Unforgetable Moment at Shirakawa go

Setelah mendapatkan salju pertama di Kanazawa sebelumnya lalu kemudian saya menginap di Toyama, pagi pagi sudah siap untuk perjalanan menuju Shirakawa go. Sebenarnya saya menyesal sampai hari ini karena melewatkan waktu untuk dapat mengunjungi Starbucks yang ada di Toyama. Konon Starbucks di Toyama ini adalah Starbucks terindah di dunia.

Saya liat foto beberapa teman saya yang bela belain mampir kesana tapi karena foto diambil kurang maksimal, gak terlalu tampak keindahannya. Saya hanya lihat bangunannya penuh dengan kaca kaca.Tapiiiiiii ……… saat akan posting ini, saya sengaja searching di Google, oemjiiiii …. MENYESAL ! ini starbucks Kereeeenn bangeett, ngeett … ngeettt … ! Ini foto saya dapat dari Google dan sumbernya adalah http://www.morimoridx.cocolog-nifty.com

Gimana, kereeen kan ?! Ada yang udah pernah ke sini kah? Semoga saya dikasih rejeki dan usia untuk bisa ke sini nanti. Sama suami dan anak anak sih pengennya, hehe … aamiin … Nah berbekal rasa kecewa, saya bener bener jaga kondisi badan. Setelah istirahat dan minum obat plus vitamin, pagi itu saya emang siap banget deh buat menjelajah Shirakawa.

Diinformasikan oleh tour guide kita bahwa kondisi cuaca di Shirakawa go lebih dingin daripada Toyama dan bener aja, minus 4 hehe. Kita pake bis dari Toyama ke Shirakawa gak sampe 1 jam. Dalam perjalanan, berkali kali mengucap syukur … betapa saya melihat salju dan pemandangan yang indah sepanjang jalan. Hampir sepanjang jalan tertutup salju dan di tengah perjalanan mulai turun lagi hujan salju.

Ini semacam mimpi menjadi kenyataan. Doa dikabulkan ๐Ÿ™‚ Karena kalo seandainya lihat di perkiraan cuaca bulan Maret apalagi minggu ke 2 itu udah masuk semi, tapi ini saya sejak hari pertama sudah dapat hujan salju. Saya yang datang dari keluarga biasa saja gak pernah berkhayal bahkan mimpi untuk bisa lihat salju apalagi merasakan hujan salju, tapi Alhamdulillah Allah SWT kasih saya rejeki indah seperti ini ๐Ÿ™‚

Sampai di Shirakawa go, pedesaan ini benar benar masih tertutup salju ๐Ÿ˜€ Senaaaang bukan kepalang hahaha ndeso ya! Tampaknya Shirakawa go ini memang sedang jadi tempat wisata yang sedang ‘naik daun’ ya. Kami sudah pagi sekali rasanya sampai sini, tapi ternyata sudah ada beberapa bis yang parkir dan semakin lama semakin banyak bis yang berdatangan.

Shirakawa ini adalah sebuah desa yang letaknya ada di prefektur Gifu. Tau kan ya kalo di Jepang ini terdiri dari prefektur prefektur. Sewaktu pertama kali memutuskan Shirakawa ini menjadi salah satu tujuan utama trip kali ini, bos Jepun saya sudah bilang kalo desa ini masuk ke dalam salah satu UNESCO World Of Heritage. Desa Shirakawa terletak di lembah dan terdapat sebuah sungai yang mengalir yaitu sungai Shลkawa.

Menuju kompleks pedesaan indah ini dari parkiran bus, kita akan melewati jembatan. Menurut tour guide kami, spot ini merupakah salah satu spot yang paling banyak digunakan untuk berfoto. Sebagai wong ndeso, ya saya ikutlah ya foto foto di jembatan ini, walopun deg degan juga sik … secara itu jembatan goyang goyang kalo dilewatin orang ๐Ÿ˜€

Begitu sampai di kompleks pedesaan nya, salju dimana manaaa ๐Ÿ˜€ *joget* Melihat masih tingginya lapisan salju saat saya berkunjung ke sana, gak heran dong ya yang katanya Shirakawa ini merupakan salah satu tempat yang paling banyak menerima salju di Jepang. Salah satu yang membuat Shirakawa go ini terkenal adalah rumah tradisional nya yang bernama gassho-zukuri yang kalo di terjemahkan dalam bahasa adalah ‘konstruksi tangan berdoa’. Itulah kenapa ciri khas dari atas rumah di Shirakawa miring seperti tangan orang sedang berdoa.

Atap dari rumah di pedesaan ini terbuat dari jerami yang sangat tebal. Katanya, jerami ini sengaja dibuat untuk mengurangi hawa dingin saat musim salju. Katanya lagi, semua atap rumah di pedesaan ini menghadap ke timur dan barat. Aneh gak sih? Enggak kan ya? hehe … ternyata hal tersebut memang dibuat seperti itu agar salju yang menempel diatas dapat segera mencair jika terkena sinar matahari saat musim dingin mulai berakhir.

Apa keunikan lain dari gassho-zukuri ini? Ituloh kayu kayu yang membentuk rumah ini. Semua kayu yang membentuk rumah ini tidak ada satupun yang dipaku loh. Trus disatuinnya pake apa? Pake tali ! Tali ini terbuat dari jerami yang dijalin yang disebut “neso”. Ini adalah istilah untuk cabang pohon yang dilunakkan.

Karena Shirakawa ini termasuk dalam salah satu UNESCO world of heritage, selain sisi positif desa ini menjadi incaran para turis ada konsekuensi lain yang didapatkan oleh para penduduk di desa ini yaitu para penduduk atau warga desa Shirakawa gak bisa seenaknya melakukan renovasi rumah mereka. Demi untuk menjaga kelestarian desa inilah maka oleh pemerintahnya dibuat aturan seperti itu.

Selain keunikan rumah di Shirakawa ini ada keunikan lain yang menjadi ciri khas dari Shirakawa ini yaitu sebuah tradisi yang dinamakan “yui“. Yui ini adalah tradisi penggantian atap rumah. Biasanya dilakukan setiap 20-30 tahun sekali. Nah tradisi ini pun menjadi perhatian para turis juga. Kenapa? karena tradisi ini biasanya dilakukan kurang lebih oleh 200 orang secara bergotong royong dan tidak jarang para turis ikut membantu sebagai tambahan pengalaman unik. Kenapa sebanyak itu orangnya yang bantu melakukan penggantian itu? karena diharapkan dapat selesai maksimal 2 hari agar pemilik rumah dapat segera beraktivitas normal kembali.

Mungkin karena tradisi yang sarat dengan kebersamaan dan gotong royong inilah yang menjadi satu dari sekian alasan kenapa Shirakawa begitu ‘cantik’ dan unik sehingga bisa masuk dalam unesco world of heritage.Sebenarnya selama periode Januari – Februari dimana salju sedang berada pada titik tertinggi di Shirakawa ini ditetapkan 7 hari khusus Shirakawa ini bermandikan cahaya lampu pada malam hari. Hal ini terkenal dengan nama iluminasi musim dingin Shirakawa go.

Menjadi sebuah desa yang terkenal dan merupakan salah satu dari 20 desa terindah di dunia membuat ada nya sedikit pergeseran dalam kehidupan sosial para penduduk di Shirakawa ini, Penduduknya tidak melulu bertani, tapi sebagian dari rumah rumah tradisional ini dijadikan penginapan dan menjual souvenir khas Shirakawa ini.

Souvenir paling khas dari Shirakawa ini selain sake dan sate sapi hida adalah boneka unik yang bernama Sarubobo. Sebenarnya menurut tradisi sarubobo ini adalah semacam mainan boneka yang dibuat khusus oleh nenek untuk cucu mereka. Jika diberikan kepada anak perempuan ini adalah jimat dengan harapan agar mereka mendapatkan jodoh yang baik, pernikahan yang langgeng, anak yang berbakti dan berbagai hal baik lainnya.

Sebenarnya boneka ini berwarna merah, tapi saat ini ternyata boneka Sarubobo ini ada dalam berbagai warna. Boneka Sarubobo ini adalah boneka kera merah, kata Saru adalah kera dan Bobo adalah bayi dalam dialek pengucapan khas daerah Takayama. Jadi Sarubobo adalah anak kera. Selain arti nya adalah kera, Saru pun berarti ‘pergi’ jadi bisa juga diterjemahkan menjadi hal hal yang buruk akan pergi. Biasanya boneka ini dijadikan hadiah untuk pasangan yang sedang menunggu kelahiran bayinya. Boneka ini diberikan sebagai ucapakan selamat dan doa agar bayi yang dilahirkan nanti sehat.

Karena sekarang ini sarubobo sudah dibuat dengan beragam warna, ternyata konon masing masing warna memiliki arti sendiri. Seperti misalnya warna merah jambu alias pink itu untuk keberhasilan percintaan, kuning untuk rejeki dan keuangan, hijau untuk kesehatan, biru untuk keberuntungan dalam sekolah dan kerja serta warna hitam untuk menghilangkan kesialan.

Saat asik menelusuri jalan jalan di desa cantik ini *walopun gak sampe keliling ke ujung karena sempitnya waktu* tiba tiba dikasih rejeki ujan salju yang lumayan deras yang makin lama makin deras. Tapi dibanding saat di Kanazawa atau Toyama, di Shirakawa ini tidak terlalu dingin. Ini mungkin karena walopun bersalju tapi tidak ada angin. Karena agak deras, saya sempat berteduh di salah satu toko cindera mata. Akhirnya beli deh 2 bijik gantungan kunci pesenan putri kecil.

Cindera mata yang khas lainnya adalah semua yang berbentuk gassho-zukuri. Makanya saya tertarik untuk membeli tempelan kulkas bentuk gassho itu karena memang saya mengkoleksi tempelan kulkas dari berbagai tempat. Setelah numpang neduh di toko souvenir saya sempat berjalan lagi dan bermaksud untuk mencari Wada House, tapi sayang waktu gak memungkinkan. Ini mungkin karena saya terlalu euforia bermain main salju saat baru memasuki perkampungan ini.

Wada House atau rumah Wada ini adalah adalah rumah gassho-zukuri terbesar di perkampungan ini. Ada tiket masuk yang harus dibayar untuk menikmati Wada House ini. Wada House juga letaknya berdekatan dengan Kuil Myozenji. Karena tidak memungkinkan untuk berjalan lebih jauh lagi, akhirnya sambil berjalan pulang saya mampir ke sebuah kedai kecil yang menjual kopi dan beberapa macam souvenir. Saya tidak lagi membeli souvenir, hanya membeli kopinya saja. Dengan kopi panas di tangan, sedikit mengusir rasa kecewa, tidak dapat menjelajahi Shirakawa secara keseluruhan.

Berdiri memandang desa Indah ini sebelum kembali ke bis, dalam hati saya berkata …. Salju dan kopi …. ahh hari saya sangat indah dan sempurna ๐Ÿ™‚ Alhamdulillah …. Terima kasih ya Allah ….

Sebenernya postingan ini masih belum puas cerita ya hehe, tapi seperti itu informasi yang saya terima dari tour guide saya kemarin. Sebenarnya kalo saya browsing di google banyak juga cerita tentang Shirakawa ini. Kalo yang ngikutin blog saya dari awal, mungkin … eh atau … semoga menemukan perubahan postingan tentang travelling saya dari waktu ke waktu ya. Karena memang seiring waktu saya memang gak lagi fokus ke ‘belanja belanja’ kayak di awal awal sehingga akhirnya banyaaaakk sekali hal hal indah dan bermanfaat yang terlewatkan.

Benar yang orang bijak bilang, hanya waktu yang paling abadi. Maksudnya, waktu yang sudah lewat tidak bisa kita rubah kembali. Nyesel yang udah ya udahlah. Makanyaย sebagai wujud syukur saya karena sebagian besar travelling saya adalah bagian dari pekerjaan, saya mulai merubah tujuan traveling saya. Konon travelling selain membuka mata juga membuka dan menambah wawasan kita. Makanya untuk setiap postingan traveling yang saya lakukan, ingin sekali rasanya dapat memberikan manfaat ๐Ÿ™‚

Yuk ah nyeselnya udahan … hehehe. Kemudian selanjutnya kami bersiap siap kembali ke Toyama untuk makan siang lalu dilanjutkan ke Toyama Station menuju Tokyo menggunakan shinkansen lagi. Sama seperti saat berangkat ke Kanazawa sehari sebelumnya, sepanjang perjalanan pun saya tidak bisa tidur. Terlalu semangat hehehe … Malam nya kami berencana makan malam di cruise. Ceritanya Tokyo nya di postingan lanjutannya yaaa ๐Ÿ™‚

 

Iklan