2016 · daily · reminder · Self Reminder

Kasih Ibu Sepanjang Masa …

Hari ini, karena HN sedang tugas, saya berangkat ke kantor sendirian. Kalo dulu biasanya saya pake TJ, kali ini udah diniatin mau pake feeder aja atau bis AC arah blok M. Dapetlah bis AC arah Blok M pagi ini. Saya dapet duduk di paling belakang, saat naik saya gak perhatiin orang orang di depan saya pandangan langsung ke belakang cari kursi kosong.

Yang menarik ketika mau turun, saya berjalan menuju tempat sopir. Tepat sebelum saya turun, di sekitar SCBD, penumpang paling depan dekat pintu keluar berdiri. Seorang ibu dan anaknya yang sudah remaja dengan kondisi fisik yang kurang sempurna. Melihat kondisi fisiknya, saya teringat salah satu teman anak sulung saya.

Anggota tubuhnya lengkap, hanya kurang sempurna. Karena dia tidak bisa berdiri tegak. Untuk berdiri dia harus ditopang atau menopang tubuhnya. Begitu mau turun dengan sigap sang ibu berdiri, membimbing sang anak berjalan turun dari bis.

Membimbing perlahan menuruni tangga bis, sampai menginjak jalanan. Saya dan beberapa orang yang berada di situ,terpaku … memandangi mereka. Dan saya langsung berkaca kaca. Ahh benar adanya …. Kasih ibu sepanjang masa ……..

2016 · dr.Kristiantini Dewi SpA · Dyslexia · Dyslexia Awareness Month · reminder · Self Reminder · Sharing

Gangguan Penyerta Pada Disleksia

Kasus disleksia cukup sering beriringan dengan gangguan perilaku lain. Sekitar 30% kasus disleksia disertai dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) atau yang lebih dikenal dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Gejala ADHD yang utama adalah anak tidak bisa diam, tidak mampu menumpukan perhatian dalam waktu yang sesuai usianya dan bersikap impulsif (berbuat sesuatu tanpa pertimbangan, sekalipun mencederai orang lain maupun diri sendiri).

ADHD sendiri seringkali beriringan dengan gangguan perilaku lain yaitu Oppositional Defiant Disorder dan Conduct Disorder, yakni individu yang banyak menentang, membangkang bahkan melawan aturan aturan sosial.

Semakin banyak gangguan penyerta yang dimiliki seorang anak disleksia, semakin kompleks pula gejala klinis nya dan membutuhkan tata kelola yang seksama dari profesional.

Kasus disleksia yang tidak kunjung mendapatkan intervensi yang tepat sampai usia 9 tahun biasanya akan tetap menyandang kesulitan yang bermakna di sepanjang hidupnya.

————————————————————————————————————-

Disalin ulang dari tulisan dr.Kristiantini Dewi, Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia di FB yang diterbitkan Senin, 17 Oktober 2016.

 

2016 · Ayah · Elly Risman · From Group Elly Risman and Family · Parenting · Self Reminder

Ayah # 4 – VALIDASI – By Elly Risman

Anak lelaki tambun berseragam putih merah itu tersandar di sofa di depan saya dengan raut wajah yang berat dan sendu. ” Kamu tuh ganteng banget sebenernya, nenek sayang sekali sama kamu. Kalau kamu cucu nenek pasti sudah nenek peluk peluk ” Ujar saya. Sesungguhnyalah hiba benar hati saya melihatnya.

Dia memaksa menujukkan senyum pada saya dengan hanya menarik kedua sudut bibirnya. Saya bergeser ke sebelahnya dan membelai kepalanya, usianya sama dengan cucu kami yang sulung. Perlahan saya berkata padanya ” Kalau ada yang kamu mau bilang sama nenek, kamu bilang saja, nenek dengerin”.

Dia memandang ke mata saya seolah mencari kepastian. Saya tersenyum tanpa berkata. “Nek, kenapa ya nek aku dilahirkan?” ujarnya sendu dengan bibir menahan tangis ..

“Gleggaar .. !” begitu bunyi yang terdengar di hati saya dengan pertanyaan itu. Saya speechless .. kehilangan kata untuk sementara … Seringkali saya menghadapi kalimat kalimat pendek yang bermakna sangat dalam seperti yang diucapkan anak kelas lima SD ini. Saya menemukan, bahwa anak anak atau remaja remaja ini sudah lama benar menyimpan rasa, kemudian lamaaa juga mengolahnya, sehingga ketika dikeluarkan terasa sangat menghujam sekaligus sangat indah dan mencengangkan.

Kesempatan yang lain, seorang gadis remaja yang manis juga berwajah “berat”, bicara dengan saya dalam bahasa Inggris. Ibunya sudah wanti wanti dan saya faham bahwa anaknya akan bicara dalam bahasa Inggris. Banyak orang tua yang menyekolahkan anak ke sekolah internasional, tapi lupa atau tak sempat meningkatkan kemampuan dirinya. Begitu anaknya remaja, anaknya tidak percaya untuk curhat dengan orangtuanya, karena mereka yakin ortunya tidak mengerti apa yang mereka maksudkan … Remaja ini salah satunya.

“Jadi … kata saya dalam bahasa Inggris. Apa yang berat sekali kamu rasakan sekarang ini? ”

“Hmm, i feel covered/terselimuti” jawabnya pendek.

“Oh jadi kamu merasa tidak bisa bernafas, maksudmu?” Tanya saya selanjutnya.

“Not only my nose, but my soul can’t  breath” sergahnya. Jiwanya tidak bisa bernafas? Huih ……. indahnya dan pedihnya.

Ini hanya sebagian pengalaman saya menghadapi anak dan remaja yang hidup dalam sepi dari tegur, sapa, perhatian dan cinta ayahnya. Apa yang lama saya pelajari dari teori, dihantarkan Allah pada saya dalam bentuk konkrit melalui kata kata yang diungkapkan anak dan remaja dalam kata kata terolah indah.

Anak anak ini tahu dan yakin orang tua nya sayang pada mereka, tapi mereka membutuhkan lebih dalam bentuk yang lebih nyata, terutama dari ayah. Seorang ahli (maaf nih nenek nenek lagi lupa namanya)mengatakan bahwa anak membutuhkan khusus dari ayahnya : VALIDASI, Pengesahan bahwa mereka benar benar memperhatikan, mencintai dan peduli akan anaknya. Validasi ini menurut ahli tersebut bisa ditunjukkan dalam 3 bentuk sederhana yang saya rumuskan dalam 3P !

Penerimaan

Penghargaan

Pujian

PENERIMAAN

Adalah keikhlasan untuk menerima anak apanya. Bahwa ia unik, tidak sama dengan siapa siapa dan dia mempunyai kelebihan dan kekurangannya sendiri, persis ortu nya. Banyak tokoh tokoh psikologi perkembangan yang membahas tentang dampak dari berbedanya harapan dan impian yang dibangun dan diciptakan oleh orang tua sebelum atau selama anak dalam kandungan dengan kenyataan setelah anak tersebut lahir. Baik menyangkut jenis kelamin, bentuk wajah, warna kulit, rambut keriting atau lurus.

Setelah mereka besar, banyak masalah muncul menyangkut kapasitas kecerdasan : kakak kalah pintar dari adiknya. Adiknya itu gak belajar saja bisa rangking terus ! Kemampuan dalam bidang tertentu : kakaknya sudahlah lebih cantik, pintar pula dan pandai bergaul. Sementara adik lelet, pendiam dan temannya itu itu aja … dan banyak sekali hal lainnya yang ternyata tidak sesuai bahkan jauh dari harapan orang tua nya.

Kalau kenyataan ini berlangsung setahun dua mungkin tak begitu berakibat, tapi kalau bertahun tahun .. anak merasa mereka tidak diterima oleh ortunya. Banyak orang tua lupa, bahwa anak bukanlah pilihan tapi mereka adalah TAKDIR ! Apa salahnya kalau sesekali menunjukkan penerimaan dengan mengenali dan menyapa keunikan anaknya.

“Lila, ayah tahu Lila gak suka matematik, tapi qiraah Lila menyejukkan hati ayah”, Kau anak ayah yang berhati lembut!”

“Daud, jangan kecil hati nak gak menang lomba Tennis Meja itu ya, ayah tetap bangga sama kamu karena kamu sportif, anak lelaki ayah yang berani dan benar” …

PENGHARGAAN

Penghargaan sederhana saja sebenarnya sudah sangat bermakna bagi anak. Tidak perlu piala atau benda yang mahal. Ayah kami sangat suka makan mie rebus. Di tahun 60an belum ada mie instan, adanya mie telor dan mie kiloan di pasar. Setiap hari minggu ibu kami mengolah jadi mie rebus yang nikmat sekali dengan bawang goreng segar bukan bungkusan/kemasan seperti yang mudah kita dapatkan sekarang ini.

Sepekan setelah saya memperingati ultah ke 13, ayah saya mengatakan : “Hm Elly sudah 13 tahun, minggu depan ini ayah mau merasakan mie rebus masakan Elly ya? Pasti enak!” yakin beliau. Hah … saya berdebar dan mulai merengek pada ibu saya, agar beliau saja yang masak. Ibu saya meyakinkan saya bahwa saya bisa dan nanti beliau tidak akan membiarkan saya dan membantu saya.

Dengan yakinnya, saya mulailah belajar menyiapkan mie rebus dengan tegang dan serius. Ketika semua saudara saya sudah duduk di meja dan dihadapannya mereka telah tersedia mie rebus panas berasap, ayah saya mengajak semua berdoa dan mulai mencicipi mie rebus buatan saya.

Dihirupnya sesendok kuah, lalu dia tersenyum memandang saya : “Hm … tuh kan apa ayah bilang, Elly bisa jualan mie, mie nya enak .. ” wuah … hati saya berbunga bunga … Walaupun beliau melanjutkannya begini : ‘akan lebih enak lagi kalau ditambah sedikit garam’.

Sering sekali ayah saya memberi saya pujian sederhana untuk hal hal yang sebenarnya saya tidak hebat amat. Ayah saya menunjukkan kegembiraan yang besar, padahal saya cuma juara tiga Musabaqah tingkat kelurahan …

PUJIAN

Sering saya menghadapi ortu yang menyatakan pada saya tanpa sepengetahuan anaknya bahwa mereka sebenarnya bangga, bahagia dan kagum dengan kelebihan kelebihan anaknya. Tapi sayang sekali, mereka menyimpannya dalam hati dan tidak pernah memperdengarkan perasaannya itu pada anaknya. Disisi lain anaknya sangat lapar akan pujian dari ayahnya.

Ada ortu dan ayah yang takut bahwa pujian akan membuat anaknya sombong dan membengkakkan harga diri. Ayah lupa, bahwa pujian pada tempatnya dengan porsi yang pas sangat membantu anak merasakan cinta dan penghargaan ayahnya. Apa salahnya ayah mengatakan pada anak gadisnya : “Sini deh ayah bilang, ayah gak sangka kau tumbuh jadi anak gadis ayah yang cantik dan baik hati. Jangan bilang sama mama kamu ya. Kamu jauh lebih cantik dari mama ketika ayah melamarnya!”

Marilah belajar menerima anak kita apa adanya, menghargai upaya upaya kecil yang bisa mereka tunjukkan dan sesekali memujinya untuk merekatkan jiwa dan mendekatkan hati. Validasilah anak anak kita, wahai ayah …

Pondok Gede, 27 Maret 2016

Di hari Pak Risman genap berusia 65 tahun.

Alhamdulillah – Barakallah.


Ditulis ulang dari postingan Elly Risman di Group FB Elly Risman and Family yang diterbitkan pada 27 Maret 2016.

2016 · Ayah · Elly Risman · From Group Elly Risman and Family · Parenting · Self Reminder · Sharing

Ayah #3 by Elly Risman

Beberapa ibu yang bertemu saya dikesempatan yang berbeda mengajukan pertanyaan yang sama pada saya ” Bu, kenapa ibu membahas terus tentang ayah akhir akhir ini?” Pertanyaan yang sudah saya duga dan akan banyak lagi ke depan, mungkin juga dari anda.

Ceritanya panjaaaaang. Diawal awal tahun pertama YKBH kami hanya bekerja sama dengan para ibu. Ibu ibu yang dulu anak mereka masih di TK atau SD, sekarang sudah kuliah bahkan sudah menjadi ibu dan ayah pula. Begitulah panjangnya waktu terentang, yang tidak sanggup menceritakan betapa sulitnya melibatkan ayah pada pengasuhan.

Tidak pernah ada ayah dalam pelatihan. Bila ada 5-10 orang ayah tampak oleh saya duduk dalam seminar saya, maka saya akan meminta ratusan ibu yang menjadi peserta untuk bertepuk tangan untuk menghargai kehadiran mereka. Saya memanggil ayah tersebut sebagai “ayah hebat”, lepas mereka datang dengan ikhlas ataukah “dipaksa atau diseret istrinya”.

Ayah ayah selalu ada dalam hati dan pikiran saya, bahkan dalam doa doa saya. Saya bermunajat agar Allah membuat hati ayah ayah Indonesia menjadi lembut dan fikirannya terbuka untuk menyadari peran dan tanggung jawabnya sebagai ayah, manusia pertama yang dianugerahi Allah amanah untuk melanjutkan kemanusiaan di muka bumi ini. Saya sangat bersungguh sungguh dan berjanji pada diri saya sendiri, suatu waktu sebelum saya menutup mata untuk selamanya saya sudah melihat tanda tanda keterlibatan ayah akan meningkat dalam mengasuh dan membesarkan anak anak mereka dengan cinta dan ketakutan pada Allah.

Kami lakukan berbagai riset, langsung ataupun berupa studi kepustakaan yang menghasilkan pengertian dan pemahaman kami tentang pentingnya peran ayah dari segi agama, psikologi, budaya bahkan dari sudut neuroscience. Kajian ini telah membantu kami untuk merumuskan berbagai cara dan taktik yang kami sosialisasikan pada ibu ibu pecinta parenting, bagaimana mereka harus berjuang untuk melibatkan ayah dalam pengasuhan.

Seiring dengan itu, berbagai upaya dilakukan oleh antara lain Bapak Haryadi Takariawan, Ayah Edi, Abah Ihsan dan kemudian bermunculan tokoh muda ke “ayah” an seperti ayah Irwan, Ustad Bendri dan berbagai nama lain yang tidak disebutkan satu persatu disini.

Bukan karena saya, tapi kini ada kajian ayah yang diselenggarakan oleh yang terhormat Ustadz Bakhtiar Nasir setiap bulan khusus hanya untuk dan calon ayah di AQL center yang beliau dirikan. Ada Father Forum yang digagas ayah ayah muda dari ITB Bandung, ayah Pendidik dan terakhir yang sangat menyentuh hati adalah kelompok Daddy – cation yang dimotori suami suami dari kelompok ibu ibu muda pecinta parenting : “Supermom” . Alhamdulillah !

Jadi, untuk ibu ibu yang sudah  mengajukan pertanyaan dan juga mungkin masih menyimpannya dalam hati, sekarang mengerti mengapa untuk beberapa bulan ke depan, kita masih akan membahas  seputar keayahan di FB ini, walaupun ini hanya merupakan kerikil dalam bangunan keterampilan menjadi ayah di negeri ini.

Pembahasan ini bukan berarti “menidakkan” banyaknya ayah ayah baik dan hebat di luar sana, tetapi kajian kami menunjukkan adanya pengikisan yang terjadi dari perjalanan waktu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap peran dan kemampuan seseorang untuk menjadi orang tua khususnya menjadi ayah.

Bagi saya dan adik adik saya, ayah dan ibu kami adalah model yang sangat kuat bukan saja dalam membentuk saya sebagai manusia, kakak, istri, ibu dan nenek tapi juga sumber ilham mengapa kegiatan parenting ini saya pilih untuk ditekuni di akhir usia saya. Seperti hal nya orang lain juga, bagi saya mengingatknya kedua orang tua saya saja telah membuat air mata saya berderai derai.

Ayah, sebagaimana dicontohkan dalam Al Qur’an telah memerankan hal yang luar biasa bagi saya, antara lain dalam mereparasi harga diri saya. Di luar apa yang anda lihat sekarang ini, saya yang kecil dulu adalah anak yang penyedih dan rendah dan tidak percaya diri karena saya hitam, kurus dan asmatis (menderita asma) pula. Ayah sayalah yang menghujamkan keyakinan pada Allah, membangkitkan kepercayaan diri yang runtuh, membangun semangat juang dan menciptakan saya sebagai pekerja keras yang tidak menjadikan “lelah” sebagai penghambat untuk mencapai tujuan.

Izinkanlah saya berbagi sedikit dengan anda mengapa saya dulu seperti itu. Setiap orang punya kisahnya sendiri, begitu juga saya. Banyak hal yang terjadi dalam hidup saya, tapi yang menghancurkan  kepercayaan diri saya adalah karena saya “dibully” oleh sepupu saya sendiri yang jauh lebih dewasa dan besar tubuhnya yang diajak oleh orang tua saya tinggal bersama kami. Setiap hari, diluar sepengetahuan orang tua saya, saya selalu diyakinkannya bahwa orang berkulit hitam seperti saya tidak pantas pake baju warna “terang”.

Orang yang berwajah tirus seperti saya, tidak akan punya masa depan yang cerah. Orang orang yang berhasil adalah yang berwajah bulat, seperti dia. Karena ini dilakukan terus menerus dan bahkan seringkali dalam bentuk ancaman, membuat pelan pelan saya membangun kepercayaan diri seperti yang ditanamkannya pada saya setiap hari. Apa yang dilakukan ayah saya? Persis seperti anda membawa kendaraan anda, apakah itu sepeda, sepeda motor atau mobil ke bengkel. Apa yang dilakukan oleh “orang bengkel” terhadap kendaraan anda?

Dia mengamati dan memeriksanya dengan seksama untuk mengetahui masalah kendaraan anda bukan? Itulah yang dilakukan ayah saya. Ayah dan ibu kami mempunyai kebiasaan mengumpulkan anak anaknya untuk bercerita, mengajarkan agama dan bermusyawarah  hal hal yang kecil kecil yang akan atau yang sudah terjadi dalam keluarga, mulai dari mau ganti cat dinding, kulit sofa sampai memilih warna mobil baru yang akan dibeli.

Beliau yang biasanya duduk berdampingan dengan ibu kami akan menanyakan pendapat satu satu dari kami. Kali ini, beliau hanya memanggil saya dan berkata ” Ayah lihat lihatlah ya akhir akhir ini kayaknya baju Elly itu itu saja. Jadi sudah waktunya ya Elly beli baju yang agak bagus bagus dan warnanya cerah ya”. Saya membantah pendapat ayah saya dan mengatakan bahwa saya punya baju yang cukup banyak dan memadai.

Ayah saya meningkahi dan menyodorkan kepada saya sejumlah uang yang lumayan banyaknya sehingga saya terkejut dan mengatakan ” Nah ini ayah kasih Elly uang untuk beli baju dan pergilah ke Pasar Baru sendiri (kami tinggal di sekitar Pasar baru – Jakarta Pusat) ” Saya menanyakan, mengapa sendiri, bolehkan saya mengajak teman atau sepupu saya  yang satu lagi yang tinggal juga bersama kami. ” Tidak ! ” jawab ayah saya tegas. Ayah sama mama ingin Elly pergi sendiri dan pilih baju yang Elly suka, yang bagus dan berwarna cerah, ujarnya.

Pergilah saya sendirian. Saya menggunakan waktu yang lama sekali untuk membeli bahan baju itu. Dulu bisnis garment belum berkembang seperti sekarang, jadi orang biasa membeli bahan baju bukan baju jadi. Pulanglah saya dengan lima potong bahan baju dan menghadap ayah dan ibu saya untuk menunjukkan pada beliau apa yang saya beli. Ketika saya membeberkan belanjaan di atas mejanya, Ayah saya terdiam dan memandang saya dengan mata yang berkaca kaca.

Beliau bertanya pada saya dengan suara yang parau menahan tangis : ” Mengapa Elly beli baju ini nak? ” Saya, tidak mengerti apa yang beliau maksudkan dan kembali bertanya : “Apa yang salah dengan pilihan Elly, yah? ” Beliau menanyakan saya : Mengapa saya membeli semua warna lembut : kuning muda, pink, biru dan hijau muda? Kemudian mengapa bahannya juga bahan murah : Poplin dan Bercolin (Nama sejenis katun waktu itu).

Saya terdiam sejenak untuk berfikir karena tidak menemukan jawaban bagi pertanyaan ayah saya tersebut dengan segera. Setelah terdiam agak lama sambil memandang beliau, saya mengatakan alasannya, karena menurut kakak sepupu saya itu, orang berkulit hitam seperti saya tidak pantas pakai warna cerah!

Ayah saya langsung bangun dari duduknya dan  menghampiri saya, memeluk badan saya dari samping, mengelus kepala saya sambil sedikit membungkukkan badannya beliau berkata : Ini uang masih tersisa banyak nak, makan dulu dan balik ke Pasar Baru, beli baju yang bagus, mahal dan berwarna cerah !

Saya berjalan kembali ke Pasar Baru sambil menangis. Saya sangat terharu, betapa ayah saya memperhatikan saya. Dalam hati saya pastilah beliau sudah lama mengamati saya, berunding dengan ibu saya, mencari cara untuk membuktikan apa yang sebenarnya terjadi pada saya dan kemudian menemukan cara yang sekarang beliau minta untuk saya lakukan. Saya terus menangis, menangisi penderitaan saya dalam diam dan sunyi di kamar saya setiap hari.

Menangisi halusnya rasa dan pertimbangan serta cinta yang ditunjukkan ayah saya pada saya … Saya tidak peduli orang di dalam angkot memperhatikan saya. Saya sangat sangat mencintai ayah saya. Saya pulang dengan baju yang lebih banyak, mahal, berwarna cerah dan membeberkannya lagi di hadapan ayah dan ibu saya. Barulah ayah saya tersenyum lebar sehingga nampak semua giginya mendekati dan memeluk saya sambil berkata : ” Ini baru anak ayah. Anak ayah yang cantik dan manis dan yang pantas memakai baju mahal berwarna cerah! ”

Alhamdulillah, kami sekarang dikaruniai Allah 6 orang cucu. Saya masih mengingat bagaimana ayah saya mengamati, memeriksa dan kemudian MEREPARASI HARGA DIRI SAYA. Luar biasa dampaknya bagi sisa hidup saya, sehingga anda mengenal saya seperti sekarang ini. Kalau ayah saya saja yang hanya lulus SD, veteran perang bisa mereparasi harga diri saya, mengapa tidak anda?

Saya mengingat dan menuliskan ini untuk anda dengan air mata, sambil dihati saya berdoa : Ya Allah, Engkau terimalah ayah ibuku. Lapangkan kuburnya dan jauhkanlah beliau ya Allah dari azab kubur dan api neraka. Engkau kasihanilah beliau ya Allah, sebagaimana beliau menyayangiku sepenuh hatinya sejak aku kecil hingga dewasa. Anugerahilah ayah dan ibuku ya Allah dengan syurgaMU yang Tinggi ! Semoga doa yang sama dipanjatkan tiada henti oleh anak anak anda kini dan suatu waktu nanti.

Dengan penuh cinta untuk semua ayah,

Bekasi, 20 Maret 2016


Ditulis kembali dari tulisan Ibu Elly Risman di Group FB Parenting With Elly Risman and family yang diposting pada 24 Maret 2016

 

 

2016 · Ayah · Elly Risman · From Group Elly Risman and Family · Parenting · Self Reminder

Ayah #2 – Lahirlah Sebagai Ayah Baru – by Elly Risman

Saya sudah mengenal gadis ini sejak dia masih balita. Dibawa konsul oleh ibunya karena wataknya yang keras dan membantah, maunya –  maunya. Sebenarnya anak ini sangat pintar dan “determined” – kokoh pendirian atau yang biasa disebut orang keras kemauannya. Banyak sekalli orang tua tidak menyadari bahwa anak yang pintar melihat suatu masalah dengan sudut pandang yang berbeda.

Karenanya, tidak sengaja ortu acapkali menyalahkan pendapat anak karena pendapat tersebut tidak lazim. Semakin bertambah usia perilakunya menjadi semakin kompleks. Saya sudah menemukan kunci utamanya sejak awal, anak ini perlu kehangatan dan perhatian ayahnya. Dia menginginkan ayahnya mengajak bicara seperti ayah ayah temannya dan bersedia mendiskusikan pilihan pilihannya.

Ia juga rindu ayahnya menyapa perasaannya. Sayang, semua itu tinggal harapan. Saya sudah mengingatkan pasangan ini kekhawatiran saya akan kemungkinan akibatnya nanti kalau sebelum baligh persoalan ini tidak terselesaikan. Ayahnya mengetest pendapat saya dengan mengatakan : ” Bukannya semua remaja memang suka bertingkah seperti anak saya bu? ”

“Ya benar pak, serupa tapi tak sama. Karena ada perbedaan individual, perbedaan peran orang tua dan tingkat keinginan orang tua untuk mau berubah atau tidak”. Seperti halnya kita dulu pak, masa remaja memang banyak masalah yang timbul dan dirasakan. Tapi satu hal yang bapak dan ibu harus ingat benar, zaman telah berganti. Anak anda hidup di era digital. Rumah anda wifi, TV berbayar, HP canggih di tangan dan games tersedia.

Dampak dari semua itu pak sulit dikendalikandan berpotensi merusak otak. Sementara putri bapak dan ibu sudah ‘berbekal masalah’ sejak kecil, ujar saya tenang dan berusaha meyakinkan mereka. Hari berlalu, minggu berganti bulan, bulan menjadi tahun dan tahun … Hidup tenggelam dalam rutinitas yang mekanistik. Suatu hari hanya ibu itu dan gadisnya yang datang. Pastilah keluhannya meningkat : Anak semakin keras, sulit diajak bekerja sama tidak terima nasihat, apalagi batasan atau larangan.

Dia sekarang raja bagi dirinya, termasuk menentukan jam pulang dan bahkan pergi sudah tak pamit atau berkilah : perginya ke A sebenarnya ke B ! Ibu ini dengan berurai air mata mengisahkan berbagai upaya yang sudah dilakukannya, tapi dia bingung kenapa anaknya sedikit sekali berubah. Lalu, saya tanyakan bagaimana ayahnya. Ibu ini menjelaskan ayahnya semakin sibuk saja, semakin tidak punya waktu dengan anak anaknya bahkan juga dengan dia, istrinya.

Saya menjelaskan kembali, betapa pentingnya peran ayah, karena di zaman seperti ini dibutuhkan pengasuhan berdua/ dual atau co-parenting. Bukankah ibu tidak bisa hamil tanpa bapak, bu? Artinya, bukankah kita berdua yang diberi amanah oleh Allah dengan tanggung jawabnya masing masing?

Sebagaimana istri istri lainnya, ibu ini sebenarnya mengerti semua apa yang saya sampaikan dan menerimanya, tetapi seperti halnya ibu ibu lain juga, ibu ini tetap berupaya keras mengajukan pembelaan pembelaan yang terkesan menunjukkan keterpaksaannya menerima situasi “ketidakhadiran” ayah dalam pengasuhan anaknya karena alasan bekerja dan karir yang dia “kalah kata” dalam mengingatkan suaminya.

Pekan lalu, ibu tersebut menghubungi saya dan mengatakan sungguh suatu bencana telah terjadi dengan gadisnya tersebut, yang anda pasti tahu apa yang saya maksudkan. Saya tetap memberinya dukungan dengan rasa keibuan saya, saran dan pilihan pilihan jalan keluar.

Waktu menunjukkan bahwa bila ayah membiarkan dirinya sejak awal “kalah kata” dengan anaknya dan istri “kalah kata” dengan suaminya, maka mereka bersama akan sampai pada suatu waktu dimana mereka menuai bencana. Apabila sudah dititik nadir seperti ini, kalaupun ayah berubah apa gunanya? Semua sudah kadung, orang tua hanya merasa bersalah. Rasanya ingin memutar kembali perjalanan waktu dan bingung memulainya darimana.

Semakin hari semakin banyak kasus seperti ini kami hadapi. Agar hal ini tidak terjadi pada anda, marilah kita mengingat dan mencoba beberapa hal berikut ini :

  1. Ketika benih mulai tumbuh dalam rahim, kitalah ayah dan ibu yang diberi amanah oleh Allah.
  2. Memang sesungguhnya tanggung jawab ayah bukan hanya menjadi pencari nafkah tapi juga mendidik istri dan anaknya. Ini akan dipertanggungjawabkan ayah di hadapan Pemberi Amanah suatu waktu nanti.
  3. Karena itulah sebagai pendidik, ayah harus punya waktu untuk mengenali orang orang yang akan dididiknya : istri dan anak anaknya. Mengenal manusia tidak mudah dan yang lebih tidak mudah lagi adalah bagi ayah untuk mengenali dirinya sendiri.
  4. Parenting is all about wiring” Parenting cenderung di turun temurunkan tidak sengaja. Karena otak akan membentuk kebiasaan dari pengalaman yang diperoleh seorang anak. Apa yang biasa diterima seorang anak, maka itulah yang akan dilakukannya nanti ketika menjadi orang tua. Anak yang biasa dicubit akan menjadi ibu pencubit. Anak yang biasa dipukul akan menjadi ayah penggampar. Yang dulu dibesarkan dengan pukulan sapu lidi atau ikat pinggang akan mengenakan hal yang sama pada anaknya lepas dari tingginya jenjang pendidikan dan pangkat yang diraihnya. Begitu juga ayah yang dingin, diam, berjarak dan jarang menyapa akan minta dan mengharapkan istrinya menjadi kurir penyampai semua pesan. Kecuali mereka yang bersungguh sungguh berjuang mengalahkan dirinya sendiri UNTUK TIDAK MENGULANG SEJARAH ! Lahir sebagai ayah BARU.
  5. Semua kita tanpa kecuali punya sejarah masing masing : ayah ataupun ibu. Sebagian bahkan memanggul beban sampah emosi yang sangat banyak dan berat yang tertimbun dibawah sadarnya. Tapi kita telah memilih menjadi ayah ibu. Pilihan selalu punya konsekuensi. Dan konsekuensi itulah yang harus kita tanggungkan sekarang ini. Tidak ada jalan lain, atas nama Pemberi Amanah : Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, kita harus berani memutus mata rantai sejarah masa lalu kita. Seperti sebagian kecil ayah diatas, lakukanlah berbagai cara dan upaya, lahirlah sebagai AYAH BARU untuk memanggul beban baru : Ayah di Era Digital ! Bila tak mampu melakukannya sendiri datanglah pada ahlinya.
  6. Seandainya anda berani untuk mencoba karena Allah, besok pagi mulailah menyapa pendek anak anda walau terasa janggal karena tidak biasa. Belajarlah sekarang menebak perasaan anak anda dengan MEMBACA BAHASA TUBUHNYA. Rubahlah perkataan biasa : sudah bangun? Sudah siap belum? Apakah kamu sudah shalat? Tugasmu sudah kau kerjakan belum? GANTILAH dengan kosa kata perasaan yang terdiri dari 4-8 kata baru : ” Kelihatannya sama ayah kau segar pagi ini” “Sepertinya ada yang membebani pikiranmu ya?” “Terkesan sama ayah kayaknya kamu agak sedih?” ” Bersemangat sekali kamu pagi ini, ada apa sih?”
  7. Perubahan tentu tidak mudah, perlu proses. Semua akan menggeliat, untuk kemudian akan terbiasa. Siap menjalani dan mengalami berbagai reaksi dari sebuah proses perubahan. Dalam hatinya anak tentu bertanya : ” Hhh … ayahku bukan ya? ” “Apa yang terjadi pada ayahku ” ” Mimpi apa ya dia semalam?” dan berjuta dugaan lainnya. Tapi dia pasti menjawab dengan hati yang mulai merekah.

Rasakan pelan pelan hasilnya. Mari berjuang mengalahkan diri sendiri. Lahirlah sebagai AYAH BARU menghadapi tantangan baru. Selamat berusaha, selamat berjuang ! Kalau orang lain bisa, Kita pasti bisa !!


Postingan ini dituliskan kembali dari tulisan Ibu Elly Risman yang diterbitkan pada 14 Maret 2016 di Group FB Parenting With Elly Risman and Family.

2016 · Ayah Edi · Ayah Edy · From Group FB Ayah Edy Parenting · Muhasabah diri · Self Reminder

Mengapa Ada Orang Yang Kepikiran dan Komennya Negatif Terus Pada Kita?

Suatu hari ada seorang wanita muda yang datang kepada guru bijak dan bertanya :

Guru, mengapa ya kok ada orang yang kerjanya setiap hari itu menghujat orang lain dengan kata katanya yang pedas dan kasar ya? Mengapa saya tidak pernah mendengar sekalipun ia memuji orang lain, kalaupun memuji malah bentuknya seperti sindiran yang menyakitkan?

Dengan lembut sang guru bijak berkata :

Begini ya nak, jika kamu hanya punya gula maka kamu yang bisa berikan pada orang lain itu ya gula yang manis. Begitupun jika kamu cuma punya sambal, yang kamu bisa berikan pada orang lain itu ya cuma sambal yang pedas.

Jadi jika ada orang yang selalu berkata kata pedas pada orang lain, mungkin yang dia punya ya cuma itu. Dan tidak ada yang lainnya lagi yang bisa dia berikan pada orang lain.

Nah pertanyaannya, kamu sendiri sekarang punya apa yang ingin kamu bagikan dan berikan pada orang lain? Kata kata yang manis atau yang pedas? Karena sesungguhnya kamu tidak bisa membagi atau memberi apa yang tidak kamu miliki dalam diri dan pikiran kamu.

Wanita muda itu tiba tiba saja terdiam dan merenungkan apa yang baru saja dia dengar dari sang guru bijak. Berusaha bertanya pada batin kecil nya. Terutama pada bait :

Nah pertanyaannya, kamu sendiri sekarang punya apa yang ingin kamu bagikan dan berikan pada orang lain? Kata kata yang manis atau yang pedas? Karena sesungguhnya kamu tidak bisa membagi atau memberi apa yang tidak kamu miliki dalam diri dan pikiran kamu.

————————————————————————————————————————–

Ditulis kembali dari tulisan Ayah Edi yang diambil dari Group FB, AYAH EDY Parenting yang diposting pada tanggal 19 Maret 2016