pandangan langsung ke belakang cari kursi kosong.

Yang menarik ketika mau turun, saya berjalan menuju tempat sopir. Tepat sebelum saya turun, di sekitar SCBD, penumpang paling depan dekat pintu keluar berdiri. Seorang ibu dan anaknya yang sudah remaja dengan kondisi fisik yang kurang sempurna. Melihat kondisi fisiknya, saya teringat salah satu teman anak sulung saya.

Anggota tubuhnya lengkap, hanya kurang sempurna. Karena dia tidak bisa berdiri tegak. Untuk berdiri dia harus ditopang atau menopang tubuhnya. Begitu mau turun dengan sigap sang ibu berdiri, membimbing sang anak berjalan turun dari bis.

Membimbing perlahan menuruni tangga bis, sampai menginjak jalanan. Saya dan beberapa orang yang berada di situ,terpaku … memandangi mereka. Dan saya langsung berkaca kaca. Ahh benar adanya …. Kasih ibu sepanjang masa ……..

2016 · dr.Kristiantini Dewi SpA · Dyslexia · Dyslexia Awareness Month · reminder · Self Reminder · Sharing

Gangguan Penyerta Pada Disleksia

Kasus disleksia cukup sering beriringan dengan gangguan perilaku lain. Sekitar 30% kasus disleksia disertai dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) atau yang lebih dikenal dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Gejala ADHD yang utama adalah anak tidak bisa diam, tidak mampu menumpukan perhatian dalam waktu yang sesuai usianya dan bersikap impulsif (berbuat sesuatu tanpa pertimbangan, sekalipun mencederai orang lain maupun diri sendiri).

ADHD sendiri seringkali beriringan dengan gangguan perilaku lain yaitu Oppositional Defiant Disorder dan Conduct Disorder, yakni individu yang banyak menentang, membangkang bahkan melawan aturan aturan sosial.

Semakin banyak gangguan penyerta yang dimiliki seorang anak disleksia, semakin kompleks pula gejala klinis nya dan membutuhkan tata kelola yang seksama dari profesional.

Kasus disleksia yang tidak kunjung mendapatkan intervensi yang tepat sampai usia 9 tahun biasanya akan tetap menyandang kesulitan yang bermakna di sepanjang hidupnya.

————————————————————————————————————-

Disalin ulang dari tulisan dr.Kristiantini Dewi, Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia di FB yang diterbitkan Senin, 17 Oktober 2016.

 

2016 · from group FB Parenting with Elly Risman and family · Parenting · reminder · wina risman

Ibu HARUS Pintar

Terkadang saya suka bingung harus menulis apa ketika giliran saya posting. Berhubung group ini adalah group parenting, pastinyalah anggota member mengharapkan postingan yang sedikit banyaknya berkenaan dengan anak dan atau pengasuhannya. Sementara di satu sisi, saya masih sangat berjuang untuk menjadi hamba yang baik, yang amanah pada titipanNYA.

Disisi lain : sampaikanlah walau satu ayat.

Di pengajian yang saya hadiri beberapa waktu yang lalu, saya sempat bertanya pada ustadzah yang juga sudah seperti tante sendiri .. Tentang kegalauan saya.

Tentang pesan ibu saya mengenai neraka, dimana di dalamnya ada orang orang yang menyampaikan pesan baik, namun gagal mengaplikasikannya kepada keluarganya sendiri. Naudzubillah. Saya bertanya tentang masalah diatas yang disandingkan dengan ‘sampaikanlah walau satu ayat.’ Alhamdulillah jawaban beliau sangat komprehensif dan mengenyangkan alam berfikir saya yang masih sempit ini.

Menurut beliau, Barakallahufiiki, sebaiknya disampaikan. Karena, jika disampaikan, maka akan menjadi cambuk buat diri sendiri juga. Jika disampaikan, maka mungkin yang kita belum mampu tetapi orang lain bisa. Maka Insha Allah menjadi amal jariyah buat kita.

Jika ibu ustadzah dan teman teman yang paham agama membaca ini dan merasa ada kejanggalan, mohon saya diingatkan. Walau tetap terpatri dalam benak saya kata kata ibu saya, karena saya percaya itu juga betul dan baik adanya. Bahwa, usahakanlah apa yang kamu sampaikan pada orang, kamu lakukan dulu sendiri dan sampaikan juga pada sanak saudara, kerabat disekitarmu.

Jadi, walau terasa masih dhaif dan jauh dari perfect, Bismillah saya berbagi (mohon maaf jika prolog nya panjaaaanggg sekaliiii).

Bukan sekali dua, saya ditanya, diberi wajah aneh, membuat orang bingung dan juga disayangkan, karena pendidikan tinggi yang saya tempuh dengan biaya yang tidak sedikit, keringat dan susah payah, “hanya” dipakai di rumah saja menemani kain pel, sapu, kain lap dan susu yang tumpah. Tentu saja hal ini menjadi sangat umum dan lumrah. Mungkin saja, jika saya berfikiran seperti si penanya, saya juga akan berpikir hal yang sama … sayang amaaattt.

Bahkan dosen S2 saya pun, ketika berjumpa dengan saya beberapa waktu yang lalu, juga tidak bisa menyembunyikan kegalauannya melihat saya, muridnya “hanya” tinggal di rumah saja. Sampai sampai saking prihatinnya, ia bertanya dengan nada agak khawatir kalau saya baik baik saja (mungkin beliau mengira saya mengidap penyakit parah dan atau masalah rumah tangga yang berat), sehingga saya hanya bisa ‘nongkrong’ di rumah saja.

Naudzubillah

🙂

Saya cuma mau mengajak sahabat semua, sedikit masuk ke dalam keseharian saya, yang saya yakin masing masing dari full time mom juga punya hari yang tidak kalah serunya …

Menjadi ibu itu harus pintar !!!

Apakah itu full time mom ataupun working mom. Terutama untuk yang full time, karena merekalah yang menghadapi buah hatinya in-and-out 24 jam ! Karena, dalam sehari, tidak kurang dari 50 pertanyaan yang harus dijawab oleh seorang ibu. Mulai dari : “ada ngak orang yang joget-joget sambil mijitin mamanya?” sampe “muka Allah itu bagaimana?”. “Allah akan pake bahasa apa nanti ngomong sama kita di syurga?” sampai dengan “kalau poligami itu sunnah, kenapa kita tidak melakukannya?”

Masih bertanya kenapa S2 tinggal di rumah? Untuk menjawab semua diatas dan ribuan pertanyaan Masha Allah Tabarakallah lainnya. Jika pertanyaan itu dijawab secara baik dan memuaskan, maka mereka lalu akan naik ke level berpikir berikutnya dan mengajukan pertanyaan yang lebih susah.

Tapi, bukankah itu berarti sebuah tanda keberhasilan? Bahwa kemampuan mereka berpikir terus meningkat? walau tentu saja itu akan berbanding lurus dengan peningkatan level senewen juga , pastinya.

Ibu harus cerdas, karena seperti postingan adik saya barusan, ibu harus bisa menjelaskan kepada anak laki lakinya tentang menstruasi. Ibu harus bisa menjelaskan kepada anak perempuannya untuk menutup aurat dan dampaknya pada pelecehan seksual.

Ayah juga harus pintar. Terutama pintar agama. Karena dengan kata kata pendeknya itulah ia harus mengunci penjelasan panjang lebar dari sang ibu dengan agama.

Tapi yang jelas saya fokuskan disini, ibu … Ibu harus Pintar. Kalau bisa ibu yang di rumah itu harus S3. Bukan karena ilmu yang dituntutnya akan berguna di rumah, kemahiran berpikir yang diasah melalui pendidikan formalnya yang lebih bermanfaat.

Ibu harus pintar. Maka banyaklah belajar dan membaca, ibu. Perbanyaklah hadiri kajian, ayah. Perdalam terus ilmu agamamu, semakin mendekatkan diri pada Rabb-mu. Bimbinglah kami, doakan kami, izinkan kami sekolah lagi.

Insha Allah kita akan menjadi sakinah, mawaddah, rahmah wa amanah nantinya.

Ibu harus pintar, namun jika ibu belum berkesempatan menuntut ilmu lagi, jika ibu masih terlalu sibuk mengurusi si kecil, makanan bergizi, rumah yang berantakan tiada henti, tidak apa apa. Yang penting ibu punya niat. Hadirnya ibu dalam suatu rumah saja sudah luar biasa dampaknya. Karena tauladan dari ibu, jawaban atas pertanyaan walau yang paling sederhana sekalipun, tidak ada jawaban yang lebih baik dari jawaban seorang ibu, walau hanya lulus sekolah dasar sekalipun.

Orang lain mungkin dengan malasnya akan menjawab “Nggak tau!” atau “aaahh, tanya mulu”. Tapi, jika seorang ibu yang ditanya, sedikit banyaknya ia akan merasa : jawabannya diperlukan oleh sang anak, untuk menyempurnakan kemampuan berpikirnya, walau sedang melakukan 1001 hal lainnya.

Semoga sedikit yang saya bagi ini bisa bermanfaat. Silahkan dishare dengan mencantumkan sumber nya. Wallahu a’lam bis shawab …

Gombak, 10 May 2016

Wina Risman

#winathethinkingcoach


Ditulis ulang dari postingan Wina Risman yang diterbitkan pada 10 Mei 2016 pk.20.39 di Group FB Parenting with Elly Risman and family.